Habis Data, Terbitlah Sovereignty
Oleh: Cicilia Damayanti
Setelah bertahun-tahun menjadi pasar digital terbesar di Asia Tenggara, pemerintah diam-diam menyelesaikan migrasi besar-besaran data nasional ke pusat server dalam negeri. Infrastruktur cloud nasional diperkuat. Regulasi transfer data lintas batas diperketat. Talenta-talenta muda di bidang cybersecurity direkrut untuk memperkuat sistem perlindungan data publik.
Komunitas ethical hacker Indonesia berkembang pesat. Mereka tidak lagi sekadar ikut kompetisi global, tetapi menjadi penjaga infrastruktur nasional. Serangan siber berhasil ditepis. Kebocoran data ditekan drastis. Platform global mulai menyesuaikan diri dengan regulasi domestik.
Untuk pertama kalinya, Indonesia tidak lagi hanya menjadi pengguna algoritma, tetapi ikut menentukan arah ekosistem digitalnya sendiri.
Kedaulatan data akhirnya berdiri. Habis data, terbitlah sovereignty.
Bangsa dengan populasi digital sebesar Indonesia tentu memiliki kapasitas untuk bangkit. Generasi mudanya kreatif, adaptif, dan cerdas. April adalah bulan yang tepat untuk merayakan itu—bulan ketika dunia merayakan kreativitas melalui World Creativity and Innovation Day yang ditetapkan oleh United Nations.
April juga mengingatkan pada perjuangan Raden Ajeng Kartini, yang percaya bahwa pengetahuan adalah jalan menuju kemandirian. Jika pada abad ke-20 perjuangannya adalah literasi, maka pada abad ke-21 perjuangannya bertransformasi menjadi literasi digital dan kedaulatan data.
Semua tanda menunjukkan bahwa arah sejarah sedang berubah. Indonesia siap berdaulat secara digital.
Happy April Fool’s Day…..
Tanggal 1 April selalu mengingatkan bahwa tidak semua yang terdengar indah adalah kenyataan. Tetapi ironi terbesar bukan pada candanya, melainkan pada kenyataan bahwa bangsa ini memang merindukan dan membutuhkan kedaulatan tersebut.
Belum ada migrasi besar-besaran yang benar-benar membuat Indonesia sepenuhnya mandiri secara infrastruktur digital. Belum ada lompatan kolektif yang secara radikal memutus ketergantungan pada ekosistem global. Belum ada “momen kebangkitan” yang bisa dirayakan dengan percaya diri.
Yang ada justru sebaliknya: pasar yang terus tumbuh, konsumsi digital yang terus meningkat, dan aliran data yang sebagian besar masih bergerak melintasi batas negara tanpa kontrol penuh.
Pada kenyataan bahwa kisah itu terasa sangat mungkin. Terasa masuk akal. Terasa dekat.
Artinya, imajinasi tentang kedaulatan digital bukan hal yang mustahil, tetapi hanya belum diperjuangkan dengan keseriusan yang sama seperti dulu memperjuangkan kemerdekaan politik.
Kartini pernah menulis dalam Habis Gelap Terbitlah Terang bahwa terang tidak datang tanpa usaha. Jika hari ini gelapnya berbentuk algoritma dan ketergantungan infrastruktur, maka terang abad ini bernama kedaulatan data.
Setiap zaman punya bentuk penjajahannya sendiri.
Dulu kapal-kapal datang membawa meriam dan perjanjian dagang. Hari ini penjajahan tidak datang dengan suara tembakan, melainkan dengan notifikasi.
Yang diperebutkan bukan lagi tanah dan rempah, tetapi data.
Setiap pencarian, setiap unggahan, setiap kebiasaan menonton, setiap emosi yang terekam oleh algoritma adalah sumber daya. Data bukan sekadar jejak digital; data adalah komoditas, kuasa, dan arah masa depan.
Kolonialisme dulu datang dengan kapal. Kolonialisme hari ini datang dengan server.
Dan jika tadi tulisan ini terasa seperti kabar baik, mungkin itu karena diam-diam ada kerinduan kolektif untuk benar-benar berdaulat.
Habis data, terbitlah sovereignty?
Belum.
Tapi mungkin, April Fool’s Day tahun ini kedaulatan data justru menjadi pertanyaan yang paling serius. Apakah kesadaran kolektif tentang kedaulatan data cukup kuat untuk mendorong kebijakan, infrastruktur, dan keberanian politik yang konsisten?