Don’t Treat God Like an Emergency Call

Oleh: Linda Mutiara Lumban Tobing, S.Th., S.PdK., MA.CE


Dalam perjalanan iman Kristen, sering kali seseorang tanpa sadar mengalami pergeseran fokus rohani. Banyak orang datang kepada Tuhan karena kebutuhan, pergumulan, sakit penyakit, tekanan ekonomi, atau masalah keluarga. Mereka berharap Tuhan bertindak melalui mujizat, membuka jalan, dan memberikan pertolongan secara ajaib. Tidak ada yang salah dengan datang kepada Tuhan membawa kebutuhan, sebab Alkitab sendiri mengajarkan bahwa Tuhan adalah Bapa yang peduli dan sanggup menolong umat-Nya. Namun, persoalan muncul ketika hubungan dengan Tuhan berhenti hanya pada pencarian mujizat semata. Iman menjadi dangkal karena berakar pada sensasi, bukan relasi.

Mujizat sesungguhnya adalah pintu masuk, bukan tujuan akhir. Mujizat merupakan tanda kasih dan kuasa Tuhan yang mengarahkan manusia kepada Pribadi-Nya. Ketika Yesus memberi makan lima ribu orang, banyak orang kagum dan mengikuti-Nya. Namun, ketika Yesus mulai berbicara tentang komitmen, penyerahan diri, dan hidup yang kekal, banyak orang mundur. Yohanes 6:66 mencatat, “Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia.” Ayat ini menunjukkan bahwa banyak orang tertarik kepada berkat, tetapi tidak siap mengenal Sang Pemberi Berkat secara mendalam.

Bahaya besar terjadi jika iman hanya dibangun di atas mujizat. Saat doa tidak segera dijawab, hati mudah kecewa. Saat kesembuhan belum datang, seseorang mulai meragukan kasih Tuhan. Saat pintu yang diharapkan tertutup, iman menjadi goyah. Hal ini terjadi karena dasar iman bukanlah karakter Tuhan, melainkan hasil yang diinginkan. Jika seseorang hanya mencari tangan Tuhan, ia akan kecewa ketika tangan itu tampak diam. Namun jika ia mencari wajah Tuhan, ia tetap setia sekalipun keadaan belum berubah.

Kekristenan sejati adalah tentang relationship, bukan transaction. Tuhan rindu agar umat-Nya mengenal hati-Nya, memahami kehendak-Nya, dan berjalan bersama-Nya setiap hari. Relasi dengan Tuhan dibangun melalui doa, pembacaan firman, penyembahan, ketaatan, dan kesetiaan dalam proses hidup. Hubungan seperti ini tidak tergantung pada situasi. Ketika hidup sedang diberkati, ia bersyukur. Ketika sedang dalam lembah air mata, ia tetap percaya. Sebab yang dicari bukan sekadar mujizat, tetapi kehadiran Tuhan itu sendiri.

A.W. Tozer menekankan bahwa inti kehidupan rohani adalah mengejar Allah, bukan hanya mengejar pemberian-Nya. Dietrich Bonhoeffer juga mengingatkan bahwa mengikut Kristus berarti menerima panggilan untuk setia, bukan hanya menikmati kenyamanan. Iman yang dewasa tidak dibangun dari sensasi sesaat, tetapi dari pengenalan yang mendalam akan Tuhan.

Pada akhirnya, mengenal Pribadi Tuhan jauh lebih penting daripada sekadar mengalami mujizat-Nya. Mujizat bisa terjadi sesaat, tetapi hubungan dengan Tuhan membawa damai sejahtera yang kekal. Orang yang mengenal Tuhan tidak menjadi pengikut musiman. Ia tetap bertahan dalam badai, sebab ia tahu kepada siapa ia percaya. Ketika relasi menjadi pusat iman, hati akan menemukan ketenangan yang tidak tergantung keadaan. Itulah damai sejati yang hanya ditemukan di dalam Tuhan.

 Referensi:

Alkitab Terjemahan Baru. Lembaga Alkitab Indonesia. Yohanes 6.

Bonhoeffer, D. (2015). The Cost of Discipleship. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Tozer, A. W. (2017). The Pursuit of God: Pengejaran akan Allah. Jakarta: Gandum Mas.

Linda Mutiara Lumban Tobing, S.Th., S.PdK., MA.CE