Eksistensi Eksis Ga Sih? Eksistensialisme dalam Realitas Digital

Oleh: Agung Setiawan, S. Hum., M. Hum

Kita hidup dalam Burnout Society dan menghidupi mental breakdown dalam eksistensi kita pada era algoritma digital dan AI generatif sekarang ini. Setiap dialektika kita terkadang koeksisten dengan script dan proses prompt engineering bersama LLM (Large Languange Model). Originalitas karya manusia selalu akan diawasi dan berkembang di dalam AI dan Plagiarism checker serta legal framework hak kekayaan intelektual. Realitas digital menyediakan tesis dan antitesis sekaligus, baik menjadi jujur dalam berekspresi dan menciptakan simulakrum sendiri tetaplah menjadi konten komoditas dan personal branding, lalu dimanakah letak otentisitas kepengarangan dan eksistensi manusia itu sendiri? Dan apakah masih perlu mempersoalkan kembali status diri secara ontologis ataupun status ontis kita bersama yang liyan sedangkan setiap saat kita adalah kreator konten. Menjadi otentik adalah proses konkrit eksistensial yang tentunya berbeda dengan konsep otentisitas yang rawan pelabelan di ruang publik dengan mereduksi sesuatu yang harusnya organik menjadi komodifikasi industri.

Namun terkadang otentisitas menjadi estetika simulacra lengkap dengan panduan dan standar kulturnya. Ibaratnya Kierkegaard sebagai anak indie yang benci dengan konformitas pasar dan den menige mand namun justru mempertahankan otentisitas ke-indie-annya melalui konten sosial media dan selalu resah dengan jumlah like dan comment. Sama juga ibaratnya Heidegger yang aktif cancel culture namun menggantikan kedikatoran Das Man dengan model kalcer baru dengan konten kampanye Dasein sebagai subjekvitas kolektif semu yang baru. Heidegger mungkin melihat fenomena FOMO sebagai standarisasi hasrat baru dan jalan untuk memviralkan otentisitas itu sendiri. Otentisitas dijual kembali kepada kita dalam bentuk produk. Otentisitas dikurasi secara sadar demi tuntutan estetika simulakrum. Sartre akan melihat analoginya berupa pelayan cafe yang berpura-pura kaku demi perannya kini menjadi manusia modern yang berpura-pura selalu produktif, burnout dan mental breakdown. Setiap orang kini punya kecendrungan digital detox yang juga bukan otentisitas namun eskapisme terencana sebagai bagian tren JOMO.

Apakah kita masih mempertanyakan kesadaran radikal yang tumbuh di luar ekspektasi Das Man dan kurasi algoritma media sosial? Apakah kita masih berani untuk bebas dan memberontak pada Bad Faith sebagai bentuk keputusan dan tanggung jawab kita? Dan apakah kita siap terus menerus merangkul kecemasan dan kerentanan sebagai bentuk pernyaatan eksistensial yang jujur?.

Setidaknya ada tiga metode dekonstruksi yang berbeda dalam pencarian otentisitas dan jeda retakan bagi kesinambungan alienasi modern. Pertama melalui pembacaan fenomenologis dan eksistensialis sebagai sebuah katarsis yang lahir dari sunyi, luka, kehilangan dan proses merangkul Angst dengan konfrontasi langsung pada Gerede, konformitas toxic positivity dan banalitas. Dengan tujuan menemukan keaslian diri dalam sunyi yang meredupkan ekspektasi industri kebahagiaan modern. Kedua melalui pembacaan sosio-filosofis untuk mendekonstruksi simulakrum dan satire atas Das Man untuk membongkar komodifikasi manusia yang hanya dianggap ada selama eksis dalam segi fungsional serta menertawakan absurditas sistem sosial. Dengan tujuan menelanjangi topeng kepalsuan yang dipakai oleh masyarakat kontemporer. Ketiga melalui pembacaan religius terkait hubungan intim dengan The Self dan The Real itu sendiri melalui pengakuan total kerentanan dan ke-berserah-diri-an manusia sebagai identitas mutlak seorang hamba.

Agung Setiawan, S. Hum., M. Hum