Tahu Memberi Apa yang Baik

Oleh: Arcadius Benawa

Di dalam Kitab Suci Perjanjian Lama persisnya pada Kitab Kejadian bab 18, ada kisah menarik antara Abraham dan Tuhan. Ketika itu dikisahkan Tuhan menyatakan rencana-Nya untuk menghancurkan Sodom dan Gomora karena kejahatan kota-kota tersebut yang sudah pada tahap keterlaluan. Sudah tidak bisa ditolerir lagi. Dalam kondisi seperti itu Abraham mencoba meminta Tuhan untuk mengampuni saja orang-orang Sodom dan Gomora itu. Seolah Abraham dalam percakapan negosiasi yang panjang itu tampil menjadi negosiator bagi Sodom dan Gomora.

Pertama, Abraham ingin agar Tuhan mengampuni demi orang-orang benar yang tinggal di Sodom dan Gomora. Maka Abraham bertanya kepada Yahwe, “Apakah Engkau akan melenyapkan orang benar bersama-sama dengan orang fasik? Bagaimana sekiranya ada lima puluh orang benar dalam kota itu? Apakah Engkau akan melenyapkan tempat itu dan tidakkah Engkau mengampuninya karena kelima puluh orang benar yang ada di dalamnya itu? Jauhlah kiranya dari pada-Mu untuk berbuat demikian, membunuh orang benar bersama-sama dengan orang fasik, sehingga orang benar itu seolah-olah sama dengan orang fasik! Jauhlah kiranya yang demikian dari pada-Mu! Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?” (Kejadian 18:23-25).

Ternyata memang tidak ada 50 orang yang benar di Sodom dan Gomora. Ditawar terus oleh Abraham sampai tinggal 10 orang benar. Abraham meminta Tuhan untuk mengampuni kota itu meskipun hanya ada sepuluh orang benar (Kejadian 18:32). Tuhan setuju untuk mengampuni kota itu demi sepuluh orang benar. Tapi, ternyata juga tidak ada 10 orang benar.

Abraham yang berbelas kasihan kepada penduduk Sodom dan Gomora itu akhirnya memahami penghakiman Tuhan atas dosa mereka yang memang sudah keterlaluan. Oleh karena itulah Tuhan benar-benar menghancurkan Sodom dan Gomora. Tuhan hanya menyisakan Lot dan kedua putrinya. Tuhan juga berencana untuk menyelamatkan istri Lot, tetapi istri Lot meninggal ketika ia tidak menaati Tuhan dan berbalik untuk melihat kota yang sedang dihancurkan.

Belas kasihan Abraham kepada penduduk Sodom dan Gomora mengungkapkan hati seorang pria yang sangat peduli kepada orang lain, termasuk mereka yang tidak mengikut Tuhan. Bahkan, para malaikat yang mengunjungi Lot diancam oleh orang-orang Sodom yang ingin berhubungan seks dengan mereka. Meskipun penduduk Sodom jahat, Abraham tidak ingin melihat kehancuran mereka.

Seperti Abraham, kita dipanggil untuk memiliki belas kasihan yang besar kepada orang lain, termasuk mereka yang hidupnya tidak mengikuti jalan Tuhan. Selain itu, kita juga harus menerima penghakiman Tuhan, bahkan ketika keputusan-Nya bukanlah pilihan yang kita inginkan.

Permintaan Abraham agar kota-kota tersebut diluputkan ditolak. Tuhan terkadang berkata “tidak” terhadap permintaan kita, bahkan ketika kita berdoa dengan niat yang baik. Tuhan mungkin memiliki rencana lain yang tidak kita pahami, namun merupakan bagian dari kehendak-Nya yang sempurna.

Itu sebabnya bacaan tentang belas kasih Abraham itu disandingkan dengan bacaan dari Injil Matius tentang Bapa yang berbelas kasih. “Jadi, jika kamu yang jahat saja tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.”

Hal ini tentu dimaksudkan agar Umat tidak salah paham bahwa seolah Allah kalah dalam berbelas kasih daripada Abraham. Hukuman yang diberikan atas dosa manusia yang jahat bukan karena Allah tidak berbelas kasih, melainkan agar yang tumbuh kembang adalah yang terbaik. Hal itu terjadi juga saat peristiwa Nuh dan juga puncaknya tentu pada peristiwa Tuhan Yesus Kristus.

Kematian Yesus Kristus bukan karena Allah yang tidak berbelas kasih pada Putera-Nya, tetapi supaya Umat manusia tercelikkan mata imannya bahwa Allah sedemikian besar kasih-Nya kepada manusia, sehingga Ia merelakan Putera-Nya yang tunggal wafat demi penebusan dosa-dosa kita.

Maka janganlah kita masih berburuk sangka lagi tentang Allah, mana kala kita merasa doa dan permohonan kita tidak dikabulkan oleh Tuhan yang bersabda: Mintalah maka kamu akan diberi. Ketuklah maka pintu akan dibukakan bagimu. Carilah maka kamu akan mendapatkan. Pastilah Tuhan memiliki rencana yang terbaik bagi kita, yakni rencana keselamatan sebagaimana telah Ia nyatakan dalam peristiwa Natal dan Paskah: Putera-Nya yang datang ke dunia untuk menebus dan menyelamatkan kita umat manusia.

Arcadius Benawa