Homo Viator

Oleh: Markus Kurniawan

Dalam era yang dibanjiri klaim-klaim metode dan objektivisme, gagasan klasik tentang manusia sebagai peziarah (homo viator) kembali relevan sebagai metafora yang menyatukan eksistensi dan tujuan ontologis kita. Istilah homo viator sendiri secara harfiah berarti manusia dalam perjalanan, dan untuk Gabriel Marcel (1889-1973) ia bukan sekadar penggambaran retoris melainkan struktur fundamental keberadaan manusia. Manusia bukan sekadar entitas yang “ada” secara statis, tetapi ada sebagai sesuatu yang selalu dalam proses menuju sesuatu yang lebih besar- harapan, makna, dan relasi yang tak pernah sepenuhnya selesai dieksplorasi. [1]

Marcel menulis Homo Viator: Introduction to a Metaphysic of Hope (1951) sebagai respons terhadap krisis modernitas yang mengubur pengalaman manusia ke dalam problem teknis yang dapat dipecahkan, namun gagal menghadirkan harapan yang mendalam [2]. Bagi Marcel, apa yang sering disalahpahami sebagai problem eksistensial seperti, kegelisahan, alienasi, kecemasan, bukanlah objek yang bisa dihancurkan atau dieliminasi. Sebaliknya, itu adalah misteri yang harus dihadapi dan dihayati secara penuh [3]. Dalam perspektif Marcel perjalanan kehidupan manusia bukan hanya peristiwa fisik yang terikat pada waktu dan tempat tertentu, tetapi fenomena metafisik yang fundamental. Marcel menyatakan bahwa dalam keberadaannya sebagai peziarah, manusia hidup antara dua kutub temporer dan supratemporer, suatu keterbatasan pengalaman empiris dan keterbukaan terhadap kemungkinan transenden [4]. Ini berarti ‘harapan’ bagi Marcel bukan optimisme naïf, tetapi tindakan eksistensial yang berakar dalam keterlibatan penuh dengan realitas, baik yang nyata maupun yang misterius [5].

 Salah satu implikasi radikal dari pemikiran ini adalah bahwa pengetahuan yang kaku dan kategoris tidak cukup untuk memahami eksistensi manusia. Sains modern yang mengutamakan problem solving (penyelesaian masalah) sering kali bersinggungan dengan pengalaman manusia sebagai tantangan yang dapat dianalisis, tetapi gagal menangkap apa yang Marcel sebut misteri [6]. Misteri bagi Marcel bukan sesuatu yang tidak bisa diketahui sama sekali, tetapi sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dari sang penanya. Ini mengubah cara kita memandang perilaku eksistensial bahwa dunia bukanlah objek untuk ditaklukkan atau dikontrol, melainkan medium relasional di mana harapan dan keterbukaan itu berkembang [7]. Singkatnya dunia dilihat sebagai sebuah konteks yang harus disikapi.

Dalam perspektif Marcel, peziarahan ini memiliki dua aspek yang tidak terpisahkan, yaitu kesendirian dan keterbukaan kepada yang lain. Seorang peziarah, dalam perjalanannya, mengalami kesendirian sebagai kondisi eksistensial dasar dimana ia berada dalam kesadaran bahwa setiap individu harus menanggung keberadaannya sendiri. Namun kesendirian ini bukan sebuah isolasi, justru membuka ruang bagi relasi yang autentik dengan sesama dan dengan realitas transenden [8]. Di sini, homo viator bukan sekadar makhluk yang berjalan sendiri, tetapi makhluk yang berjalan menuju sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri yaitu, harapan, kasih, dan solidaritas. Maka peziarahan bukan destinasi tetapi struktur fundamental hidup [9].

