Puasa Kata
Oleh: Arcadius Benawa
Pernahkah kita secara sadar atau tidak sadar terlibat dalam pembicaraan yang berbusa-busa, ketika kita membicarakan keburukan orang, entah ia itu teman, saudara, atasan atau bawahan kita, bahkan orang tua kita? Atau mengapa kita begitu bersemangat untuk menimpali omongan partner bicara kita kalau ia bicara tentang sesuatu yang membanggakan atau lebih tepat meninggikan diri kita? Mungkin kecenderungan itulah yang menyebabkan munculnya fenomena semakin maraknya ujaran kebencian/hate speech ataupun kabar bohong/hoax di media sosial kita.
Untuk melawan arus seperti itu Bapa Suci Paus Leo XIV – dalam pidato kepada Umat Katolik yang sejak tanggal 18 Februari 2026 memasuki masa Prapaskah atau masa Pantang dan Puasa – mengajak seluruh Umat Katolik untuk Berani Berpuasa Kata-kata, terutama kata-kata yang negatif, kata-kata yang sarat kebencian, kata-kata fitnah, kata-kata tanpa makna alias omong kosong.
Secara fisiologispun kita tercipta dengan satu mulut dan dua telinga yang kiri dan yang kanan. Fenomena fisik seperti itu kiranya juga bisa kita maknai bahwa Tuhan Sang Pencipta menghendaki agar kita lebih banyak mendengar daripada berkata-kata. Minim, kita perlu lebih dahulu mendengarkan sebelum kita berbicara, entah mendengarkan bisikan suara hati, ataupun mendengarkan tuntunan nalar ataupun logika pemikiran kita sebelum berkata-kata. Maka kita juga prihatin kalau sampai seorang pemimpin tidak menjadi teladan dalam berkata-kata atau ngawur dalam berujar. Warga akan bertanya-tanya: Mengapa pemimpin kita tidak bisa membedakan mana halusinasi dan mana yang berbasis data dan fakta yang real?
Pesan Paus Leo XIV di awal masa Prapaskah ini kiranya dilandasi akan fakta yang memrihatinkan akan maraknya hate speech/ujaran kebencian maupun kabar bohong/hoaks, yang lebih menimbulkan kegaduhan daripada kedamaian. Kita diajak untuk berani sejenak kembali ke ruang batin kita yang paling dalam sebelum berkata-kata. Apakah kata-kata kita itu akan lebih menimbulkan semangat pada sesama kita, atau malah hanya akan mengendorkan semangat sesama kita, atau bahkan mematahkan semangatnya.
Puasa kata yang negatif perlu untuk mengendalikan diri kita dari kecenderungan meninggikan diri sendiri dengan merendahkan yang lain. Sebaliknya, agar kita lebih berkata-kata yang mengempower, mengencourage, memotivasi serta menginspirasi sesama kita untuk lebih berkembang menuju kesempurnaan. Hendaklah kamu sempurna, seperti Bapamu di sorga sempurna (Mat. 5: 48), yakni kalau kita semakin mengasihi sesama kita, bukan mengguncingkannya, bukan menegativir, apalagi memfitnahnya.
Yesus disalibkan pun akibat para elit bangsa Yahudi waktu itu memfitnah Yesus. Akibat ujaran kebencian yang dikobarkan para elit bangsa dan tokoh agama sezaman-Nya, massa tak kuasa untuk serentak berteriak: Salibkan Dia, meskipun Pilatus sudah berkata “Aku tidak menemui kesalahan apapun pada-Nya!” (Yoh 18:38)
Semoga laku pantang dan puasa kita di masa Prapaskah atau masa puasa yang juga akrab diistilahkan sebagai masa Retret Agung selama 40 hari ini sungguh menjadi kesempatan bagi kita untuk berpuasa kata yang negatif, yang tidak benar, yang tidak baik untuk diri maupun sesama kita. Semoga.