Tidak Melihat Dunia Tapi Memikat Dunia
Oleh: Markus Kurniawan
Sebagian besar dari kita sepakat bahwa manusia menjadi besar karena menguasai dunia, artinya ia melihat lebih jauh, bergerak lebih cepat, menjelajah lebih luas. Dalam kenyataannya ada orang-orang yang tidak melihat lebih jauh, tidak bergerak lebih cepat juga tidak menjelajah lebih luas yang dapat ‘menguasai’ dunia. Mereka memikat dunia justru dari paradoks yang dilahirkannya. Beberapa manusia yang paling memikat dunia justru adalah mereka yang tidak dapat melihatnya secara fisik atau bahkan hampir tidak pernah menjelajahinya secara geografis. Andrea Bocelli, Helen Keller, dan Immanuel Kant berdiri sebagai saksi bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari daya cipta manusia, melainkan sering kali menjadi tanah subur bagi kedalaman batin dan keluasan samudera makna.
Andrea Bocelli, seorang penyanyi tenor dari Italia yang lahir pada 1958, kehilangan penglihatannya secara total pada usia dua belas tahun. Dalam banyak wawancara dan refleksi autobiografisnya, Bocelli menolak menjadikan kebutaannya sebagai pusat identitas dirinya. Dalam Music for Hope, ia menulis bahwa kebutaan adalah fakta biologis, bukan definisi eksistensial [1]. Yang menarik, Bocelli tidak menaklukkan dunia melalui visualitas panggung atau gestur teatrikal. Ia memikat dunia melalui suara, sesuatu yang tidak bisa dilihat, hanya dialami. Dari Bocelli kita dapat melihat bagaimana keterbatasan inderawi justru menajamkan kepekaan batin, menjadikan suara sebagai medium kehadiran yang autentik dan transenden.
Helen Keller (1880-1968) sebuah kisah yang lain lagi. Kehilangan penglihatan dan pendengaran sejak usia dini, Keller hidup di wilayah yang hampir sepenuhnya tertutup dari dunia inderawi. Namun dalam The Story of My Life, ia menulis kalimat yang kini menjadi klasik: “The best and most beautiful things in the world cannot be seen or even touched; they must be felt with the heart.” [2] Pernyataan ini bukan romantisasi penderitaan, melainkan kesaksian epistemologis bahwa pengetahuan terdalam manusia tidak selalu berakar pada penglihatan. Keller kemudian menjadi penulis, orator, dan aktivis yang memperjuangkan pendidikan dan martabat penyandang disabilitas [3].
Secara teologis, pengalaman Keller menggemakan apa yang dalam tradisi mistik disebut pengetahuan melalui kasih (cognitio per amorem). Ia tidak melihat dunia, tetapi ia mengalami dunia sebagai relasi. Dalam kerangka ini, keterbatasan fisik tidak menghalangi makna, justru mengungkap bahwa makna sejati sering kali lahir dari keterbukaan batin, bukan kelengkapan indera. Keller bahkan memperingatkan bahwa memiliki mata tanpa visi batin adalah tragedi yang lebih dalam daripada kebutaan itu sendiri [4]. Dunia boleh tampak jelas secara visual, tetapi tanpa orientasi moral dan empati, dunia itu menjadi hampa.
Jika Bocelli dan Keller menunjukkan keterbatasan inderawi, Immanuel Kant (1724-1804) menghadirkan keterbatasan ruang. Sepanjang hidupnya, Kant hampir tidak pernah meninggalkan Königsberg. Rutinitasnya begitu teratur hingga warga kota dapat menyetel jam berdasarkan waktu jalannya sore hari. [5] Namun dari kota kecil itu, Kant merumuskan salah satu sistem filsafat paling berpengaruh dalam sejarah pemikiran Barat. Critique of Pure Reason mengubah cara manusia memahami pengetahuan; Critique of Practical Reason dan Groundwork of the Metaphysics of Morals membentuk etika modern. Kant tidak menjelajah dunia secara geografis, tetapi pikirannya menjelajah batas-batas rasio manusia itu sendiri.
Kutipannya yang terkenal tentang “langit berbintang di atas” dan “hukum moral di dalam diri” menunjukkan bahwa kekaguman terdalam manusia tidak memerlukan perjalanan jauh, melainkan kepekaan reflektif terhadap realitas yang dekat namun mandala.[6] Dalam bahasa teologis, Kant mengingatkan bahwa keterbatasan empiris bukan halangan bagi kesungguhan moral. Manusia tidak perlu menguasai dunia untuk bertanggung jawab secara etis di dalamnya.
Ketiga figur ini memperlihatkan satu benang merah, yaitu keterbatasan tidak mematikan daya tarik justru sering menjadi sumbernya. Mereka tidak “melihat dunia” sebagaimana mayoritas manusia, tetapi dunia tertarik pada mereka karena kejujuran eksistensial yang lahir dari pergulatan batin yang nyata. Di sini, daya tarik bukan soal popularitas, melainkan otoritas moral dan eksistensial, sebuah kualitas yang tidak dapat direkayasa oleh teknologi atau mobilitas semata. Dunia terpikat pada mereka.
Dalam konteks masyarakat kontemporer yang mengagungkan performa, kecepatan, dan visibilitas, kisah-kisah ini menjadi kritik senyap nan tajam. Dunia digital memungkinkan kita melihat segalanya, tetapi sering kali kehilangan kedalaman. Kita melihat banyak, namun memahami sedikit. Bocelli, Keller, dan Kant mengingatkan bahwa melihat bukanlah syarat utama untuk memahami, dan bergerak jauh melanglang buana bukanlah prasyarat bagi pemikiran yang luas.
Maka, “tidak melihat dunia tapi memikat dunia” bukan sekadar judul retoris. Ia adalah pernyataan antropologis yang menegaskan bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki kemampuan besar untuk melampaui keterbatasannya bukan dengan meniadakannya, tetapi dengan mengolahnya menjadi ruang makna. Sesuatu yang khas manusia. Di sanalah daya pikat sejati lahir bukan dari apa yang kita miliki, melainkan dari bagaimana kita menghayati keterbatasan itu dengan jujur, tekun, dan penuh tanggung jawab.
Daftar Pustaka
[1 ] Andrea Bocelli, Music for Hope: Thoughts on Music and the World (New York: HarperOne, 2021), 12–14.
[2] Helen Keller, The Story of My Life (New York: Doubleday, Page & Company, 1903), 23.
[3] Kim E. Nielsen, The Radical Lives of Helen Keller (New York: New York University Press, 2004), 45–67.
[4] Helen Keller, Optimism (New York: Thomas Y. Crowell, 1903), 11.
[5] Manfred Kuehn, Kant: A Biography (Cambridge: Cambridge University Press, 2001), 33–36.
[6] Immanuel Kant, Critique of Practical Reason, trans. Mary Gregor (Cambridge: Cambridge University Press, 1997), 161.