Supersemar dan Pembangunan Bangsa

Oleh:  Silverius CJM Lake

Tidak ada bangsa yang terus berkembang, maju, dan berkelanjutan jika menghindar dari sejarahnya. Sejarah yang dimaksud pada fokus ini adalah Surat Perintah 11 Maret 1966. Presiden Sukarno mengeluarkan Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) kepada Jenderal Soeharto supaya secara hukum memiliki kewenangan mengatasi keadaan serta memulihkan kewibawaan Presiden. Secara historis Supersemar menjadi titik tolak Orde Baru. Selanjutnya, Orde Baru adalah 1) Tatanan kehidupan rakyat, bangsa, dan negara yang diletakkan pada pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945. 2) Kemudian Orde Baru melakukan koreksi total penyelenggaraan segala bidang pada masa lampau serta berusaha menyusun kekuatan bangsa untuk menumbuhkan stabilitas nasional, dan memercepat pembangunan bangsa berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 (Sejarah Nasional Indonesia VI, 1976).

60 Tahun Supersemar menunjukkan legitimasi pembangunan bangsa serta pengelolaan aset bangsa secara berkelanjutan. Pembangunan berdasarkan tujuan nasional dimulai dari Presiden Sukarno, dilanjutkan Presiden Soeharto, kemudian Presiden BJ Habibie, dan seterusnya Presiden Abdurrahman Wahid, Presiden Megawati Sukarnoputri, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden Joko Widodo sampai dengan sekarang Presiden Prabowo Subianto. Terdapat program-program unggulan dari setiap presiden secara struktural dan fungsional. Yang dikemukakan di sini adalah program pemerintahan Presiden Soeharto karena sangat dekat dengan Supersemar.

Konsentrasi pembangunan bangsa pada masa Pemerintahan Presiden Soeharto tentu saja masih diingat dengan baik dan jelas. Yang diingat antara lain Trilogi Pembangunan dan Repelita serta hasil Pelita tersebut. Trilogi Pembangunan antara lain; 1) Konsentrasi pada stabilitas nasional. 2) Pemerintah dan swasta berperan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. 3) Membangun dan mengelola aset bangsa melalui pemerataan pembangunan serta pemerataan hasil-hasil pembangunan. Ketiga hal tersebut merupakan struktur pedoman yang berpengaruh untuk membangun Indonesia. Komposisi dan korelasi antara Repelita, Trilogi Pembangunan, dan Delapan Jalur Pemerataan pada masa Orde Baru, ketika itu menunjukkan pencapaian ekonomi yang spektakular 8% (Carunia Mulya Firdausy, 2016).

Pembangunan bangsa sekarang pun mencita-citakan pertumbuhan ekonomi 8%. Hal ini akan tercapai jika belajar dari sejarah pembangunan bangsa melalui independensi, teknokrasi, meritokrasi, kreativitas, aktivitas, serta memertimbangkan risiko dan pengendaliannya. Tugas dan peranan tersebut tentu saja bukan hal-hal yang impossible bagi bangsa dan negara RI kita tercinta. We trust, RI ke depan akan lebih baik dan lebih efektif. Semoga semakin banyak yang mau membangun Indonesia era sekarang. Selamat Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447H mohon maaf lahir batin. Selamat memasuki Pekan Suci – Minggu Paskah 2026. Selamat Memeringati 60 Tahun Supersemar. Selamat HUT Manager CBDC, Assoc. Prof. Dr. Frederikus Fios,11 Maret 2026. God Bless Indonesia.

Silverius CJM Lake