Pengampunan itu Memberi Ruang Perbaikan

Oleh: Arcadius Benawa

Di dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, khususnya pada Kitab Nabi Daniel diceritakan kisah tentang Susana (Dan. 13:1-9, 15-17, 19-30, 33-62).  Dalam kisah itu mau diwartakan bahwa Allah ada di pihak orang yang benar, yakni Susana. Allah berkenan menggunakan Daniel untuk menyelamatkan Susana. Dengan pembuktian terbalik terhadap kedua orang tua-tua yang memberikan tuduhan palsu itu, Daniel berhasil membuktikan bahwa kedua orang tua-tua itulah yang justru bersalah. Maka Daniel berkata pada keduanya: “Hai engkau, yang sudah beruban dalam kejahatan, sekarang engkau ditimpa dosa-dosa yang dahulu telah kau perbuat” (Dan. 13:52).

Dalam Perjanjian Baru diwartakan bahwa keselamatan boleh dialami oleh orang yang berdosa berkat pengampunan Tuhan. Perempuan yang berdosa tidak dihukum, melainkan diampuni (Yoh. 8:1-11). Selain dua perbandingan tersebut, kita juga bisa melihat bahwa kedengkian, hawa nafsu, dan sejenisnya itu cenderung membuat kita untuk memasang jerat-jerat hukum untuk orang lain demi keselamatan diri. Itulah sikap kita orang berdosa yg direpresentasikan dengan sikap para ahli taurat dan orang parisi maupun orang tua-tua dalam kisah Susana. Oleh kebenciannya mereka mau membinasakan atau membunuh Yesus yang keberadaan-Nya dipandang sebagai duri dalam daging. Mereka menghadapkan seorang perempuan yg kedapatan berzinah kepada Yesus.

Para ahli Taurat tahu bahwa bangsa Yahudi yang pada waktu itu berada di dalam cengkeraman penjajahan Romawi dilarang menjatuhkan hukuman mati tanpa seizin penguasa Romawi. Mereka juga menghadapkan Yesus pada ketetapan hukum Musa atau hukum agama di kalangan bangsa Yahudi pada waktu itu bahwa perempuan yang kedapatan berzinah harus dirajam. “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?” (Yoh. 8:3-5). Dengan perkara itu titik bidik sebetulnya adalah Yesus. Kalau saja Yesus bisa diperdaya dengan menyetujui, Ia akan dihadapkan kepada penguasa Romawi. Namun, bila Yesus tidak menyetujui, Ia akan dipandang melawan hukum Musa atau hukum agama bangsa Yahudi.

Dalam situasi disudutkan seperti itu Yesus tidak panik. Ia justru mengajak khalayak untuk masuk dalam keheningan, untuk dapat masuk ke dalam relung batin masing-masing dengan Ia asyik menulis di tanah. Dan ketika mereka selesai masuk dalam keheningan dan mereka tetap menuntut, Yesus menyerukan buah keheningan: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu” (Yoh. 8:7). Mereka pun mati kutu. Tak seorang pun yang merasa tidak berdosa. Maka mereka pun meninggalkan Yesus mulai dari yang tertua. Dan yang menarik bahwa Yesus juga tidak menghukum perempuan itu, melainkan mengampuni. “Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?” Jawabnya: “Tidak ada, Tuhan.” Lalu kata Yesus: “Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” (Yoh 8:11).

Dari kedua kisah perempuan di dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru itu dapat kita petik hikmahnya. Bahwa Allah tidak hanya menyelamat orang benar, namun juga orang berdosa. Bahwa pengampunan itu tidak membenarkan yang salah, melainkan menyediakan ruang untuk mengubah kesalahan menjadi keberkahan. Tanpa pengampunan orang tersekat di dalam ruang ketakberdayaannya. Penyelamatan justru ketika yang bersalah diampuni dan diberi kesempatan untuk meralat kesalahan dan dosanya. Mari kita tidak lagi gampang melihat salah dan dosa orang lain, namun juga tidak membutakan diri dari perbuatan salah dan dosa. Tuhan mau supaya kalau kita berdosa atau berbuat salah, kita mengaku salah dan bertobat, sebab Tuhan itu tidak menghakimi dan tidak menghukum kita, melainkan mengampuni. “Aku pun tidak menghukum engkau” (Yoh 8: 11). Tuhan kita bukanlah Tuhan yang suka menghakimi dan menghukum, melainkan Tuhan yang senantiasa mengasihi, memberkati dan mengampuni. Hanya memang, pengampunan dari Tuhan itu selalu dengan ajakan. “Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi!” (yoh 8: 11). Tuhan mengampuni dosa kita dengan satu pesan, yaitu supaya kita tidak berbuat dosa lagi.

Arcadius Benawa