Buah Tangan dari Pasar

Oleh: Eder Timanta Sitepu, S.Th., M.Th.

Beberapa waktu lalu, dalam perjalanan menuju Cianjur, ada sebuah pemandangan yang menarik buat saya. Dalam sebuah angkot berwarna biru trayek Cipanas-Cianjur, mata saya tertuju kepada seorang ibu yang membawa beberapa kantong plastik belanja. Barang yang dibawanya tidak sedikit. Saya sempat berpikir, ibu ini tidak akan mampu membawa semua kantong plastik tersebut sendiri ketika turun dari angkot. Tetapi, beberapa saat kemudian, di turunan kampung Cibeureum, si Ibu meminta pak supir untuk memberhentikan angkot.

“Kiri Payun!” serunya.

Tampak di sisi jalan, ada beberapa anak yang menyambut ibu itu dengan seruan tanda bahagia. Anak-anak tersebut, dengan wajah riang gembira lalu mengambil satu per satu kantong plastik milik Si ibu. Anak-anak tersebut mengiring dan membantu sang ibu menuju rumah mereka dengan penuh rasa bahagia.

Pemandangan tersebut membawa saya kembali mengingat kisah 20 tahun lalu. Dulu,  saya selalu senang menunggu kedatangan ibu pulang dari pasar. Jam demi jam,  bersama kakak dan adik, kami menanti dan berimajinasi, oleh-oleh apa yang akan dibawa ibu saya.

Ketika mendengar klakson khas dari sebuah mobil angkutan umum, kami buru-buru menuju depan rumah sambil berseru, “mamakkk!” Kami pun membantu ibu membawa barang-barang belanjaannya ke dalam rumah. Sesampainya di dalam rumah kami langsung memeriksa setiap kantong plastik, berharap ada oleh-oleh yang menyenangkan hati kami.  Tak peduli harga hasil tani baik atau tidak, Ibu pasti selalu membawa buah tangan untuk kami. Meskipun hanya seloyang martabak atau sekantong buah salak, hal itu cukup membuat kami bahagia. Ia tak lagi berfokus kepada susah hatinya karna harga hasil tani yang kurang baik. Yang penting baginya adalah bagaimana agar anak-anaknya di rumah tetap merasa bahagia. Saat itu, kebahagiaan ibu terwujud di senyum dan tawa anak-anaknya.

Kisah itu membuat saya percaya bahwa bahagia bukan bentuk superioritas. Seperti yang disampaikan Aristoteles, kebahagiaan itu dapat dicapai dengan melakukan kebajikan kepada yang lain. Kebahagiaan itu tidak dicapai mungkin dicapai seorang diri. Bahkan, kebahagiaan tidak akan hadir ketika yang lain menderita. Peristiwa itu sangat membekas dan membuat saya ingin selalu membawa kabar baik  ketika pulang ke rumah. Bukan untuk melunasi utang budi. Tetapi ingin melihat orang seisi rumah saya  bahagia. Hanya untuk itu.

Eder Timanta Sitepu, S.Th., M.Th.