Dengan AI mengubah ATM menjadi Automatic Campus Machine (ACM)

Oleh Tedi Lesmana Marselino

Suatu ketika saya menemukan layanan ‘print box’ di kampus. Berangkat dari situ saya jadi memiliki ide, jika ini dilengkapi dengan AI, mungkin kampus konvensional dapat dibuat menjadi Automatic Teller Machine (ATM).

Seperti kita tahu, jika pada mesin ATM kita memasukkan kartu, maka uang akan ke luar. Jika ide yang sama dibuat menjadi Automatic Campus Machine (ACM), kita cukup memasukkan uang (QRIS), unggah file seperti pada ‘print box’ lalu ijazah ke luar (hampir secepat pasar pramuka ketika masih ada).

Tidak perlu repot, tidak perlu tunggu 3-4 tahun studi, dapat diakses 24/7, dan bisa tersedia di mall-mall atau bahkan Indomaret atau Alfamart.

Bagaimana cara kerjanya?

Buka menu, pilih kampus, lalu pilih program studi. Pilih semester, dan pilih mata kuliah, muncul menu, tugas, UTS, dan UAS; Anda tinggal pilih, misal tugas, scan QR code, menuju halaman unggah, tautkan berkas pdf tugas; tunggu beberapa saat AI akan memeriksa dan menilai tugas Anda. Jika lolos ‘uji plagiarisme’ dan ‘uji karya manusia’ silakan lakukan lagi untuk UTS dan UAS. Jika semua valid, Anda langsung mendapatkan nilai untuk mata kuliah bersangkutan.

Dengan pola yang sama, tinggal mengulang untuk seluruh distribusi mata kuliahnya. Singkatnya ini adalah simulasi kampus masa depan dalam bentuk Automatic Campus Machine (ACM). Secara logika itu sangat mungkin dan teknologinya sudah ada. Hanya persoalan kebijakan saja, apakah mengizinkan atau tidak.

Sejatinya itu hanya percobaan pikiran, meskipun hanya di angan-angan percobaan pikiran tadi koheren dan mungkin. Faktanya itu sudah ‘mendekati terjadi’ dengan maraknya AI dalam proses pendidikan, meskipun belum dalam bentuk mesin ACM.

Proses pendidikan yang basa-basi akan semakin dilegitimasi dengan kebijakan dan teknologi, menjadi mesin cetak ijazah tanpa perlu proses pengalaman yang rumit, lama, dan otentik. Ini adalah kegemaran semangat kapitalisme, kalau bisa cepat kenapa harus lama? Terkait alasan pembenar, itu nanti bisa ‘dicari-cari’ biar terkesan ‘berbobot’.

Kita hidup di masyarakat modern yang mementingkan hasil daripada proses. Ini adalah semangat penumpukan modal kapitalisme. Jika AI memungkinkannya para kapitalis akan mencari-cari alasan memungkinkannya. Kalau tidak sekarang, mungkin sekali di masa depan.

Apakah kita ‘harap-harap cemas’ akan kemungkinan itu di masa datang?

Tedi Lesmana Marselino