Merawat Manusia, Bukan Sekadar Angka: Melampaui GDP Melalui Pendidikan dan Kesehatan
Oleh: Cicilia Damayanti
Pendidikan bukan sekadar kegiatan formal di ruang kelas, dan kesehatan bukan hanya urusan klinik. Keduanya adalah fondasi dari kemampuan manusia untuk hidup bermartabat, berdaya, dan berkembang. Bulan Januari, dunia memperingati Hari Pendidikan Internasional, dan momentum ini harus menjadi kesempatan untuk merenungkan: apakah kemajuan bangsa hanya diukur melalui angka ekonomi, ataukah melalui kualitas hidup yang sesungguhnya?
Filsuf Martha Nussbaum, melalui karyanya Creating Capabilities: The Human Development Approach (2011), menawarkan sebuah kerangka konseptual penting bagi pertanyaan ini. Nussbaum mengembangkan pendekatan kemampuan (capability approach) yang menolak pengukuran kemajuan semata-mata lewat indikator ekonomi seperti GDP. Menurutnya, tujuan pembangunan adalah memperluas kemampuan nyata setiap individu untuk menjalani hidup yang mereka nilai penting, termasuk memiliki pendidikan yang memadai, kesehatan yang baik, dan kebebasan untuk berpikir dan bertindak dalam masyarakat (capability approach fokus kepada apa yang seseorang dapat lakukan atau menjadi).
Dalam kerangka ini, pendidikan bukan hanya soal akses sekolah atau capaian angka literasi, tetapi tentang memperkuat kapasitas berpikir kritis, pilihan hidup, dan kepekaan terhadap realitas sosial. Begitu pula, kesehatan bukan hanya soal ketiadaan penyakit, tetapi soal memastikan kemampuan fisik dan mental yang memadai agar individu dapat berpartisipasi penuh dalam kehidupan sosial dan ekonomi. Dua aspek ini saling memperkuat: pendidikan yang baik meningkatkan kesadaran akan kesehatan, sementara kesehatan yang kuat memungkinkan proses belajar yang efektif.
Sebuah contoh empiris yang sering dibahas dalam literatur pembangunan manusia adalah pengalaman Kerala, sebuah negara bagian di India yang dikenal dengan Kerala model of development. Meskipun per kapita pendapatannya relatif rendah dibandingkan beberapa wilayah lain, Kerala memiliki prestasi luar biasa dalam indikator sosial seperti tingkat literasi yang sangat tinggi dan pencapaian kesehatan masyarakat yang unggul. Negara bagian ini mencatat tingkat literasi sekitar 96 % yang jauh di atas rata-rata nasional India, serta indikator kesehatan seperti angka harapan hidup dan angka kematian bayi yang menyamai atau melampaui banyak negara dengan ekonomi jauh lebih besar(https://www.improvingphc.org/kerala-india-governance)
Model pembangunan ini menempatkan investasi serius pada layanan pendidikan dan kesehatan publik, dengan dukungan pemerintah dan partisipasi masyarakat secara luas. Sistem sekolah yang kuat dan layanan kesehatan publik yang tersebar merata memberi warga kemampuan dasar untuk tumbuh dan berdaya, sementara sistem pemerintahan yang dipimpin oleh kekuatan politik kiri (Left Democratic Front) menunjukkan bahwa perhatian pada nilai-nilai humanisme dan keadilan sosial bisa menjadi pendorong utama pembangunan manusia, bukan sekadar orientasi pertumbuhan ekonomi semata(https://polsci.institute/state-politics-india/kerala-model-human-development-success/).
Pengalaman Kerala menunjukkan bahwa ketika pendidikan dan kesehatan dipandang sebagai komponen utama pembangunan manusia, maka masyarakat cenderung lebih kritis, memiliki kesadaran hak yang lebih tinggi, serta kemampuan untuk berpartisipasi aktif dalam kehidupan sosial dan politik. Ini sekaligus mengingatkan bahwa pendekatan pembangunan yang hanya berdasarkan GDP sering kali gagal menangkap realitas kesejahteraan yang dirasakan oleh warga sehari-hari — kemampuan untuk berpikir, bertindak, dan terlibat secara bermakna dalam kehidupan sosial.
Hari Pendidikan Internasional seharusnya menjadi momen untuk memperluas pemahaman kita tentang apa yang dimaksud dengan “kemajuan bangsa.” Peringatan ini tidak hanya mengajak memperbaiki angka statistik sekolah atau fasilitas kesehatan, tetapi menantang kita untuk mempertanyakan kembali prioritas pembangunan secara keseluruhan.
Jika pembangunan yang sejati adalah tentang memperluas kemampuan manusia, maka pertanyaan yang paling menggugat yang perlu diajukan bersama adalah bagaimana pendidikan dan kesehatan di Indonesia dirancang dan diimplementasikan agar benar-benar membentuk manusia yang kritis, percaya diri, serta peka terhadap sesama dan lingkungan—bukan sekadar memenuhi target angka atau ikut dalam kompetisi GDP semata.
Pertanyaan tersebut tidak berhenti pada kebijakan negara. Arah kritik justru mengarah pada ruang pendidikan itu sendiri. Apakah sebagai tenaga pendidik masih terdapat keberanian untuk melakukan perubahan substantif—untuk melawan pembiaran, rutinitas kosong, dan bentuk-bentuk kebodohan struktural yang terus direproduksi oleh sistem kekuasaan? Ataukah pendidikan tanpa sadar justru ikut melanggengkan ketundukan, alih-alih membebaskan daya pikir?