Lukisan Damai Sejahtera

Oleh: Simon Mangatur

Sebuah lagu selalu menggambarkan gejolak jiwa insan manusia, pun demikian sebuah lukisan menggambarkan kehidupan insan manusia. Salah satu gejolah dari kehidupan manusia itu adalah pencarian akan damai sejatera. Dua lagu berikut mengambarkan hal itu:

Damai Tapi Gersang

Seindah dalam kata
Seindah dalam cinta
Bilakah segala galanya bersatu?
Tetapi kenyataan,
Hidupnya pengorbanan,
Tinggal pengabisan lamunan,
Berlalu…

Semua kehidupan dia,
Berkhayal tinggal yang ada…
Rindu sayangi sesama,
Hidupmu, sebentar saja…

Seharum wangi bunga,
Hidup bersandiwara,
Beribu katanya, senada merayu…

Tetapi kenyataan,
Hidup berliku ganda…
Tinggalkan bertanya…
Bertanya…Tiada…

Semua kehidupan dia,
Berkhayal tinggal yang ada
Rindu sayangi sesama,
Hidupmu, sebentar saja…

Dan kini tiba saatnya,
Bahagia datang padanya.
Semua saling mencinta,
Di kedamaian yang ada…

Ta..tada..tadadada…
Hidupmu…
Sebentar… Saja…

Damai Bersama Mu

Aku Termenung Di Bawah Mentari
Di Antara Megahnya Alam Ini
Menikmati Indahnya Kasih-Mu
Kurasakan Damainya Hatiku

Sabda-Mu Bagai Air Yang Mengalir
Basahi Panas Terik Di Hatiku
Menerangi Semua Jalanku
Kurasakan Tenteramnya Hatiku

Reff;
Jangan Biarkan Damai Ini Pergi
Jangan Biarkan Semuanya Berlalu
Hanya Pada-Mu Tuhan
Tempatku Berteduh
Dari Semua Kepalsuan Dunia

Bila Ku Jauh Dari Diri-Mu
Akan Kutempuh Semua Perjalanan
Agar Selalu Ada Dekat-Mu
Biar Kurasakan Lembutnya Kasih-Mu

Syair-syair lagu di atas memberikan kepada kita gambaran bagaimana manusia adalah pencari damai. Kehancuran dunia akibat kejahatan manusia telah menghilangkan damai sejahtera dalam diri manusia, dan sejak itulah manusia menjadi mahluk pencari damai. Berbagai jalan ditempuh untuk mencari damai, namun sayang jalan-jalan yang ditempuh itu hanya menghasilkan damai yang segera berlalu karena semua bersumber dari kepalsuan dunia.

Sebuah cerita menggambarkan bagaimana damai sejahatera itu digambarkan. Pada suatu hari di sebuah kerajaan.. Seorang raja membuat lomba yang membuat para Pelukis tersohor dari negeri-negeri pun berdatangan. Lomba melukis yang berjudul ‘damai sejahtera’ , “aku beri waktu 3 hari. Yg terbaik akan aku beri hadiah” kata sang raja. 3 hari kemudian.. cuma 3 pelukis yang berhasil menyelesaikan gambar mereka dan memberikan pada sang raja.

Lukisan 1 : ada sebuah danau biru yang bening dengan ikan-ikan yang banyak dan ditengah-tengah terdapat perahu kecil dan seorang yang sedang bersiul memancing dengan udara sepoi-sepoi dan langit biru yang cerah “Ini lah damai sejahtera” kata pelukis pertama.

Lukisan 2 : ada sebuah gunung yang hijau, udara khas yang sejuk dengan sawah-sawah; matahari yang cerah, pohon yang rindang dan 2 orang sedang duduk dibawah pohon sambil tertawa bahagia. “Inilah damai sejahtera” kata pelukis ke2.

Lukisan 3 : sebuah laut yang luas berwarna hitam karena sedang terjadi badai, ditengah-tengah ada angin topan, langit yang gelap dengan sambaran petir dimana. Sebuah batu karang yang diterjang ombak, langit hitam pekat bahkan terlihat abstrak karena warna yang dipakai hanya warna gelap;  tapi, terdapat 1 batu karang yang ada lubang, didalamnya terdapat seekor burung pipit sedang bersiul riang. “Inilah damai sejahtera” kata pelukis ke3.

“Aku setuju dengan lukisan 3” kata Raja. Damai sejahtera bukanlah dimana kita sedang dalam keadaan atau posisi nyaman-nyaman saja tanpa masalah, itu namanya zona nyaman. Damai sejahtera adalah keadaan dimana seseorang tetap bisa tersenyum ketika badai masalah datang menerpanya.

Bagaimana dengan lukisan “damai sejahtera” yang kita cari??? Apakah kita melukiskannya sebagai keadaan tanpa masalah dengan berkat-berkat yang melimpah ditambah dengan kesehatan fisik yang prima. Apakah kita melukiskannya dengan status sosial yang elit dengan segala kemewahan yang dimiliki dan kemudahan-kemudahan hidup. Atau kita melukiskannya dengan relasi pada sang ilahi dalam segala kondisi hidup.

Hati-hati Eksistensi manusia sebagai pencari damai telah membuat dirinya menjadi rentan terhadap para sales damai sejahtera, yang justru memanfaatkan dan menawarkan damai sejahtera yang palsu.

Simon Mangatur