Ketika Mesin Mengambil Alih: Membaca Kartini di Era AI dan Kehilangan Kesadaran

Oleh: Cicilia Damayanti

Dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan kecerdasan buatan dan otomasi tidak lagi menjadi wacana masa depan, tetapi realitas sehari-hari. Dari aplikasi yang mengatur pekerjaan rumah tangga, algoritma yang membantu pengambilan keputusan, hingga mesin-mesin pintar yang menggantikan kerja manusia, teknologi semakin masuk ke ruang-ruang paling personal dalam kehidupan. Di Indonesia, dorongan pada digitalisasi dan efisiensi terus diperkuat, seolah menjadi penanda utama kemajuan.

Namun, di tengah percepatan ini, ada satu pertanyaan yang jarang diajukan secara serius: ketika semakin banyak aspek kehidupan diserahkan pada sistem dan mesin, apa yang terjadi pada manusia itu sendiri?

Perubahan ini dialami oleh semua orang, tetapi bagi perempuan, dampaknya memiliki lapisan yang berbeda. Bagi perempuan, perubahan ini kerap dibaca sebagai bentuk pembebasan. Pekerjaan domestik yang selama ini menyita waktu kini dapat dipermudah, bahkan digantikan. Robot pembersih, asisten virtual, hingga sistem otomatisasi menghadirkan efisiensi yang sebelumnya sulit dibayangkan. Di satu sisi, teknologi membuka ruang baru—pekerjaan menjadi lebih ringan, waktu dan energi seperti dikembalikan. Namun justru di titik itu muncul kegelisahan yang tidak mudah dijelaskan: ketika hidup menjadi lebih mudah, mengapa justru semakin sulit untuk merasa cukup?

Kemudahan menghadirkan kecepatan. Segala sesuatu bergerak lebih cepat, lebih singkat, lebih instan. Video dipercepat, informasi diringkas, dan perhatian terus berpindah. Kebiasaan menggulir layar menjadi refleks sehari-hari—bukan karena tidak ada yang baru, tetapi karena yang ada jarang benar-benar memuaskan. Setiap konten dilewati dengan harapan menemukan sesuatu yang lebih menarik di berikutnya, tetapi yang datang justru pengulangan tanpa kedalaman. Bahkan ketika sesuatu terasa menarik, keinginan untuk bertahan sering kalah oleh dorongan untuk segera berpindah.

Di titik ini, kebosanan tidak lagi lahir dari kekosongan, melainkan dari kelebihan. Terlalu banyak yang tersedia, tetapi terlalu sedikit yang mampu membuat manusia berhenti. Segala sesuatu cepat hadir, tetapi juga cepat hilang. Tidak ada cukup waktu—atau mungkin tidak ada cukup kesabaran—untuk tinggal lebih lama dalam satu pengalaman.

Akibatnya, muncul kehilangan yang lebih halus: hilangnya kemampuan untuk bertahan dalam satu hal, untuk memberi perhatian secara utuh, dan untuk membiarkan sesuatu berkembang menjadi pengalaman yang bermakna. Hidup dipenuhi oleh rangkaian hal baru, tetapi tanpa kesinambungan yang cukup untuk membentuk kedalaman.

Dalam kondisi seperti ini, manusia tidak hanya menjadi terbiasa dengan kecepatan, tetapi juga menjadi bergantung padanya. Yang lambat terasa membosankan, yang sunyi terasa mengganggu, dan yang membutuhkan proses terasa terlalu berat. Padahal justru di situlah, selama ini, makna sering kali tumbuh.

Di tengah pola konsumsi yang serba cepat ini, ruang digital tidak hanya membentuk cara manusia memperhatikan, tetapi juga cara tubuh—terutama tubuh perempuan—diproduksi, dilihat, dan dieksploitasi.

Dalam konteks yang lebih luas, perkembangan ini berjalan beriringan dengan ruang digital yang semakin tidak terkendali. Tubuh perempuan, yang sejak lama menjadi objek eksploitasi, kini menghadapi bentuk baru melalui teknologi. Dengan kemajuan kecerdasan buatan—termasuk kemampuan menghasilkan dan memanipulasi gambar serta identitas—risiko eksploitasi tidak lagi terbatas pada ruang fisik, tetapi meluas ke ruang virtual yang sulit diawasi. Nama-nama teknologi baru terus bermunculan, tetapi perlindungan terhadap perempuan tidak selalu berkembang secepat itu.

Di sinilah peran negara menjadi krusial. Ketika kebijakan digital lebih menekankan pada percepatan inovasi dan pertumbuhan, pertanyaan tentang perlindungan, etika, dan keberpihakan sering kali tertinggal. Bahkan ketika posisi strategis diisi oleh perempuan, keberpihakan itu tidak otomatis hadir. Representasi tidak selalu berarti transformasi. Perempuan dalam kekuasaan tetap dapat terjebak dalam logika sistem yang sama—logika yang melihat teknologi sebagai capaian, tetapi belum sepenuhnya sebagai ruang yang harus diamankan bagi mereka yang paling rentan.

Kartini tidak pernah membayangkan dunia digital seperti hari ini, tetapi kegelisahannya tentang kemanusiaan tetap relevan. Pendidikan yang diperjuangkan bukan sekadar membuka akses, melainkan membentuk manusia yang memiliki kesadaran, kepekaan, dan keberanian untuk berpihak. Dalam dunia yang semakin otomatis dan terdigitalisasi, tantangannya justru bergeser: bukan lagi sekadar bagaimana perempuan memperoleh ruang, tetapi bagaimana ruang itu digunakan untuk menjaga nilai-nilai kemanusiaan.

Jika Kartini hadir hari ini, mungkin pertanyaannya bukan lagi tentang apakah perempuan sudah merdeka, tetapi apakah kemerdekaan itu masih memiliki arah. Apakah teknologi digunakan untuk memperluas kepedulian, atau justru menjauhkan manusia dari sesamanya. Apakah kemudahan yang diciptakan benar-benar memerdekakan, atau perlahan membuat manusia hidup tanpa keterlibatan dan tanpa tanggung jawab.

Pada akhirnya, persoalannya bukan pada mesin, bukan pula pada kemajuan itu sendiri. Persoalannya adalah apakah di tengah semua itu, manusia—terutama perempuan yang dahulu diperjuangkan—masih memilih untuk hadir dengan kesadaran, dengan kepekaan, dan dengan keberanian untuk membela yang lain.

Sebab ketika hidup hanya diukur dari seberapa cepat dapat bergerak, yang hilang bukan hanya kedalaman, tetapi juga kemampuan untuk bertahan—dan tanpa itu, tidak ada yang cukup lama untuk diuji, apalagi diperjuangkan.

Cicilia Damayanti