Baca Agar Tetap Waras: Menemukan Kembali Nikmatnya Membaca di Tengah Gempuran Layar

Oleh: Petrus Hepi Witono (D5048)

Di era Gen Z, tantangan terbesar dunia literasi bukanlah ketiadaan buku, melainkan melimpahnya distraksi. TikTok, Instagram, dan berbagai platform visual mampu menyita waktu remaja hingga lebih dari empat jam sehari—bahkan lima jam, seperti yang saya alami sendiri melalui pemantauan digital. Fenomena ini bukan sekadar kebiasaan, tetapi sinyal bahaya jika dibiarkan. Membaca perlahan tersingkir, dianggap membosankan, padahal di sanalah kekuatan berpikir dan imajinasi tumbuh.

Padahal, membaca bukan hanya tentang menyelesaikan halaman demi halaman, melainkan tentang menemukan dunia baru. Seperti kata George R.R. Martin, “A reader lives a thousand lives before he dies.” Membaca memberi remaja kesempatan untuk hidup dalam berbagai peran, memahami sudut pandang berbeda, dan membangun empati—hal-hal yang tidak selalu bisa diberikan oleh konten singkat di layar.

Budaya membaca harus dilestarikan bersama. Keluarga memegang peran awal, tetapi sekolah dan kampus tidak boleh lepas tangan. Membaca seharusnya tidak diposisikan sebagai kewajiban akademik semata, melainkan sebagai pengalaman yang menyenangkan dan membebaskan. Lingkungan yang kaya buku, kebiasaan membawa buku ke mana pun, serta keteladanan orang dewasa yang gemar membaca akan membentuk persepsi remaja bahwa membaca adalah bagian dari gaya hidup, bukan hukuman.

Stephen King pernah menulis, “Books are a uniquely portable magic.” Buku adalah sihir yang bisa dibawa ke mana saja—di sela menunggu, di perjalanan panjang, atau saat ingin beristirahat dari hiruk-pikuk media sosial. Ketika remaja diberi ruang untuk memilih buku sesuai minatnya, membaca tidak lagi terasa dipaksakan, melainkan dicari.

Mengunjungi perpustakaan, toko buku, atau berdiskusi ringan tentang bacaan juga menumbuhkan kegembiraan intelektual. Di sanalah membaca menjadi pengalaman sosial, bukan aktivitas sunyi yang terasing. Jika kita ingin remaja mencintai membaca, maka tugas kita adalah membuat membaca terasa dekat, relevan, dan menyenangkan.

Budaya membaca tidak lahir secara instan. Ia tumbuh dari kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus. Karena sejatinya, pembaca tidak dilahirkan—mereka dibentuk, satu buku, satu cerita, dan satu waktu bermakna dalam hidupnya.

Petrus Hepi Witono