Guru – Pahlawan Tanpa Tanda Jasa? (Serial Pendidikan – 3)

Oleh: Murty Magda Pane, ST., M.Si

Artikel saya bulan lalu berbicara tentang guru berikut cara agar menjadi guru yang baik dan dicintai oleh murid-muridnya. Tetapi, mengingat tugas guru yang berat, maka menjadi seorang guru yang bertugas mendidik harus juga kuat. Nah, bagaimana agar bisa menjadi guru yang kuat? Pertama, selalu ingin belajar dan meningkatkan wawasan. Nah alasan pertama ini penting banget dimiliki oleh seorang guru, karena dengan perkembangan yang super cepat – peserta didik akan mudah mengakses informasi dari internet, oleh itu guru juga harus bisa meningkatkan wawasan sesuai perkembangan zaman. Kedua, pekerjaan guru selalu dinamis. Dalam memberikan pelajaran kepada peserta didik, guru harus bisa mengambil hati mereka agar maksimal dalam menyerap ilmu yang disampaikan, oleh itu guru melakukan inovasi baik dalam media pembelajaran maupun teknik dalam mengajar.

Ketiga, meraih keberkahan dengan mengajar sambil beramal. Inilah yang banyak dicari oleh para guru sehingga kesetiaan mereka mengajar selama berpuluh-puluh tahun tidak tergoyahkan. Para guru meyakini bahwa banyak ilmu jariyah yang selalu mengalir dalam setiap ilmu yang diajarkan. Maka tidak heran ada istilah Guru adalah Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, padahal berkat jasa guru banyak mengantarkan pemimpin bangsa hingga pengusaha sukses berhasil dalam karir mereka (sumber: https://www.kompasiana.com/yogimudasukses/617097ac06310e434e7d0ab2/guru-sang-pendidik-yang-tak-pernah-kekang-oleh-zaman).

Tetapi, setuju seratus persenkah kita, dengan istilah guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa? Bagaimana kita memaknai frase ini? Apakah banyaknya guru honorer dengan upah yang tidak seberapa sehingga untuk menyambung hidup saja sulit, termasuk implementasi frase ini?

Guru memang dijuluki sebagai pahlawan tanpa tanda jasa karena profesi ini memberikan kontribusi besar bagi bangsa sehingga layak disebut pahlawan. Namun, guru tidak pernah memperoleh tanda jasa seperti pahlawan-pahlawan nasional. Bahkan, hingga saat ini masih banyak guru yang tidak mendapatkan imbal jasa yang layak.

Julukan guru sebagai Pahlawan Tanpa Tanda Jasa diperkirakan ada sejak 1970 hingga 1980-an. Kala itu, menjadi guru merupakan pekerjaan yang luar biasa berat. Guru-guru masa itu dituntut mengajar para siswa di tengah keterbatasan akses, fasilitas, dan jaminan keamanan. Selain itu, para guru juga dituntut untuk bersekolah hingga jenjang tinggi, memiliki banyak pengetahuan, serta mengorbankan waktu dan tenaga. Akan tetapi, bayaran yang diterima tidak sepadan dengan usahanya. Bahkan, tak jarang guru terpaksa harus menjalani pekerjaan tambahan untuk menambah pendapatannya. Hal itulah yang menjadi latar belakang guru dijuluki pahlawan tanpa tanda jasa. Basaruddin pun berpendapat, julukan tersebut disematkan untuk menggambarkan bahwa guru merupakan orang yang berjasa untuk negara. Akan tetapi, mereka tidak mendapatkan penghargaan sepadan. Perlu diingat, guru memiliki jasa yang besar bagi bangsa dan negara. Tidak hanya sebatas di pendidikan formal, tetapi guru juga berjasa untuk perkembangan holistik para siswa (sumber: https://www.badamita-banjarnegara.desa.id/index.php/first/artikel/698).

Menjadi guru yang dianggap pahlawan, karena menjadi pejuang pendidikan memang tidak mudah. Bisa dibayangkan bahwa seorang individu dikatakan baik karena pasti dia mendapatkan pendidikan yang baik. Bisa kita bayangkan jika individu-individu baik ini berkumpul dalam suatu komunitas, yang kemudian membersar menjadi sebuah bangsa. Pasti bangsa tersebut akan menjadi bangsa yang maju, bukan? Tetapi, biar bagaimanapun, seorang guru tetaplah seorang manusia juga, yang memiliki hak untuk berbahagia dan memiliki mental yang sehat. Lalu, kira-kira, bagaimana menjadi guru yang baik dan bermental sehat? Karena, jangan sampai sang guru menyenangkan orang lain tetapi menyiksa diri sendiri. Rasa tersiksa tersebut mau tidak mau pasti terasa oleh para murid yang mendapatkan pendidikan dari sang guru melalui interaksi dengannya. Sebelum kita membicarakan guru yang bermental sehat, maka kita beralih dulu sebentar ke serial kesehatan mental pada bulan depan ya.

Murty Magda Pane, ST., M.Si