Sejarah Agama Adalah Juga Sejarah Tentang Revolusi

Oleh: Agung Setiawan, S. Hum., M. Hum.

Stigma terhadap agama sebagai sebuah institusi kaku, ketat, memanfaatkan doktrin sebagai pondasi sangat banyak melekat pada kebanyakan orang. Seakan berbicara tentang agama akan selalu identik dengan ritual dan pandangan dogmatis tentang kehidupan ideal. Oleh karena itu tak jarang agama selalu dikesampingkan untuk urusan nyata dan profan terkait transformasi sosial, ekonomi, budaya hingga politik. Hal tersebut terjadi bukan tanpa sebab, agama sebagai sebuah institusi paling sering dilihat melalui eksistensi para pemuka agamanya saja sehingga terkesan para pemuka agama adalah representasi langsung dari agama itu sendiri. Padahal salah satu unsur utama dalam sebuah agama terletak pada eksistensi kitab suci sebagai sumber pengetahuan dan bukan hanya sebagai sumber ritual. Sederhananya, setiap kebenaran yang termaktub di dalam kitab suci seharusnya sudah adaptif dan reliabel dengan kondisi umat dimanapun dan kapanpun sehingga bisa diverifikasi, justifikasi bahkan bisa difalsifikasi ketika mencari sebuah pembuktian.

Adapun para tokoh keagamaan tidak semuanya sempurna dan terlepas dari keterikatannya dengan dunia dalam bentuk apapun, kecuali para tokoh sentral agama yang merupakan penggerak revolusioner. Akhir-akhir ini beberapa pembesar agama tak luput dari sekian banyak kasus kejahatan,baik dari pelecehan hingga korupsi yang merugikan umat. Agama menjadi sekedar komoditas maupun gimmick bagi beberapa pembesar agama tersebut  baik dari spektrum radikalisme hingga spektrum formalisme. Walhasil, nama agama tercoreng dan tercerabut dari realitas kepedulian sosial hingga berasosiasi dengan institusi anti-kritik yang dahulu dikritiknya.

Hampir semua agama besar lahir sebagai respons radikal terhadap krisis zamannya. Ia muncul di tengah ketimpangan, penindasan, dan krisis kemanusiaan. Karena itu, sejarah agama sejatinya adalah sejarah revolusi—bukan selalu revolusi bersenjata, melainkan revolusi kesadaran, nilai, dan keberpihakan moral. Setiap agama besar hadir sebagai gangguan terhadap tatanan lama. Para nabi dan pembawa ajaran agama datang bukan untuk mengukuhkan status quo, tetapi untuk meruntuhkannya. Mereka menggugat kekuasaan yang menindas, ekonomi yang eksploitatif, dan moralitas yang melayani segelintir elite. Seruan keesaan Tuhan adalah seruan pembebasan: bahwa tidak ada manusia yang berhak dipertuhankan, tidak ada struktur sosial yang layak disembah. Dalam tradisi Abrahamik, pesan ini jelas. Musa berdiri melawan tirani Firaun, membawa narasi pembebasan bagi budak-budak. Isa menantang kemapanan religius dan ekonomi, mengecam hipokrisi para pemuka agama dan keberpihakan pada kaum miskin. Muhammad mengguncang struktur jahiliah yang berbasis kabilah, riba, dan penindasan, membangun masyarakat yang berlandaskan keadilan, kesetaraan, dan tanggung jawab sosial.

Dalam tradisi Buddha, revolusi dimulai dari penolakan Siddhartha Gautama terhadap kemewahan istana dan sistem kasta yang membekukan martabat manusia. Pencerahan Buddha adalah revolusi kesadaran: penderitaan tidak disebabkan oleh takdir ilahi atau status sosial, melainkan oleh keterikatan dan keserakahan. Hindu, meskipun sering dipersepsikan sebagai tradisi konservatif, juga mengandung denyut revolusioner. Gerakan Bhakti, misalnya, menentang dominasi ritual dan hierarki kasta dengan menekankan hubungan langsung dan personal dengan Yang Ilahi. Sementara itu, Konghucu menghadirkan revolusi yang berbeda: revolusi etika dan tata kelola. Di tengah kekacauan politik Tiongkok kuno, Kongzi (Konfusius) menolak kekuasaan yang bertumpu pada kekerasan dan ketakutan. Ia memperkenalkan gagasan bahwa legitimasi pemimpin lahir dari kebajikan (ren), keadilan, dan teladan moral. Ini adalah revolusi terhadap tirani, menggantikan dominasi kekuatan dengan tanggung jawab etis. Negara tidak ditegakkan oleh pedang, melainkan oleh karakter.

Pertanyaannya bukan apakah agama pernah revolusioner, tetapi apakah ia masih berani bersuara melawan ketidakadilan hari ini: ketimpangan ekonomi, kerusakan ekologis, rasisme, dan kekerasan struktural. Jika agama berhenti menggugat ketidakadilan, ia berhenti setia pada sejarahnya sendiri. Sebab agama yang sejati tidak dilahirkan untuk menenangkan nurani penguasa, melainkan untuk menggugah kesadaran manusia. Dalam pengertian inilah, sejarah agama selalu dan seharusnya tetap menjadi sejarah tentang revolusi.

Agung Setiawan, S. Hum., M. Hum.