Kritik Byung-Chul Han atas Masyarakat Modern dalam Bukunya “The Burnout Society”

Oleh:  Petrus Lakonawa

Dalam bukunya, The Burnout Society, Byung-Chul Han, seorang filsuf dan kritikus budaya asal Korea Selatan–Jerman, menawarkan kritik tajam terhadap masyarakat kontemporer dengan menyatakan bahwa burnout (kelelahan total—fisik, mental, dan emosional—akibat tekanan berkepanjangan yang membuat seseorang kehilangan energi, makna, dan motivasi) bukan sekadar masalah psikologis individual, melainkan sebuah kondisi struktural yang dihasilkan oleh kapitalisme modern tahap lanjut.

Han berpendapat bahwa masyarakat telah bergeser dari “masyarakat disipliner,” yang dicirikan oleh paksaan eksternal dan larangan, menuju “masyarakat prestasi,” di mana individu digerakkan oleh tekanan internal untuk berprestasi, mengoptimalkan diri, dan meraih kesuksesan.

Dalam budaya yang berorientasi pada prestasi ini, kekuasaan tidak lagi bekerja terutama melalui represi, melainkan melalui positivitas. Individu didorong untuk memandang diri mereka sebagai subjek yang otonom dan wirausahawan atas dirinya sendiri. Namun, kebebasan yang tampak ini justru menyembunyikan bentuk dominasi baru: ‘eksploitasi diri’.

Han memperkenalkan konsep “kekerasan positivitas” untuk menjelaskan bagaimana afirmasi yang terus-menerus dan tuntutan untuk selalu produktif menghapus batas, istirahat, serta kemampuan untuk mengatakan “tidak.” Akibatnya, individu menginternalisasi tuntutan pencapaian tanpa henti, yang berujung pada eksploitasi diri, kelelahan, dan burnout alih-alih kebebasan dan kesejahteraan yang sejati. Tanpa batasan, individu mengalami kelelahan emosional dan psikologis, yang terwujud dalam, depresi, kecemasan, dan kesulitan mempertahankan fokus dan konsentrasi dalam jangka waktu tertentu.

Bagi Han, burnout bukan sekadar kelelahan fisik, melainkan kelelahan eksistensial yang mendalam akibat optimalisasi diri tanpa henti. Individu cenderung menyalahkan diri sendiri atas kegagalan, alih-alih melawan tekanan sistemik.

Menghadapi krisis masyarakat modern yang ia sebut sebagai the burnout society, Han menyerukan pemulihan nilai istirahat, keheningan, dan kehidupan kontemplatif sebagai alternatif kritis terhadap logika kinerja yang dominan serta jalan untuk merebut kembali kebebasan dan martabat manusia yang sejati.#

Petrus Lakonawa