Angin Badai VS Angin Sepoi-Sepoi
Oleh: Arcadius Benawa
Dalam sebuah kesempatan Angin Badai menemui Angin Sepoi-sepoi. Ia menantang Angin sepoi-sepoi untuk berlomba adu kekuatan. Mendapat tantangan Angin Badai, Angin Sepoi-sepoi pun tak gentar. “Ayuk, kita tunjukkan kekuatan kita dengan cara apa?” tanya Angin Sepoi-sepoi. Kebetulan saat itu di pinggiran hutan tampak seekor monyet sedang tidur-tiduran bermalas-malasan. Lalu Angin Badai itu berkata: “Mari kita bikin monyet itu terjatuh! Dan siapa yang berhasil menjatuhkan monyet itu, dialah juara pemenangnya!” Angin sepoi-sepoi pun setuju.
Mulailah dengan segala daya kekuatannya angin badai itu berusaha menjatuhkan monyet yang terantuk-antuk itu. Namun yang terjadi justru monyet itu berpegangan erat pada ranting di dekatnya sambil terus berayun-ayun. Ditambah lagi kekuatan angin badai, semakin monyet itu erat berpegangan dan begelantungan. Sampai akhirnya Angin Badai pun menyerah karena semakin ditambah kekuatan angin badai, semakin erat saja monyet itu bergelantungan pada dahan.
Kini giliran Angin sepoi-sepoi melakukan aksinya. Dibuatnyalah monyet yang tiduran itu semakin terantuk-antuk dengan angin yang semakin sepoi-sepoi. Sedemikian nikmatnya angin sepoi-sepoi membuai rasa kantuk monyet hingga monyet pun tertidur pulas. Dan saking pulasnya seiiring dengan hembusan angin yang kian sepoi-sepoin terpelantinglah monyet itu dari tempat tidurnya. Dan jadilah Angin Sepoi-sepoi juaranya mengalahkan Angin Badai.
Perlombaan antara Anginn Badai VS Angin Sepoi-sepoi itu merepresentasikan dinamika hidup kita. Ketika hidup ini diterjang badai kesulitan entah kesulitan ekonomi, sosial, kesehatan dan lain sebagainya semakin dinamislah kita berikhtiar untuk menghadapinya sehingga hidup ini semakin hidup. Sebaliknya ketika kita terlena atau terbuai oleh nyamannya kehidupan sehingga minim perjuangan atau struggle of life semakin rapuhlah kita sehingga mudah tumbang.
Gereja Katolik sepanjang zaman ketika teraniaya juga menampakkan kualitasnya. Banyak orang menjadi martir demi membela dan bersaksi akan kebenaran imannya. Sebaliknya ketika Gereja Katolik ada di masa di mana merasa di atas angin mulailah muncul aneka kemerosotan iman. Tidak hanya pada kaum awam namun juga kaum hirarkinya sehingga saat itu disebut saat gelap (dark age) bagi Gereja.
Sebagai Umat beriman pun kita semakin mendapat tantangan hebat, kita semakin terpanggil untuk bersaksi iman. Sebaliknya ketika semua tampak membuai, serba aman nyaman, enak nikmat, saat itulah saat rawan dan banyak umat beriman abai terhadap pemeliharaan iman sehingga iman pun menjadi mudah goyah dan rapuh. Mudah meninggalkan iman demi kenikmatan sesaat, entah kenikmatan seksual, kenikmatan harta duniawi, atau kenikmatan jabatan ataupun kekuasaan sehingga nilai-nilai Injili, berjuang demi Kerajaan Allah pun semakin tidak menjadi rujukan dalam hidup sehari-hari.
Kita bersyukur bahwa Sabda Tuhan diwartakan setiap hari dalamm perayaan Ekaristi menjadi pengingat bagi kita untuk tidak abai terhadap tantangan iman. Kita bersyukur perayaan iman para martir mengingatkan kita untuk selalu terpanggil hidup mempersaksikan iman kita dalam kata, sikap, dan tindak-tanduk. Semoga kita tidak terlena melainkan selalu waspada agar kita tidak jatuh seperti monyet yang terbuai oleh angin yang sepoi-sepoi. Semoga.