Memori dan Usia yang Terus Berjalan

Oleh: Oki Hermawati

 Suatu kali nenek saya yang sudah berusia lanjut diatas 80 tahun mengalami sakit. Ingatannya kepada saya tidak pudar, terbukti dapat menyebut nama saya. Kami ngobrol dan beberapa kali nenek menanyakan nama suami saya dan nama suami kakak saya dan bahkan menanyakan nama anak perempuannya alias tante saya. Ingatan atau memori nenek saya sudah mulai berkurang dan ia seringkali menanyakan hal-hal yang sudah atau barusan dilakukan. Begitulah kata orang, semakin berusia dapat saja ingatan atau memori mulai berkurang atau orang kebanyakan menyebut hal ini dengan istilah sudah mulai pikun. Bahkan beberapa orang diusia lanjut mengalami kehilangan memori yang cukup parah atau parah dengan istilah demensia.

Kehidupan terus berlanjut dan usia manusia semakin bertambah. Banyak ingatan-ingatan yang dimiliki manusia. Ingatan akan peristiwa-peristiwa yang membahagiakan atau ingatan-ingatan peristiwa menyedihkan menjadi bagian dari memori manusia. Jika kita saat ini ditanyakan ingatan masa kecil mungkin sebagian kita akan lupa dengan banyak peristiwa di masa kecil, tetapi ada hal tak terlupakan yaitu peristiwa yang memberikan pengalaman atau kesan mendalam masih diingat oleh kita.

Kita mungkin mengingat saat kita pertama kali jatuh dari sepeda, jatuh dari loteng dan sebagainya. Kita ingat saat dirayakan ulang tahun oleh orangtua kita. Ingatan yang cukup baik mungkin kita miliki pada masa remaja. Kita ingat saat pertama kali tertarik dengan lawan jenis, kita ingat sahabat-sahabat kita masa SMP dan SMA.

Seiring bertambah usia menuju dewasa tentu kita mengalami banyak peristiwa. Kita mulai kuliah, mulai bekerja, mulai berumah tangga, mulai menjadi orangtua dan seterusnya. Semua peristiwa itu memberikan memori yang berisi suka maupun duka. Kita memiliki setumpuk bahkan ratusan peristiwa yang ada di memori kita walaupun sebagian kecil saja yang masih dapat kita ingat dengan jelas. Hadirnya ingatan yang mengandung kebahagian tentu merupakan hal yang menyenangkan, sebaliknya memori yang memedihkan, menyakitkan, memilukan bahkan menimbulkan rasa trauma tentu menjadi ingatan yang mungkin kita ingin segera lupakan.

Tetapi di balik memori yang berisi peristiwa atau pengalaman yang tidak menyenangkan, kita dapat belajar dari pengalaman tersebut. Peristiwa itu mendatangkan pelajaran berharga tentang kehidupan dan membuat kita kuat. Jadi sekalipun ada memori yang berisi hal pahit, tetap masih baik bukan daripada kehilangan memori? Bagaimana pendapatmu? Mari terus berjuang!

Oki Hermawati