Apakah Agentic AI akan Dibiarkan Mengambil Alih Formasi Belajar?

Oleh: Tedi Lesmana Marselino

Ini bukan tentang LLM, bukan tentang RAG, bukan tentang AI Agent, tetapi tentang Agentic AI. Ketika Agentic AI (lihat: https://youtu.be/DXLHaLua-Mw) sudah mapan, ‘ia’ akan menjadi ‘pelayan’ canggih yang dapat melayani manusia dengan semboyan “It’s already been done boss!” Bahkan ketika bosnya masih tidur dan tidak tahu apa yang sudah dibereskan itu.

Jika AI Agent bekerja seperti ‘biro jasa’: Tolong perpanjang STNK! Ini uangnya, ini BPKB-nya dan KTP. Satu minggu kemudian semua sudah dikembalikan dengan perpanjangan STNK dan pembayaran pajak 1 tahun ke depan. Agentic AI, akan memeriksa masa berlaku STNK, memperpanjang otomatis, membayar otomatis, dan langsung memberitahu pemilik kendaraan bahwa semua sudah beres, meskipun pemilik kendaraan lupa kalau waktunya memperpanjang STNK sudah tiba.

Ini seperti ketika Agentic AI melihat semua KPI Anda pertahun ini, lalu langsung membuatkan semuanya dan melaporkannya pada seluruh sistem yang ada. Anda tahu beres. Wow, sehebat itu? Ya dalam konteks computer automation memang ada situasi seperti itu (karena itulah Agentic AI ini dibuat dengan tujuan itu salah satunya). Tentu ada prasyarat otoritas inisiatif mandiri yang didelegasikan.

Mungkin ada yang bertanya, “Ah masak sih? Canggih betul, apakah benar-benar mungkin itu (sambil harap-harap senang dalam hati)?” Ya, mungkin. Jika integrasi digitalnya sudah 100%, secara teoretis itu mungkin.

Itu gambaran sederhana kemungkinan yang mulai terjadi. Lalu pertanyaannya apa relevansinya pada dunia pekerjaan dan pembelajaran? Bagi dunia pekerjaan, ini tentu ‘holy grail‘ tetapi bagi sistem belajar-mengajar, apakah ini kiamat?

Belajar berenang adalah terjun ke air, mengapung dan menggerakan seluruh tubuh. Bukannya meminta ‘joki’ terjun berenang dan pelajarnya yang mendapat sertifikat berenang. Belajar piano adalah memainkan  tuts-tuts dengan berlatih harmoni ketukan dan otot-otot jari. Bukannya menggunakan ‘joki’ yang memainkan seluruh simfoni pada pianonya sedangkan pelajarnya yang menerima sertifikat.

Ironisnya sistem pendidikan saat ini memungkinkan joki-joki elektronik ini melakukan fungsi tadi. Ada kesulitan teknis mencegah ‘penyalahgunaannya’ di luar konteks yang tepat. Himbauan moral bukanlah pengkondisian yang membatasi. Manusia terlalu bebal dengan metode moralitas yang ‘tampak usang’ dan tak berdaya dalam dunia modern yang pragmatis. Oleh sebab itu hukuman mati di Tiongkok untuk pelaku korupsi adalah kebosanan terhadap manusia bebal yang tidak dapat dihimbau lagi.

Dunia pendidikan pun mengalami kesulitan. Lalu melakukan manuver kebijakan, jika sulit dicegah, lebih baik ‘diakomodir’ secara ketat. Yang penting peserta bayar kursusnya dan siap diberikan sertifikat. Negara mencatat pencapaian karyanya, siapa yang lulus, dan luaran lainnya. Dari semua itu keyakinan akan otentisitas prosesnya menjadi rendah.

Ada ambivalensi kebijakan dalam penggunaan teknologi ‘joki’ elektronik. Di satu sisi semua pihak mengalami dilema FOMO karena takut dianggap tidak pro kemajuan. Di lain sisi ada ‘ancaman’ nyata bahwa teknologi ini mendegenaratif ontentisitas proses formasi pendidikan (yang sudah lama kurang dipedulikan oleh pemerintah juga). Padahal pendidikan adalah proses formasi, bukan hanya kapasitas produksi (output) seperti pada pabrik barang jadi.

Ada negara eropa yang menerapkan strategi ‘kembali ke dasar’. Membaca buku, menyingkirkan perangkat digital, menulis, dan berdiskusi. Ini seperti ‘intermitten fasting‘ dunia digital. Tetapi memang proses pendidikan konvensional itu lama, berat, dan ‘mahal’. Ini tentu membutuhkan banyak energi. Tetapi belajar berenang selamanya selalu harus manusia yang terjun ke air bukan robot joki yang berenang. Formasi pendidikan adalah otak dan tubuh yang ‘mengalami’ bukan sekedar menjadi ‘saksi’. Situasinya seperti kalkulator yang menurunkan ketrampilan manusia berhitung.

Jika sertifikat yang dibagikan lebih terasa sebagai certificate of completion (sudah selesai mengikuti kursus) daripada certificate of qualification (sudah lolos kualifikasi tertentu). Apakah sistem pendidikan model ini masih relevan terus dipertahankan? Kita hanya memproduksi gelar untuk status sosial. Bangsa ini sepertinya ‘terperangkap’ dalam masyarakat industri yang membajak makna eksistensi manusia sebatas instrumen pabrik dan ‘barang jadi’ bersertifikat.

Tedi Lesmana Marselino