Ekosida dan Kesalehan Ekologis
Oleh: Agung Setiawan, S.Hum.,M.Hum
Bencana banjir dahsyat yang melanda provinsi-provinsi di Pulau Sumatera pada akhir 2025 telah memperlihatkan betapa rapuhnya sistem ekologis kita ketika hutan yang seharusnya menjadi spons raksasa penahan air digunduli demi kepentingan ekonomi. Banjir yang menelan ratusan hingga lebih dari seribu korban jiwa, mengakibatkan jutaan orang kehilangan tempat tinggal, bukan semata fenomena cuaca ekstrem—melainkan kegagalan kolektif dalam menjaga hutan dan keseimbangan lingkungan yang telah berlangsung bertahun-tahun. Praktik pembukaan lahan untuk pertanian sawit, pertambangan, dan perkebunan besar telah melemahkan kemampuan alam untuk menyerap hujan deras, memperparah banjir dan longsor ketika cuaca ekstrem datang.
Jika kita menarik garis yang lebih luas ke fenomena global, terlihat pola yang sama: kapitalisme ekstraktif yang melihat alam sebagai komoditas terus berulang dalam berbagai dimensi kekuasaan. Di Venezuela, intervensi militer yang dipimpin pemerintahan Trump ditujukan bukan atas nama demokrasi atau kemerdekaan rakyat, tetapi atas akses terhadap cadangan minyak dan sumber daya strategis negara itu, meskipun itu berarti kekerasan, pembunuhan massal, dan pelanggaran hukum internasional. Wacana kepentingan strategis dan keamanan, tak lepas dari motif sumber daya mineral dan posisi geopolitik. Kesimpulan yang menguak ke permukaan adalah bagaimana kekuatan besar dunia terus melihat wilayah lain sebagai sesuatu yang bisa dimanfaatkan tanpa cukup memperhatikan suara masyarakat setempat atau batas lingkungan yang rapuh
Fenomena-fenomena ini memunculkan gambaran tragis tentang bagaimana sistem dunia modern, yang didorong oleh logika akumulasi modal tanpa batas, telah berkembang menjadi pembunuhan kolektif massal terhadap alam dan manusia. Banjir di Sumatera, intervensi militer di negeri lain, atau ambisi atas pulau jauh seperti Greenland sesungguhnya menunjukkan bahwa kita hidup dalam suatu kondisi di mana kapitalisme mengijinkan dan bahkan mendorong destruksi ekologis yang sistemik.
Dalam konteks ini, kita dihadapkan pada kondisi filosofis dan religius yang nyata: kita hanyalah debu di dunia yang rapuh ini—diberi amanah bukan untuk merusak, tetapi untuk memelihara. Namun kenyataannya, kita terlalu sering memilih untuk terus menggali, menebang, mengekstraksi, dan melihat kekayaan alam sebagai alat keuntungan cepat, bukan sebagai tanggung jawab moral dan ekologis. Kondisi ini memperlihatkan betapa pentingnya sebuah kesadaran ekologis, bukan sekadar retorika pelestarian tetapi sebagai kesalehan ekologis—pertaubatan batin kolektif yang memungkinkan manusia berhenti dan bertanya:
Apakah tindakan kita hari ini akan membuat bumi lebih adil, lebih layak bagi semua makhluk, atau justru menghancurkan masa depan?