Menyibak Banalitas: Absensi Pikiran dan Kekeliruan Berpikir

Oleh: Agung Setiawan, S.Hum.,M.Hum.

Artikel singkat ini akan membahas dua tokoh sentral sebagai perbandingan kedua konsep yang jauh secara esensi namun sangat mirip dari dampak dalam tindakannya. Dampak tersebut bisa dilacak melalui representasi fenomena sosio-politik berupa tindakan destrukif dan kekerasan sistemik yang diakibatkan oleh oknum-oknum atau aparatus otoritas yang marak terjadi saat ini, baik tingkat nasional maupun global. Fenomena tindakan abusif hingga represif yang jadi tren otoritas ini sangat dekat dengan gaya narasi yang ditunjukkan oleh tokoh Adolf Eichmann[1] dan Anwar Congo[2] mengacu pada kondisi absensi pikiran dan kekeliruan berpikir. Namun lebih jauh kita akan melihat bagaimana membedakan kategori absensi dan kekeliruan ataupun kesesatan dalam penalaran akan menunjukkan bahwa justru ketidakmampuan untuk bernalar secara logis[3] berkemungkinan sangat besar bagi degradasi moral perilaku pelakunya.

Absennya pikiran menurut Hannah Arendt tidak muncul dari kelupaan terhadap standar dan kebiasaan baik, bukan pula dari kebodohan dalam arti tidak mampu memahami. Absensi pikiran dalam perumusan ini berarti hilangnya kapasitas untuk bebas dalam menilai tindakan, kebebasan menurut arendt berarti bebas dalam arti mampu untuk berjarak dari apa yang serba niscaya bagi manusia[4]. Dalam persidangan Jerusalem, Eichmann merumuskan tindakannya berdasarkan kemampuannya untuk menilai dan membenarkan sehingga rasa bersalah tidak menjadi konsekuensi logis dari tindakannya. Dari sisi Eichmann, pengalaman  untuk berkehendak hingga melakukan sebuah tindakan tidak menimbulkan refleksi apapun pada diri si subjek berarti mengimplikasikan ketiadaan dasar berpikir untuk menciptakan sebuah momentum konfliktual antara pengalaman ego berpikirnya dengan ego berkehendak[5]. Sikap dingin Eichmann tanpa rasa bersalah setelah membantai jutaan orang inilah yang nanti dikategorisasikan sebagai absensi pikiran.

Bagi Arendt,  kejahatan adalah akibat dari ketidakmampuan melakukan dialog dengan diri sendiri, baginya proses berpikir menjadi semacam model untuk membimbing perilaku manusia[6]. Eichmann digolongkan sebagai manusia yang melakukan tindakannya tanpa pikiran, kehendak dan penilaian dalam bekerja dan berkarya. Eichmann tidak punya kapasitas mental sebagai manusia sadar nalar dan bisa ditunjuk serta disentuh dalam tataran tindakan karena ia jatuh dalam kognisi instrumentalistik yang berbasis pada tujuan, sehingga ketika tujuannya tercapai begitu juga dengan proses kognisinya. Dari segi kesesatan berpikir (logical fallacy), Eichmann sendiri jatuh pada kesesatan argumentum ad verecundiam, orang yang melakukan kesesatan ini menggunakan otoritas, kekuasaaan atau keahlian seseorang sebagai dasar agar apa yang disampaikan dapat diterima[7]. Sehingga nilai suatu penalaran dianggap ditentukan oleh keahlian atau kewibawaan orang yang mengemukakannya, dalam hal ini kepatuhan Eichmann pada sosok Hitler.

Pola absensi pikiran serupa juga muncul dalam diri Anwar Congo. Menurut pengakuannya dalam film dokumenter Act of Killing, bahwa ia merumuskan tindakannya berdasarkan ketidaktahuan akan rasa bersalah karena ketidakmampuan untuk menilai yang salah dan yang benar. Kesesatan berpikir juga terjadi pada Congo terutama sebagai korban propaganda rezim membuat dia terjatuh pada kesesatan non causa pro causa dan post hoc ergo propter hoc sekaligus, hal ini terjadi karena seseorang mencampuradukkan antara konsep urutan dan konsep sebab akibat. Congo menganggap eksistensi komunisme saat itu akan menghilangkan mata pencahariannya sebagai preman calo karcis lantaran PKI melarang pemutaran film-film Hollywood. Sehingga secara simultan masuk juga ke dalam kesesatan berpikir lainnya yaitu argumentum ad verecundiam pada rezim saat itu dan kesesatan argumentum ad baculum, menyampaikan gagasan melalui terror dan paksaan[8]. Selain itu kesesatan berpikir yang lazim muncul pada para penjagal adalah kesesatan argumentum ad ignorantiam, kesesatan ini beranggapan bahwa sesuatu adalah benar karena belum terbukti bahwa itu salah, melakukan justifikasi terhadap sesuatu karena negasinya belum terbukti[9].

Keberanian untuk membenarkan kekerasan hingga pembantaian atas nama negara dengan meminimalisir bahkan menghilangkan rasa bersalah ini disebabkan juga lantaran adanya kesesatan “karena dua kekeliruan menghasilkan satu kebenaran”, kesesatan ini terlihat manakala seseorang berargumentasi bahwa kesalahannya harus juga dibenarkan karena orang lain yang melakukan kesalahan yang sama juga dibenarkan[10]. Dalam hal ini, karena tidak adanya reaksi benar dan salah dari masyarakat dan Negara, maka penjagal tidak menganggap perlakuan mereka sebagai sebuah kejanggalan dan malah menganggap itu sebagai sebuah keharusan serta keniscayaan. Eichmann dan Congo hanya segelintir dari sekian banyak penjahat HAM yang berdalih menjalankan tugas namun terjebak dalam berbagai jenis kesesatan berpikir sekaligus absensi pikiran yang menegaskan banalitas kejahatan sebagai sebuah keniscayaan sehingga memadamkan hati nurani.

Referensi

Arendt, Hannah. The Life Of The Mind, New York: Harcourt Brace Jovanovich, 1978

Hayon, Yohanes Pande. Kesesatan Berpikir, Jakarta: Tiga Pena Mandiri, 2012

Sudibyo, Agus. Politik Otentik : Manusia dan Kebebasan dalam Pemikiran Hannah Arendt, Jakarta: Marjin kiri, 2012

[1] Letkol Otto Adolf Eichman adalahseorang petinggi SS NAZI Jerman yang menginisiasi proyek holocaust di kamp konsentrasi, dijatuhi hukuman matimelalui persidangan di Jerusalem 1961.

[2] Anwar Tal’a Congo adalah salah seorang eksekutor atau penjagal dalam tragedi pembantaian PKI tahun 1965, namanya mencuat di dalam film besutn Joshua Oppeinheimer berjudul Jagal atau Act of Killing (2013).

[3] Harus dibedakan dengan ketiadaan akses maupun keterbatasan akses dalam bernalar seperti yang sering terjadi pada kasus klinis

[4] Agus Sudibyo, “politik otentik : Manusia dan kebebasan dalam pemikiran Hannah arendt 2012, pp.142-143

[5] Hannah Arendt, “willing”, the life of the Mind Vol.1 (New York: Harcourt Brace Jovanovich, 1978), pp 3-4

[6] Hannah Arendt, “Thinking”, the life of the mind vol.1 (New York: Harcourt Brace Jovanovich, 1978) pp. 13

[7] Yohanes pande Hayon, “Kesesatan berpikir” (2012), pp 75

[8] Ibid 77

[9] Ibid 80

[10] Ibid 81

Agung Setiawan, S.Hum.,M.Hum.