Guru, Kesehatan Mental dan Kualitas Pendidikan Kita (Serial Tulisan tentang Kesehatan Mental – 4 )

Oleh: Murty Magda Pane, ST., M.Si

Pada bulan-bulan yang lalu, saya sudah menulis tentang guru dan pendidikan, juga kesehatan mental. Di akhir tahun 2023 ini, saya ingin merangkum tulisan-tulisan saya tersebut. Aspek-aspek pokok yang saya garisbawahi dalam beberapa tulisan tersebut adalah guru, pendidikan, kesehatan mental, wellbeing untuk kebahagiaan dan system thinking kita.

Kesehatan mental adalah aspek yang sangat penting untuk dimiliki oleh seorang guru, karena dari gurulah mengalir ilmu-ilmu dan pendidikan. Dalam melaksanakan kewajibannya di sekolah, seseorang yang telah mendapat predikat guru dalam dirinya tentu menemui berbagai tantangan dan dinamika pada lingkungannya. Sikap peserta didik yang belum mencerminkan sebagai seorang siswa yang sesuai dengan tujuan pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara, yaitu membentuk budi pekerti yang halus, meningkatkan kecerdasan otak dan mendapatkan kesehatan badan; menjadi salah satu dari sekian banyak persoalan yang di hadapi oleh para guru di sekolah. Belum lagi ketika mereka mendapatkan pimpinan yang selalu berganti seiring berjalannya waktu, menjadi faktor lain yang mungkin dapat memicu kesehatan mental seorang guru menjadi tidak stabil. Rasa tertekan, tidak bebas mengungkapkan pendapat di muka umum, hingga dalam proses penilaian siswa yang kurang objektif adalah sebagian dampak yang dialami oleh guru terhadap kesehatan mental yang mereka miliki.

Dikutip dari laman https://solusisehatmental.com/kesehatan-mental-guru/ disampaikan bahwa “Kesehatan mental guru sangat menentukan kualitas dan kemampuan guru dalam melaksanakan pekerjaannya sebagai pengajar dan pendidik.” Pada laman tersebut juga disampaikan “Permasalahan dan gangguan yang sering ditemukan pada guru antara lain adalah stres, burnout, kepuasan kerja yang rendah, ketidakhadiran, hingga keinginan yang tinggi untuk berhenti mengajar”.

Dapat kita amati dari kutipan di atas bahwa setiap guru sangat rentan memiliki resiko gangguan mental tanpa mereka sadari. Oleh karena itu, penting bagi setiap sekolah terutama pimpinan sekolah untuk tetap menjaga lingkungan sekolahnya agar tetap sehat tidak hanya secara fisik namun juga secara mental agar tujuan pendidikan di Indonesia dapat tercapai. Dikutip dari tulisan pada laman https://www.oborberkat.com/trial/index.php/read/id/1131/title/ dengan judul “Kesehatan Mental Tenaga Pendidik Menjadi Tantangan Setelah Masa Pandemi”, dinyatakan bahwa “kesehatan mental yang baik antara pendidik dan peserta didik dapat menciptakan interaksi yang lebih luas dan menghasilkan perkembangan yang signifikan.” Berdasarkan kutipan tersebut, kesehatan mental seorang guru jelas mempengaruhi kualitas dari satuan pendidikan itu sendiri.

Beberapa cara untuk menjaga kesehatan mental guru dalam menjalankan kewajibannya meliputi: psikoedukasi tentang kesehatan mental, pelatihan manajemen emosi, pelatihan manajemen pekerjaan, dan yang terakhir tentunya work-life balance, mengingat tugas guru cukup berat (sumber: https://guruinovatif.id/artikel/mental-guru-yang-sehat-dapat-mewujudkan-kualitas-pendidikan-yang-hebat).

Uraian di atas menunjukkan kita bahwa meningkatkan derajat kesehatan mental Masyarakat melalui pendidikan bukanlah hal yang mudah. Padahal, salah satu strategi yang tersedia adalah membentuk system thinking tertentu sehingga bisa diperoleh kebahagiaan, yang berpengaruh pada kesejahteraan psikologis (psychological wellbeing) kita pada akhirnya bisa meningkatkan derajat wellbeing kita secara keseluruhan. Dari sini bisa dikatakan bahwa para guru yang sudah ada seyogyanya memiliki system thinking seperti yang dikehendaki terlebih dahulu, baru mereka bisa menularkannya kepada para peserta didiknya.

Tapi, satu hal yang harus kita ingat bahwa kita tidak bisa menggantungkan kebahagiaan kita kepada orang lain. Kebahagiaan kita tergantung kepada diri kita sendiri. Kebahagiaan bisa kita dapatkan dari energi positif pikiran kita. Dari sinilah kita harus mengatur system thinking kita agar kita mendapatkan wellbeing kita. Bagaimana cara kita mendapatkan wellbeing dari pikiran kita? Wah, akan panjang sekali penjelasannya. Membutuhkan banyak artikel untuk menjabarkannya satu per satu.

Nah, di bulan Desember penutup tahun 2023 ini, saya akan memulainya dengan cara sederhana, yaitu bersyukur. Mensyukuri apapun yang terjadi pada saya di tahun 2023 ini. Yang buruk menjadi pelajaran, bahkan mungkin bisa menjadi suatu pengalaman yang lucu nantinya dan yang bagus menjadi kenangan indah. Sehingga saya memiliki energi positif baru dan bisa mengatakan kepada diri saya: “Terima kasih 2023, selamat datang 2024.”

Murty Magda Pane, ST., M.Si