Sekedar Menghabiskan Waktu di Kelas

Oleh:  Tedi Lesmana M.

Sudah 13 kali pertemuan mengajar; masih saya ingat bahwa sejak sesi pertama telah disampaikan apa yang harus diselesaikan mahasiswa secara individu di pertemuan 10, yaitu penyerahan tugas akhir. Saya sudah membuat skema rencana pembelajaran, dan itu bisa diakses selama masa perkuliahan. Lebih lagi, setiap awal pertemuan masih juga diingatkan tentang jadwal pengiriman berkas tugas akhir tadi.

Faktanya, setelah memeriksa sistem bahwa masih ada beberapa anak yang belum mengirimkan tugas. Ketika dikonfirmasi kepada siswa bersangkutan; kebetulan anaknya hadir, pandangannya kosong ke depan, seolah mencari alibi tetapi tidak ditemukan alasan yang cukup kuat. Semua yang saya klarifikasi seolah tidak menimbulkan celah alasan, mengapa ia belum mengirimkan tugas. Ironisnya sebagai anggota kelompok harusnya dia memiliki berkas kerja kelompok yang sama, sementara teman-temannya sudah mengirimkan tugas sedangkan dia belum. Lalu, kenapa tugasnya belum juga dikirimkan?

Setelah lama tidak bergeming dengan tatapan kosong, akhirnya dia ‘terpaksa’ menggunakan alasan klasik yang mungkin sudah ada sejak jaman kolonial. “Lupa pak!”. Hemm, lalu saya tanggapi, “Apakah kamu lupa selama 1 semester sejak sesi pertama sampai dengan sesi 13? Kok rasanya aneh sekali, apa kamu hilang ingatan?”; dia tidak melanjutkan jawaban dan hanya diam. Akhirnya menjawab “Baik, pak, akan saya kirimkan.”

Sementara satu teman lainnya sepertinya sudah siap dengan alibi lain, “Pak, bukankah tenggatnya tanggal 23 Desember?”; saya menjawab “Ya, tenggat 23 Desember adalah pengiriman tetapi sudah disepakati bahwa sesi 10 harus sudah dikirim secara individu. Kalau kamu kirim pas hanya di tenggat tidak ada waktu untuk revisi dan perbaikan bukan?”

Di luar tadi, masih banyak ‘kebiasaan’ lain yang menjadi fenomena klasik, seperti abai dengan tidak hadir di kelas, ‘pola pikir jatah’ absen dianggap ‘hak cuti’, menanyakan hal yang sama berulang-ulang padahal sudah diberi panduan dan penjelasan, dll.

Macam-macam memang tingkah dan alasan; tetapi yang lebih mengherankan saya adalah apakah mahasiswa datang ke kelas hanya untuk ‘numpang’ adem di ruangan yang dingin? Apakah kuliah, datang, duduk, dan diam menjadi metode paling pasif sebagai bentuk apatisme? Jadi ketika di dalam kelas sebetulnya ‘kesadaran’ mereka ada di mana? Distraksi memang menjadi gejala umum, menjadi hadir di sini saat ini adalah ketrampilan belajar yang sulit ditemukan dengan HP selalu di genggaman. Tentu saja ini terjadi hanya pada ‘sebagian’, tidak semua; sayangnya ‘model’ seperti ini selalu ada pada tiap generasinya. Yang menjadi kekhawatiran saya jumlahnya setiap tahun seolah bertambah?

Tamat belajar memang seperti datang, duduk, diam; mungkin tidak mendengarkan, apalagi menyimak; mereka seolah ada hanya ketika dipresensi tetapi kehadirannya seperti ‘kosong’. Sebagian tidak terlibat aktif dalam memperhatikan, menyimak, mendengarkan, atau mengklarifikasi perintah-perintah atau tugas kuliah. Pemandangan siswa menunduk menatap HP ketika sesi pelajaran adalah ‘kebiasaan seragam’ jaman ini. Sepertinya ini contoh klasik dan klise dari peserta didik di banyak tempat. Perlukah kita memakluminya atau menyelesaikannya?

Saya jadi terbayang bahwa situasi tadi tidak mungkin terjadi di lingkungan pendidikan militer. Mana ada siswa ‘bengong’ di sana? Tetapi setidaknya semangat itu boleh kita contoh dan pelajari; ada keterlibatan aktif di sana. Setidaknya ketika siswa masuk dalam model pendidikan militer ada kesadaran kuat bahwa hal itu akan terjadi, itu bukan pilihan tetapi pengkondisian. Sementara dalam pendidikan sipil, sikap seolah pilihan dan sistem pendidikan memberikan ruang untuk itu. Pengkondisian saat ini terlalu lunak dan guru seringkali menjadi serba salah jika ‘kelewat batas’.

Gaya ‘old school’ yang sudah banyak ditinggalkan mungkin perlu diadaptasi agar kembali relevan.

Tedi Lesmana M