Pensées dan Kita
Oleh: Markus Kurniawan
Blaise Pascal (1623-1662) jenius yang hidup pada abad ke-17. Ia antara lain mewariskan sebuah diagnosa eksistensial melalui fragmen-fragmen dalam Pensées. Inti dari kegelisahan Pascal adalah posisi manusia yang terjepit di antara Dua Kutub Tak Terbatas, yaitu kemahaluasan alam semesta (the infinitely great) dan kemahakecilkan struktur materi yang tak kasat mata (the infinitely small). Pascal (1670/1995) menggambarkan manusia sebagai “bayangan di antara segalanya dan ketiadaan” (hlm. 61). Di abad ke-21, kutub-kutub ini adalah realitas digital yang mengepung kita melalui Big Data yang mahaluas dan Algoritma Mikro yang mahakecil. Dunia modern sering kali memaksa kita untuk memilih diantara dua kutub tersebut. Pensées, menawarkan jalan tengah. Baginya, manusia adalah sebuah teka-teki yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan angka dan akal pikiran (reason).
- Riwayat Singkat.
Blaise Pascal lahir pada 19 Juni 1623 di Clermont-Ferrand, Prancis. Ayahnya, Étienne Pascal, adalah seorang hakim dan pemungut pajak yang memiliki minat besar pada matematika. Étienne mendidik Blaise sendiri dan melarangnya belajar matematika sebelum usia 15 tahun agar ia fokus pada bahasa Latin dan Yunani. Namun, pada usia 12 tahun, Blaise secara otodidak membuktikan proposisi ke-32 dari Euclid’s Elements (Moriarty, 2003). Pada usia 16 tahun, ia menulis Essai pour les coniques (1640), sebuah risalah singkat namun revolusioner tentang geometri kerucut, yang mencakup apa yang sekarang dikenal sebagai Teorema Pascal.
Untuk membantu beban kerja ayahnya dalam menghitung pajak, Pascal menciptakan Pascaline pada tahun 1642. Ini adalah salah satu kalkulator mekanis pertama di dunia yang mampu melakukan penjumlahan dan pengurangan secara langsung. Selain mekanika, Pascal melakukan eksperimen penting dalam hidrodinamika dan hidrostatis. Ia membuktikan keberadaan vakum (ruang hampa) melalui eksperimen barometer, yang menentang keyakinan Aristotelian saat itu bahwa “alam membenci kekosongan” (horror vacui). Kontribusinya dalam tekanan fluida diabadikan dalam Hukum Pascal, yang menyatakan bahwa tekanan yang diberikan pada cairan dalam ruang tertutup akan diteruskan ke segala arah dengan sama rata (Pascal, 1663/1995). Melalui korespondensi dengan Pierre de Fermat, Pascal meletakkan dasar bagi Teori Peluang modern. Diskusi mereka berawal dari masalah perjudian (Problem of Points), yang kemudian berkembang menjadi metode matematis untuk memprediksi hasil masa depan berdasarkan probabilitas.
Malam tanggal 23 November 1654 menjadi titik balik krusial dalam hidupnya, yang dikenal sebagai “Night of Fire”. Pascal mengalami pengalaman mistis religius yang mendalam selama dua jam. Ia menuliskan pengalamannya pada secarik kertas (disebut Memorial) yang ia jahit di dalam lapisan bajunya dan dibawa hingga wafat. Setelah peristiwa ini, Pascal menarik diri dari dunia sains murni dan bergabung dengan komunitas Jansenis di Port-Royal. Tahun-tahun terakhir hidupnya dihabiskan dalam penderitaan fisik. Meskipun demikian, ia tetap mengerjakan proyek transportasi publik pertama di Paris (carrosses à cinq sols) dan menulis catatan-catatan yang kelak diterbitkan secara anumerta sebagai Pensées. Pascal wafat pada 19 Agustus 1662 di Paris pada usia 39 tahun. Pascal seorang jenius yang mati muda tapi meninggalkan jejak-jejak pemikiran yang layak terus dipelajari karena tetap relevan bagi setiap jaman.
- Pensées
Manusia sebagai The Thinking Reed.
