Kabut Sore dan Kabut Hidup
Oleh: Oki Hermawati
Suatu sore ketika saya sedang duduk santai di teras sebuah penginapan, tiba-tiba datanglah pemandangan yang belum pernah saya alami. Hari sebelumnya, ketika duduk santai di teras, pemandangan yang ada adalah keindahan puncak gunung, awan yang cerah menari-nari. Sore itu menjadi sore yang berbeda. Tiba-tiba turun kabut, pertama-tama langit masih tampak cerah, lalu kemudian mulai redup, perlahan gelap dan kabut tipis mulai menghiasi. Kabut perlahan-lahan turun dan mulai tebal sehingga teras diselimuti kabut yang cukup pekat.
Suasana indah itu saya rekam dan foto untuk diabadikan. Indahnya berada di dalam kabut sore yang mengubah udara panas sebelumnya menjadi dingin dengan suhu 18 derajat celcius. Peristiwa kabut tebal yang menyelimuti berlangsung kurang lebih 15 menit sampai mulai perlahan-lahan kabut sirna dan saya melihat mobil kami basah dengan tetes air, pelataran penginapan basah, tetes air di pohon-pohon pekarangan. Menikmati peristiwa kabut sore itu menjadi bagian terindah dari pengalaman menginap di daerah puncak gunung.
Kabut sore itu memberikan pengalaman yang mendalam dalam jiwa. Suatu refleksi tentang pengalaman dalam kehidupan manusia. Ada dua hal yang bisa direfleksikan dari pengalaman kabut sore. Pertama, kabut sore seperti kabut hidup dimana tiba-tiba kabut menghampiri kita. Kabut hidup perlahan menghampiri kehidupan. Awalnya langit cerah perlahan gelap lalu diselimuti kabut, sinar matahari terhalang sehingga mulai nampak gelap. Kabut hidup bisa ada dalam 2 peristiwa, baik peristiwa menyenangkan maupun peristiwa memedihkan.
Bagi saya saat itu, kabut sore seperti pengalaman yang menyenangkan, karena cuaca yang panas tiba-tiba menjadi dingin setelah datangnya kabut, membuat saya menari-nari ditengah rintikan air di dalam kabut yang perlahan mulai menghilang. Tetapi juga dalam hidup, kabut yang datang bisa saya menjadi peristiwa yang menakutkan, bukan lagi menyenangkan. Kedua, kabut sore seperti kabut hidup dimana bicara tentang pengharapan.
Manusia dalam berbagai macam peristiwa membutuhkan yang namanya pengharapan. Pengharapan ketika kabut hidup menyelimuti dan segera sirna kegelapan digantikan dengan cahaya terang. Bicara tentang pengharapan meski ada di dalam gelapnya kabut. Menikmati tetesan air yang mulai membasahi kulit kita. Menikmati udara sejuk yang ada di dalamnya. Menikmati kesendirian berada dalam kabut dan mengharapkan kehadiran Ilahi yang tidak terlihat. Jadi, nikmati kabut sore dan nikmati kabut hidup, karena keduanya memberikan pengalaman istimewa dan harapan dalam hidup manusia. Jadi mau berkabut atau tidak? 😊