Menyingkap Sistem Pendidikan sebagai Rantai Pasok Menuju Otentisitas Subjek
Oleh: Tedi Lesmana M.
Pada Abad 18 di Prusia (sekitar Jerman utara dan Polandia saat ini) suatu kerajaan yang sangat militeristik mengembangkan model ‘pendidikan’ yang menjadi cikal bakal pendidikan modern. Sistem yang dibangun mengembangan model ‘akar kedisiplinan dan kepatuhan’ dengan kontrol negara yang ketat. Model pendidikan itu tentu tidak dirancang untuk ‘pencerahan’ melainkan kebutuhan negara akan tentara dan ‘warga yang patuh’. Sistem ini memperkenalkan pembagian kelas berdasarkan usia dan standarisasi kurikulum sebagai alat kontrol sosial, yang secara sistematis menggantikan momen Kairos dengan Kronos. Model ini menghilangkan watak ontologi-epistemik peserta didik yang diposisikan sebagai objek pasif yang ‘diproses secara seragam’. Inilah awal mula ‘lonceng sekolah’ mengondisikan manusia seperti mekanisme mesin pabrik, menghancurkan kemandirian dan kebebasan subjek demi stabilitas birokrasi. Manusia telah masuk dalam suatu pengkondisian seperti diilustrasikan dalam ‘percobaan anjing Pavlov’ (Pavlov’s dog experiment) yaitu pengkondisian klasik. Ketika lonceng dibunyikan anjing mengeluarkan air liur sebab sebentar lagi makanan akan diberikan.
Model pendidikan mekanistik dengan pengkondisian administratif yang menekankan semangat kepatuhan tadi diadopsi di Amerika Serikat pada abad ke-19; melalui seorang tokoh bernama Horace Mann. Pendidikan secara resmi bertransformasi menjadi ‘rantai pasok industri’ mendukung revolusi industri pada abad sebelumnya. Munculnya The Carnegie Unit (cikal bakal SKS) mempertegas bahwa pendidikan tidak lagi diukur berdasarkan kualitas ‘formasi subjek’, melainkan dari “jam duduk” atau kuantitas waktu kontak di dalam kelas. Jenjang pendidikan dasar hingga tinggi disusun menyerupai jalur perakitan (assembly line) yang mangkus dan sangkil ala pendekatan Henri Ford untuk perakitan mobil-mobilnya; menjadikan peserta didik tenaga kerja siap pakai. Logika ini melahirkan fenomena “tamat tanpa belajar“, sebab ‘kegagalan’ akan menghambat produktivitas dan mengganggu laju jalur perakitan. Akibatnya, proses pendidikan berubah menjadi pabrik ‘ijazah’ tanpa otentisitas kemerdekaan dan kemandirian subjek (lihat Paulo Freire). Persoalannya bukan menambah terus ketrampilan peserta didik; tetapi manusia sudah menjadi baut dan mur mesin industri (lihat Zuhandenheit dan Gestell pada Heidegger).
Sebetulnya ini bukan kesalahan kampus; ini kegagalan bangsa secara umum dan pemerintah secara khusus yang secara mentalitas belum ke luar dari kolonialisasi pendidikan barat dan juga penindasan sistemik masyarakat industri modern. Negara dan industri menjadi bagian dari sistem penindasan sistemik. Proses pendidikan lebih terasa sebagai diklat terselubung industri daripada proyek mencerdaskan kehidupan bangsa seperti dicita-citakan dalam kemerdekaan.
-selesai-