Life is A Series of Joys and Sorrows
Oleh: Kartika Yulianti, S.Pd, M.Sc.Ph.D
Ini cerita lama dari sebuah chapter hidup saya di Belanda.
Waktu itu di musim panas 2018, Ed teman saya dari Leiden mentraktir saya makan siang di sebuah restoran di Nijmegen. Ed baru saja mendapat pekerjaan setelah menjalani tahun-tahun yang sulit. Di akhir tahun 2014, Ed berhenti dari tempat kerjanya di The Hague (Den Haag). Sepertinya itu adalah keputusan terburuk yang pernah dia buat. Setelah itu, di bulan Januari 2016, dia mencoba menjadi Ph.D researcher di universitas almamater kami. Namun setelah 6 bulan, dia dievaluasi performancenya dan dinyatakan tidak bisa dilanjutkan oleh kedua supervisornya yang juga supervisor saya.
Di Belanda Ph.D researcher itu statusnya adalah researcher in training, bukan doctoral student. Kalau internal digaji oleh universitas, sedangkan yang external biasanya non-Dutch/EU nationalities yang mendapat scholarship. Ed waktu itu sedang mencoba untuk menjadi internal researcher, sedangkan saya adalah external researcher in training yang mendapat beasiswa penuh Netherlands Fellowship Program (NFP).
Saya dan Ed berbagi ruang kerja di gedung Spinoza di Montessorilaan, Nijmegen. Ya, sebagai Ph.D researchers kami mendapat fasilitas itu. Ruang kerja kami cukup besar untuk 2 orang dan dilengkapi dengan kabinet, kursi, meja kerja, komputer, dan telepon. Nama kami berdua pun ada di pintu ruang kerja itu.
Di hari pertama saya datang ke kantoor itu di musim semi tahun 2015, dua karyawan universitas dari unit Human Resources dan General Affairs datang untuk memastikan bahwa mereka sudah menyediakan “the 90-degree angle of a workstation” untuk saya. Penjelasan dari AI mengenai itu adalah sebagai berikut:
The 90-degree angle of a workstation refers to the ergonomic “90-90-90 Rule,” aiming for 90° angles at your knees, hips, and elbows for neutral posture, with feet flat, thighs parallel to the floor, and forearms level with wrists for reduced strain. This setup supports your spine, reduces muscle tension, and involves aligning your monitor at eye level to look straight ahead. Adjust chair height, use a footrest if needed, and keep keyboard/mouse close to maintain these angles for comfort and to prevent musculoskeletal issues.
Kembali ke cerita tentang Ed.
Hari itu di awal musim panas 2016, kami diajak dinner oleh kedua supervisor kami. Saya tidak tahu dalam rangka apa, pokoknya ikut sajalah. Lumayan kan ditraktir makan malam, jadi tidak perlu repot masak sendiri. Makan enak, gratis pula. Hahaha.
Setelah dinner itu, saya masih belum tahu apa yang terjadi pada Ed. Namun, setelah 2 minggu berlalu, Ed tidak datang ke kantoor. Saya bertanya via WA, namun tidak dijawab. Lalu, saya tanya kedua supervisor saat kami makan siang bersama di sebuah cafetaria di Grotiusgebouw.
“Dia tidak melanjutkan lagi setelah 6 bulan dia mencoba,” begitu jawab mereka.
Dan saya langsung mengerti bahwa Ed mendapat keputusan no go.
Di Belanda, go/no go adalah a critical early assessment dari para supervisor dan committee, biasanya setelah 9-12 bulan untuk memutuskan apakah seorang PhD researcher atau researcher in training, baik internal maupun external, dapat melanjutkan perjalanannya atau tidak.
Satu hal yang saya pelajari adalah begitu humanisnya cara kedua supervisor kami melepas Ed. Begitu pula pada saat mereka menjawab pertanyaan saya mengapa Ed 2 minggu tidak datang ke kantoor. Jawaban singkat tanpa bumbu drama yang saya langsung mengerti.
Pertemanan antara Ed dan saya tidak terputus, bahkan masih terjalin sampai hari ini. Ed hanya membutuhkan waktu dan space beberapa bulan untuk menyembuhkan dirinya dari kekecewaan atas keputusan no go. Setelah itu, dia melanjutkan hidup dengan menjadi a full-time father, mengasuh anaknya bernama Querijn yang masih balita. Anne, partner hidup Ed berprofesi sebagai psikolog. Saya beberapa kali mengunjungi dan menginap di rumah mereka di Leiden saat liburan di musim dingin dan musim panas. Begitu juga Ed. Dia pernah datang ke Nijmegen dengan mengendarai velomobilenya yang berwarna kuning ngejreng all the way from Leiden. Jika kamu belum tahu, silakan googling seperti apa velomobile itu. Mungkin kamu akan tertawa setelah mengetahui bentuknya.
Suatu hari di musim panas 2018, Ed mengontak saya via whatsapp:
“Hoi Kartika, hoe gaat het met je? Wanneer heb je tijd om met me te lunchen?”