Relevansinya menjadi terang dalam konteks sosial saat ini yang sering menempatkan keberhasilan individu sebagai parameter utama kehidupan. Konsep homo viator justru menawarkan kritik halus namun tajam terhadap pandangan sukses yang bersifat reduksionis, ketika kehidupan menjadi ajang bagi akumulasi prestasi, hasil, dan produktivitas. Marcel mengajak kita memahami kehidupan sebagai jalanan yang terbuka, di mana harapan bukan sekadar tujuan, tetapi cara kita hidup, bukan sekadar outcome, tetapi orientasi terhadap realitas yang penuh misteri [10].

Pentingnya memahami manusia sebagai homo viator membawa dampak etis dan sosial. Jika keberadaan manusia adalah perjalanan, maka relasi dengan sesama menjadi unsur yang tidak terpisahkan dari eksistensi itu sendiri. Marcel menekankan bahwa dalam pertemuan antara peziarah satu dengan yang lain terbentuk suatu medan intersubjektif yang tidak bisa direduksi menjadi fungsi atau peran. Ini berarti bahwa hubungan antarmanusia harus dilihat sebagai ruang kehadiran yang otentik, bukan sebagai instrumen yang bersifat utilitarian.

Kembali ke akar filosofisnya, kita menemukan bahwa homo viator bukan sekadar kosakata klasik tetapi sebuah metafora hidup yang berakar dalam tradisi eksistensial-fenomenologis dan mampu menjembatani pengalaman personal dengan realitas sosial. Kata ziarah di sini bukan sekadar perjalanan ritualistik atau perjalanan rohani melainkan ciri ontologis dari cara manusia memahami dirinya dalam dunia yang tidak pernah sepenuhnya terungkap oleh rasio atau pengetahuan teknis semata. Dalam dunia yang dipenuhi ketidakpastian, di mana perubahan yang diakibatkan oleh kemajuan teknologi mempercepat laju hidup, refleksi tentang homo viator memberi kita sebuah kacamata untuk melihat kembali apa artinya “berada” dan “bergerak”. Manusia tidak pernah benar-benar tiba pada satu tujuan karena kedatangan itu sendiri selalu bersifat tertunda oleh harapan yang terus menerus harus diperbarui. Namun perjalanan itu bukan momok, melainkan ruang harapan, bukan rutinitas pasif, melainkan panggilan untuk hadir dalam relasi yang otentik, penuh harapan dan keterbukaan terhadap berbagai kemungkinan.

Dengan demikian, gagasan Marcel tentang homo viator menggugah kita untuk melihat kehidupan bukan sebagai rentetan kejadian yang dikendalikan oleh nalar objektif, tetapi sebagai perjalanan metafisis yang memerlukan keterbukaan, tanggung jawab kepada yang lain, dan harapan yang lebih besar daripada sekadar tujuan akhir. Di tengah lajunya modernitas, refleksi ini memberi kita sebuah kompas dengan orientasi yang dinamis terhadap apa artinya menjadi manusia dalam perjalanan kehidupannya.

Daftar Pustaka               

 [1] Gabriel Marcel, Homo Viator: Introduction to a Metaphysic of Hope, trans. Emma Craufurd and Paul Seaton (South Bend, Ind.: St. Augustine’s Press, 2010), 7–9.

[2] Marcel, Homo Viator, 11–13.

[3] Marcel, Homo Viator, 15–18.

[4] Rein Nauta, “The Prodigal Son: Some Psychological Aspects of Augustine’s Conversion to Christianity,” Journal of Religion and Health 47, no. 1 (2008): 75; lihat juga: Marcel, Homo Viator.

[5] Hope and the Condition Humaine | Oxford Compendium of Hope, Oxford Academic.

[6] Marcel’s theory of problem vs. mystery appears in his works; lihat rangkuman dalam: Marcel on mystery.

[7] Marcel, Homo Viator, 21–24.

[8] Penekanan Gabriel Marcel terletak pada keberadaan yang bersifat relasional dan keterbukaan. (EBSCO)

[9] Marcel, Homo Viator, 25–30.

[10] Refleksi tentang tujuan dan orientasi hidup dalam konteks filosofis Marcel. (ojs.seabs.ac.id)

Markus Kurniawan