Prompt Engineering dalam Perspektif Sosio-Religius

Oleh: Agung Setiawan, S. Hum., M. Hum.

Dampak dari pergeseran paradigma epistemologis yang awalnya dari institusi pengetahuan yang melembaga menjadi interaksi dialogis melalui AI generatif telah mengundang pertanyaan eksistensial terkait modus berada pengetahuan sekaligus modus berada manusia itu sendiri. AI terus menerus mengalami peningkatan tidak hanya melakukan peniruan terhadap dataset yang telah dilatih dan dipelajari, namun kemampuan intelegensia ini mampu membuat data baru dengan mengembangkan media komunikasi dua arah dengan manusia bernama prompt.  Prompt ini biasa kita gunakan dalam interaksi dengan AI generatif seperti ChatGPT untuk memberikan pertanyaan dan instruksi agar bisa direspons secara tepat dan kontekstual. Prompt merupakan bahasa alamiah bagi AI generatif untuk menonjolkan fungsi generatifnya bukan hanya mengerti namun sekaligus menghasilkan sesuatu. Hal ini dimungkinkan karena proses Generative Pre-Trained Transformer (GPT) berbasis model Large Language Model (LLM) yang terdapat dalam proses prompt engineering (Perrigo, 2023).

Prompt engineering adalah teknik instruksi linguistik ataupun media ekspresi bahasa dari prompt yang diberikan manusia dengan respons yang diberikan AI generatif. Sehingga terjadi penggiringan cara bernalar melalui struktur berbahasa dari AI generatif sesuai respons yang relevan, koheren dan kontekstual (Liu et al, 2023). Model ini jauh lebih komunikatif ketimbang sistem kecerdasan buatan lainnya berbasis sistem pencarian saja. Namun dalam perspektif diskursus kekuasaan Michel Foucault, prompt engineering justru mewadahi praktik diskursif dengan mempertemukan agen-agen kekuasaan dalam relasi kuasa-pengetahuan. Pola pengetahuan yang diproduksi dalam relasi ini mempertegas klaim Foucault bahwa pengetahuan tidaklah netral. Terlebih sifat interaktif dari rentetan proses tanya jawab manusia – AI generatif pasti menyebar tanpa otoritas tunggal merujuk pada keberadaan jejaring diskursus itu sendiri. Sehingga melalui proses ini, kita pun bisa melihat AI generatif juga berkontribusi dalam memproduksi dan mendistribusikan pengetahuan. Hal ini menunjukkan bahwa teknologi digital memiliki peran aktif dalam membentuk realitas sosial melalui seleksi informasi (Gillespie, 2014).

Manusia mampu beradaptasi dan juga meniru bahkan menyesuaikan cara berpikir dalam struktur bahasa AI generatif agar mendapatkan respons yang diinginkan. Sama halnya dengan manusia, bahasa bagi AI generatif pun merupakan hasil dialektis dari tradisi sejarah pengetahuan. Prompt engineering menjadi proses interaksi berkelindan yang membuktikan bahwa manusia dan mesin bisa berada pada status modus berada yang sama yang dimediasi oleh bahasa dan diskursus. Lalu apakah manusia kehilangan kemampuan otonomnya secara epistemik akan kita bicarakan lain hari. Pertanyaan mendesak yang ingin disampaikan adalah apakah prompt hanya sekedar perintah? Ataukah juga cara manusia mengenali dan memahami objek pengetahuan itu sendiri bahkan dirinya sendiri sebagai subjek.

Dalam perspektif agama, hal ini bisa langsung terjawab. Sebagai individu yang beriman, kita meyakini manusia bukan satu-satunya makhluk ciptaan Tuhan. Bahkan manusia secara spesifik hanya memiliki tugas untuk beribadah. Dalam proses ibadah itulah ia mengenal posisinya sebagai penjaga dan perawat alam semesta. Sehingga dalam kapasitas itu pula manusia bertanggung jawab secara sosial menciptakan harmonisasi koeksistensi dengan makhluk lain. Oleh karena itu implikasi logis modus berada manusia adalah berbuat dan menyebarkan kebaikan serta kebermanfaatan yang nantinya akan kembali pada dirinya sendiri. Proses ibadah atau mengabdi ini menjadi bentuk penyerahan total manusia pada kehendak Ilahi yang ditransformasikan dalam segala bentuk tindakan manusiawinya seperti belajar, bekerja, bermain, menikah, berkebun, berdagang, bahkan tindakannya untuk berinteraksi dengan ChatGPT. Sehingga semakin lama ia menyadari bahasa yang digunakan oleh Tuhan untuk berinteraksi dwngan dirinya, semakin dalam juga pemahamannya tentang diri sendiri. Hal itulah yang membedakan manusia dengan AI generatif. Manusia memang mengikuti perintah (prompt) berupa instruksi ibadah dan menjalani kehidupan disini dan nanti dalam teks ayat-ayat suci yang diturunkan, selain itu juga manusia berlatih mempelajari dan beradaptasi dengan dataset alam semesta yang juga merupakan ayat atau teks yang mesti harus selalu dibaca. Melalui pelatihan itu, manusia mampu menciptakan “bahasanya” sendiri entah itu dari penemuan, inovasi, peradaban ataupun sistem kebudayaan. Sama halnya seperti AI generatif, posisi subjek otonom manusia juga dipertanyakan dalam diskursus ini. Namun yang membedakan adalah kapasitas manusia untuk menjalani hidup yang aman dengan keyakinan dan kepatuhan pada prompt engineering ilahi, atau justru memutuskan menjalani hidup penuh bahaya dengan meragukan bahkan menolak prompt engineering tersebut.

Agung Setiawan