Bertanya Kabar: Bukan Sekadar Formalitas

Oleh: Eder Timanta Sitepu, S.Th., M.Th.

‘’Halo, Apa kabar?’’

Demikianlah biasanya kita orang Indonesia menanyakan keadaan lawan bicara kita ketika pertama kali bertemu. Pertanyaan itu semakin ingin kita tanyakan, apabila kita sudah cukup lama tidak bertemu dengan teman, sahabat, keluarga atau orang yang kita kenal lainnya. Cara menanyakan kabar  itu tentu saja sangat beragam karena dipengaruhi oleh kebiasaan atau latar belakang suku, agama dan lainnya. Tentu saja itu tidak masalah. Hal yang menjadi masalah adalah ketika kita menanyakan kabar hanya sebatas basa-basi semata. Basa-basi menanyakan kabar akan dibalas juga dengan basa basi memberitahu keadaan. Hal tersebut menjadi sesuatu yang normal di masa kini. Rasanya sangat jarang ketika seseorang ditanyakan apa kabar, orang dari pihak yang lain akan jujur menyampaikan keadaannya. Sebagian besar orang akan menjawab keadaannya baik, meskipun mungkin keadaannya sedang tidak baik.

Kalau bertemu atau bertamu, orang modern akan saling bertanya ‘’Apa Kabar?’’ Namun di mulut penduduk yang mendiami pulau Sabu, pertanyaan itu akan menjadi ‘’Mami kemu, nawani?’’ (Sudah selesai masak, saudara?)

Berbeda lagi dengan suku Karo yang ada di Sumatera Utara. Kalau bertemu atau bertamu, orang Karo biasa mengucapkan ‘’Enggo kam man?’’ (Apakah kamu sudah makan?) Sudah atau belum makan akan memengaruhi pembicaraan selanjutnya. Kalau sudah makan, orang yang bertamu akan secara langsung menyampaikan tujuan utamanya bertamu entah itu membahagiakan atau memberatkan. Tetapi kalau belum makan biasanya tamu akan mencoba menanyakan lebih lanjut kesehatan tuan rumah, menanyakan sawah atau ladangnya baru sebagai wujud kepeduliannya. Setelah itu, tamu kemudian menyampaikan tujuan utamanya bertamu ke rumah orang tersebut.

Hal ini mengajarkan kita bahwa bertutur sapa atau menanyakan kabar bukan sekadar basa-basi semata. Orang Sabu dan Orang Karo memberikan teladan bahwa menanyakan kabar adalah tindakan yang memberikan ruang untuk kepedulian kepada hal-hal mendasar dari kehidupan orang-orang di sekitar kita. Menanyakan sudah memasak atau sudah makan adalah tindakan yang tampaknya sederhana tetapi sangat fundamental. Kesejahteraan dan kedamaian hidup dari seseorang hanya akan kita pahami ketika mengetahui makanan apa yang ia masak dan makanan apa yang ia makan.

Selain itu, kearifan lokal dari dua suku di atas juga mengajarkan kepada kita bahwa bertutur sapa bukan sekadar formalitas tetapi harus benar-benar bagian dari penghayatan hidup untuk menunjukkan kepedulian kepada orang lain.

Eder Timanta Sitepu, S.Th., M.Th