Kutipan Pascal yang paling terkenal adalah mengenai posisi manusia sebagai un roseau pensant atau thinking reed (ilalang yang berpikir). Dia menekankan bahwa secara fisik manusia sangat lemah (frailty) dan alam semesta tidak butuh banyak energi untuk melenyapkan kita. Pascal (1670/1995) menegaskan bahwa meskipun semesta bisa dengan mudah melenyapkan kita -hanya dengan setetes air atau malfungsi kecil dalam sistem biologis- manusia tetap lebih mulia daripada semesta (hlm. 66). Mengapa? Karena manusia memiliki kesadaran (consciousness). Manusia sadar bahwa ia rapuh bahkan sadar bahwa ia sedang menuju kematian, sementara semesta yang luas atau algoritma yang sangat cerdas pun tidak tahu apa-apa tentang eksistensi mereka sendiri.
Martabat manusia justru terletak pada pikiran atau kesadarannya (thought). Bagi Pascal meskipun alam semesta memiliki kedahsyatan untuk menghancurkan manusia namun manusia tetap lebih mulia karena ia memiliki kesadaran (consciousness) sedangkan alam semesta yang luas tidak menyadari kekuatannya sendiri (Pascal, 1670/1995). Di era kecerdasan buatan saat ini, konsep ini mengingatkan kita bahwa nilai kemanusiaan bukan terletak pada kecepatan pemrosesan informasi atau seberapa dalam kita menguasai teknologi, melainkan pada kapasitas refleksi diri yang mendalam. Kesadaran manusia akan posisinya di alam semesta membuat perbedaan mendasar yang menentukan identitasnya.
Pengalihan (Distraction)
Salah satu poin paling tajam dalam pemikiran Pascal adalah tentang divertissement atau diversion/distraction (pengalihan perhatian). Pascal berargumen bahwa sebagian besar aktivitas manusia hanyalah upaya untuk melarikan diri dari realitas kesepian dan kefanaan. Ia menulis kalimat yang sangat relevan dengan budaya saat ini: “Seluruh ketidakbahagiaan manusia berasal dari satu hal tunggal, yaitu ketidakmampuan mereka untuk tetap diam di dalam kamar” (“All of humanity’s problems stem from man’s inability to sit quietly in a room alone”), (Pascal, 1670/2008, hlm. 37). Kita takut akan keheningan karena dalam kondisi tanpa gangguan itu, kita terpaksa menghadapi kekosongan batin (inner emptiness). Media sosial saat ini menjadi alat pengalihan paling sempurna yang menjaga kita agar tetap sibuk sehingga kita tidak perlu memikirkan makna hidup yang sebenarnya atau apa yang disebut sebagai existential dread (kecemasan eksistensial). Dari pada menghadapi kecemasan itu banyak orang yang lebih memilih scrolling, flexing, serta aktivitas pengalihan lainnya. Daripada menjawab pertanyaan-pertanyaan fundamental mengenai eksistensi diri , orang lebih memilih berdebat kusir di media sosial.
Pascal menggunakan konsep divertissement atau diversion ini untuk menggambarkan pengejaran aktivitas tak henti guna mengalihkan perhatian dari penderitaan batin dan pemikiran tentang kematian. Jika manusia abad ke-17 melakukan pengalihan melalui perjudian atau perburuan, manusia modern melakukannya melalui validasi digital. Keterasingan muncul karena kita tidak pernah benar-benar “hadir” (present). Pascal (1670/2008) menulis bahwa manusia hampir tidak pernah hidup di masa sekarang. Manusia selalu sibuk mengantisipasi masa depan atau terobsesi mengenang masa lalu (hlm. 13). Pada saat ini media sosial memberi wadahnya dengan menciptakan simulasi realitas.
Kita mengasingkan diri dari momen saat ini (the present moment) demi membangun narasi digital untuk penonton yang abstrak, mengubah pengalaman autentik menjadi sekadar komoditas visual. Saat kumpul dengan keluarga atau teman-teman kita tidak benar-benar hadir karena sibuk dengan gadget masing-masing. Masa depan diantisipasi dengan membagikan foto-foto kebersamaan, foto-foto makanan diatas meja sedangkan masa lalu hadir dalam aktivitas melihat-lihat story orang lain. Kita mengasingkan diri dari momen saat ini (the present moment) bersama dengan keluarga atau teman-teman, demi pengalihan yang tidak berujung dan demi pengakuan yang palsu (bangga dengan banyaknya like).
