Refleksi Malam

Oleh: Markus Kurniawan

Menunggu rasa kantuk menyapa, saya iseng-iseng membuka buka Hp, tanpa sengaja menemukan tulisan dalam sebuah media online. Judulnya menarik perhatian: Inilah 7 Koruptor Termuda Dalam Sejarah Indonesia, Nur Afifah Balqis Bukan yang Paling Belia. Isinya singkat namun menyedihkan, yaitu daftar nama 7 orang-orang berusia muda antara usia 22-38 tahun yang ditanggap aparat hukum karena kasus korupsi. Bukan hanya muda mereka juga terdidik secara intelektual. Jika masih begitu muda sudah menjadi pencuri uang rakyat, maka apakah masih ada masa depan bagi negara ini? Saya sendiri berharap banyak pejabat di negara kita berasal dari generasi muda, apakah harapan tersebut sudah bubar dan berserah saja pada nasib? Itu merupakan dua pertanyaan yang langsung muncul di kepala.

Sebagai seorang pendidik generasi muda, yang menghabiskan sebagian besar waktu mendidik para mahasiswa di kampus, kenyataan diatas menjadi tantangan. Saya teringat pada salah satu tokoh muda di beberapa dekade lalu: Soe Hok Gie. Seorang Idealis yang mati muda. Dalam buku catatan hariannya dia menulis, “Kita, generasi kita ditugaskan untuk memberatas generasi tua yang mengacau. Generasi kita yang akan menjadi hakim atas mereka yang dituduh koruptor-koruptor tua” (Catatan Seorang Demonstran: LP3ES, 2021, 71). Sebagai orang muda saat itu, Gie adalah orang yang yang gelisah dengan keadaan masyarakat dan negaranya. Harapannya digantungkan pada generasinya: Generasi muda.

Korupsi, merupakan sebuah patologi sosial yang sudah terjadi jauh sebelum lahirnya republik ini. Penyebab, motif, dampak, cara pencegahan serta segala upaya sudah banyak dilakukan tanpa hasil yang memuaskan, masyarakat juga sudah tidak lagi peduli. Sudah banyak ahli, tokoh dari berbagai bidang, berbicara tentang ini, tanpa hasil. Masih ada harapankah? Saya pribadi tidak lagi berharap banyak. Namun harapan sekecil apapun,ia tetap berharga. Jika tidak bisa berharap pada satu generasi anak-anak, maka berharap pada generasi selanjutnya, selanjutnya dan selanjutnya.

Dalam keseharian kita selalu berjumpa dengan harapan. Kesibukan sehari-hari, dari yang terkesan sepele hingga yang berharga dibaliknya ada sebuah harapan. Dosen memiliki harapan, mahasiswa, orang tua, pengemudi ojek, para pemulung, hingga para pemangku jabatan, dari yang tidak terdidik hingga yang sangat terdidik semuanya punya harapan dan digerakkan oleh harapa.Dan hanya dengan harapanlah republik ini bisa dibangun. Harapan membuat semangat tidak redup,seperti mata ini yang tidak mau juga redup.

Markus Kurniawan