Tanah Air (bukan) Beta!
Oleh: Tedi Lesmana M.
Sejak jaman kerajaan-kerajaan rakyat tidak pernah ‘memiliki’ tanah air nusantara ini. Ketika raja-raja berkuasa, seluruh wilayah dikuasai oleh para raja dan bangsawan kerajaan. Ketika bangsa-bangsa asing datang, bahkan para penguasa malahan bersekongkol dengan para pendatang untuk mempertahankan atau merebut wilayah kerajaan pesaingnya.
Pada gilirannya, para penguasa lokal malah ditaklukkan oleh bangsa-bangsa asing untuk direbut kekuasaannya. Selanjutnya peralihan kekuasaan berubah. Ratusan tahun para penguasa wilayah datang silih berganti, dengan menguasai dan mengeksploitasi alam. Juga para penduduk dan masyarakat yang berdiam di sana.
Kekuatan dan kekuasaan selalu menempatkan masyarakat lokal dalam kelompok marjinal. Mereka bukan narasi utama cerita, melainkan hanya catatan kaki sejarah; meskipun mereka yang menopang sejarah arus utama.
Dari kepala suku, kepala daerah, bangsawan, pangeran, raja, gubernur jendral, presiden, DPR, dst.; tanah nusantara hanya dikuasai dan dimililiki oleh para penguasa bukan milik rakyat kebanyakan. Tanah air ‘beta’ hanya slogan saja tanpa rasa dan nilai sesungguhnya.
Ketika perang besar datang, penguasa baru dari bangsa sewilayah menjadi penguasa sejenak. Keadaan tidak berubah, tetap penguasa yang bertahta. Ironisnya ketika bangsa ini merdeka dari kekuasaan politik bangsa asing; penguasaan alam hanya berpindah tangan ke penguasa lokal, elit birokrasi, para konco dan oligarkhi. Itupun status kemerdekaan politik tidak terwujud dalam kemerdekaan ekonomi. Para penguasa menjadi ‘agen’ tenaga kerja untuk memperbudak anak bangsa sebagai kacung kapitalis barat. Bukan hanya agen, para penguasa menjadi kolaborator mengeruk kekayaan tanah air nusantara. Kemerdekaan hanya menjadikan penguasa lokal sebagai ‘centeng’ bos-bos kapitalis global.
Sejak dahulu kala tanah air nusantara tidak pernah milik ‘beta.’ Itu hanya narasi elok tetapi bukan kenyataan faktual. Para elit penguasa menentukan apa, siapa dan bagaimana tanah air ini dikelola dan dinikmati oleh kelompok elit. Memang ada sisa-sisa rembesan dan tetesan hasilnya pada rakyat; itu sekedar pemanis narasi kerakusan para penguasa.
Ini adalah kisah wilayah kepulauan nusantara yang dulu elok sekarang sudah carut-marut dan porak poranda oleh lobang-lobang tambang, tanah gundul hasil penebangan pohon, kerusakan ekosistem darah, sungai, danau, dan lautnya.
Para pemburu rente masih rakus selama ada yang dimakan, sampai semuanya tinggal tulang-tulang belaka, dan mungkin nanti mati bersama.