Pola Komunikasi Ibu Penjaga Toko
Oleh: Eder Timanta Sitepu, S.Th., M.Th.
Suatu hari saya dan istri hendak berbelanja perabotan dapur ke salah satu toko di daerah Depok. Kami menemukan sebuah toko yang kami yakini menjual barang-barang yang kami butuhkan. Toko tersebut dilayani oleh seorang ibu yang terbilang sudah cukup tua. Saya perkirakan umur ibu ini sudah di lebih dari 60 tahun. Sejak awal melihat arah langkah kami menuju ke tokonya, ia sudah siap menyambut kami dengan senyuman dan sapaan yang hangat. Saya tentu berpikir bahwa ini adalah hal yang biasa dilakukan oleh pedagang kepada orang yang mau berbelanja di tokonya. Kami kemudian mulai mencari beberapa perabotan dapur yang hendak kami beli. Ibu yang menjaga toko mencoba membantu kami dengan cara menunjukkan beberapa model perabotan yang ingin kami beli sambil menjelaskan perbedaan antara satu dengan yang lainnya.
Singkat cerita kami telah menemukan barang-barang yang ingin kami beli. Tak lama kemudian hujan turun cukup lebat dan membuat kami tertahan di toko tersebut. Sang ibu mulai menanyakan ke arah mana kami akan pulang? apakah jaraknya jauh dari sini? Apakah kami membawa jas hujan atau tidak? Tentu saja pertanyaan-pertanyaan itu membuat kami harus bercakap-cakap lebih panjang. Ibu penjaga toko kemudian menawarkan pilihan kepada kami untuk menunggu di dalam toko.
‘’Tunggu saja di sini. Sebentar lagi hujannya mungkin reda. Kalau kena hujan begini bisa sakit. Sini masuk saja, di dalam ada kursi.’’
Ibu penjaga toko mengucapkan hal itu sambil menyediakan tempat duduk bagi kami. Interaksi semacam ini sudah sangat jarang saya rasakan. Saya merasakan bahwa Ibu penjaga toko bukan sekadar menunjukkan skill marketingnya dalam berjualan tetapi juga menunjukkan perhatian, kasih dan kepedulian kepada orang yang baru ia kenal. Setiap tutur kata yang diucapkan Ibu penjaga toko tentu membangkitkan memori lama saya, seolah-olah saya sedang berkomunikasi dengan nenek saya yang sendiri. Interaksi semacam itu menjadi sesuatu yang cukup jarang saya temui ketika berkomunikasi dengan orang yang sedang berjualan.
Saya mencoba merefleksikan bahwa apa yang dilakukan Ibu penjaga toko adalah pola komunikasi yang tidak sekadar menggunakan kata sebagai alat komunikasi tetapi menggunakan kata sebagai media untuk menunjukkan kasih dan kepedulian. Kata dan perbuatan ditampilkan secara bersamaan sehingga orang yang menerimanya merasakan bahwa itu bukan sekadar interaksi biasa antara satu orang dengan orang lainnya. Tetapi lebih dari pada itu, kata dan perbuatan dipergunakan sebagai kesempatan untuk menunjukkan keramahan yang didasari oleh cinta kasih. Pola komunikasi yang diterapkan ibu penjaga toko mengandung prinsip etika komunikasi yang menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran, integritas, penghormatan dan empati. Hal yang ditampilkan ibu penjaga toko juga menjadi secercah harapan di tengah maraknya penggunaan kata untuk tujuan-tujuan yang tidak bermoral seperti berbohong, mengucapkan janji palsu, menghina dan mendiskriminasi pihak yang lain.