Le Cœur dan Batas Rasionalitas
Keterasingan di era teknologi juga disebabkan oleh dominasi esprit de géométrie (akal budi matematis/logis). Dunia digital adalah puncak dari pola pikir ini ketika segalanya dikuantifikasi, diukur, dan diprediksi oleh data. Namun, Pascal mengingatkan bahwa ada kebenaran yang hanya bisa dicapai melalui esprit de finesse (intuisi atau kepekaan hati). Keresahan manusia modern sering kali tidak bisa diselesaikan dengan algoritma, karena “hati memiliki nalarnya sendiri yang tidak diketahui oleh akal budi” (The heart has its reasons, which reason does not know) (Pascal, 1670/1995, hlm. 127). Saat kita menyerahkan seluruh keputusan hidup pada data, kita sedang mengasingkan intuisi terdalam kita, yakni kemampuan untuk memahami makna di luar angka dan statistik (Peters, 2009).
Pascal seorang matematikawan yang jenius. Ia tidak anti-logika. Namun, ia menyadari adanya keterbatasan pada akal budi. Ia memperkenalkan konsep le cœur (the heart) sebagai instrumen kognitif untuk menangkap prinsip-prinsip pertama yang tidak bisa dibuktikan oleh logika deduktif. Dalam istilah Pascal, terdapat perbedaan antara esprit de géométrie (mathematical mind) yang kaku dengan esprit de finesse (intuitive mind) yang mampu melihat kompleksitas realitas secara holistik (Moriarty, 2003). Kebenaran tentang moralitas misalnya, tidak bisa dicapai hanya melalui rumus matematika ataupun algoritma, melainkan harus melibatkan intuisi yang tajam. Dengan kata lain kebenaran tidak melulu soal angka-angka (data) tapi juga fakta.
Pascal’s Wager: Sebuah Analisis Risiko
Dalam bagian yang dikenal sebagai Pascal’s Wager (Pertaruhan Pascal), ia menggunakan logika peluang untuk membela iman. Pascal (1670/2008) berpendapat bahwa karena akal budi tidak dapat memberikan kepastian absolut mengenai keberadaan Tuhan, maka manusia harus “bertaruh” dengan hidupnya. Argumen ini menunjukkan bahwa dalam hidup, netralitas itu mustahil (neutrality is impossible). Manusia tetap harus memilih antara percaya adanya Tuhan atau tidak ada Tuhan. Peters (2009) menjelaskan bahwa pertaruhan ini bukanlah sekadar perjudian teologis, melainkan sebuah analisis tentang bagaimana manusia mengambil keputusan di bawah ketidakpastian (decision making under uncertainty). Jika seseorang bertaruh pada nilai-nilai luhur dan benar, keuntungannya tidak terhingga sedangkan jika salah, kerugiannya minimal. Jika anda memilih untuk percaya adanya Tuhan tapi ternyata Tuhan itu tidak ada, kerugiannya kecil karena kepercayaan akan adanya Tuhan mendorong manusia berbuat kebaikan dalam hidupnya.
Penutup
Relevansi Pascal (Pensées: Renungan) di masa kini terletak pada keberaniannya menghadapi kontradiksi dan kegelisahan. Ia mengajak kita untuk menerima posisi kita sebagai makhluk yang berada di antara “ketiadaan” dan “ketidak terhinggaan”. Dalam renungannya Pascal mengajak kita untuk memahami sekaligus menghadapi kerapuhan kita. Dengan membatasi divertissement, kita mulai menemukan kembali jati diri yang autentik di tengah dunia yang gaduh. Pascal ‘memaksa’ kita untuk menghadapi keheningan sebagai langkah awal menemukan diri yang autentik. Kita juga dapat menganggapnya sebagai persiapan menghadapi kematian, ketika keheningan total erat mendekap.
Daftar Pustaka
Moriarty, M. (2003). Early modern French thought: The age of suspicion. Oxford University Press.
Pascal, B. (1995). Pensées (A. J. Krailsheimer, Trans.). Penguin Classics. (Karya asli diterbitkan 1670).
Pascal, B. (2008). Pensées and other writings (H. Levi, Trans.; A. Levi, Ed.). Oxford University Press. (Karya asli diterbitkan 1670).
Peters, J. R. (2009). The logic of the heart: Augustine, Pascal, and the rationality of faith. Baker Academic.
Rogers, B. (2020). Pascal: Mind on fire. Thomas Nelson.