Munculnya Istilah Alpha Woman Mendukung Kesetaraan Gender

Oleh:  Stephanie | PPTI 11 | 2502041054

Diskriminasi gender sudah menjadi masalah yang serius sejak lama. Padahal semua anak berhak untuk tumbuh dan belajar tanpa pandang gender. Namun itulah tragisnya, diskriminasi gender merebut impian masa kecil dan masa depan anak-anak. Gender mengacu pada peran, ekspresi, identitas, penampilan, dan tanggung jawab yang sudah dilabeli oleh masyarakat. Biasanya, gender ini diberikan kepada orang-orang berdasarkan karakteristik seks saat mereka lahir. Peran gender dalam masyarakat berarti bagaimana kita diharapkan untuk bertindak, berbicara, berpakaian, berdandan, dan berperilaku berdasarkan jenis kelamin kita. Misalnya, anak perempuan umumnya diharapkan berpakaian dengan cara yang khas feminin dan bersikap sopan, serta tumbuh untuk berumah tangga. Sedangkan anak laki-laki umumnya diharapkan menjadi kuat, agresif, dan berani. Setiap masyarakat, kelompok etnis, dan budaya memiliki ekspektasi peran gender, tetapi mereka bisa sangat berbeda dari kelompok ke kelompok dan juga dapat berubah dalam masyarakat yang sama dari waktu ke waktu. Misalnya, merah muda dianggap sebagai warna maskulin, sedangkan biru dianggap feminine pada masa sebelum 1950 namun berketerbalikan di masa sekarang.

Alasan mengapa rasio bos laki-laki begitu tinggi adalah karena diskriminasi terhadap perempuan masih terjadi di banyak bagian masyarakat. Perempuan menghadapi banyak diskriminasi ketika mereka dipromosikan bahkan jika berhasil mendapatkan pekerjaan yang konon lebih sulit daripada melewati lubang jarum. Diskriminasi telah berkurang secara signifikan dibandingkan dengan masa lalu, hal ini dibuktikan dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Wanita. Konsep kesetaraan ini menganggap bahwa posisi kedudukan tingkatan sosial antara pria dan wanita harus sama dan seimbang, terutama dalam kepemimpinan dan kesempatan untuk mengembangkan diri. Kemanusiaan membutuhkan pria dan wanita, sama pentingnya dan membutuhkan satu sama lain. Jadi mengapa wanita dipandang kurang dari setara? Sikap lama ini tertanam dalam diri kita sejak awal. Generasi muda kelak harus mengajari anak laki-laki-nya aturan kesetaraan dan rasa hormat, sehingga saat mereka tumbuh dewasa, kesetaraan gender menjadi cara hidup yang alami. Dan juga harus mengajari anak perempuan-nya bahwa mereka dapat mencapai impian setinggi mungkin secara manusiawi tanpa rasa takut.

Bisakah wanita alfa menjadi pemimpin wanita?

Alpha Woman atau dikenal juga sebagai wanita alfa adalah wanita yang memiliki tipe percaya diri, mandiri secara emosional, yang memiliki tujuan hidup yang kuat, dan tidak membutuhkan orang lain untuk “melengkapi” dirinya. Julukan ini bukan atas pengakuan dari diri sendiri, melainkan dari orang lain yang melihat sebagaimana seorang wanita bertindak dalam sebuah keadaan. Ada yang mengatakan bahwa kemunculan wanita alfa adalah kemungkinan baru bagi masyarakat dimana ada pemimpin wanita sejati. Namun, adakah wanita yang tumbuh tanpa merasakan ketidaknyamanan dari ketidaksetaraan gender di masyarakat sejak masa kanak-kanak tumbuh menjadi ‘wanita alfa’ ketika dia memasuki masa dewasa?

Tidak sulit untuk menjadi pemimpin perempuan yang dituntut oleh masyarakat modern jika seorang perempuan menerima pendidikan yang diberikan dari universitas, mendapatkan nilai bagus, mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan jalur karir, dan terjun ke masyarakat dengan menunjukkan kemampuannya, maka kedudukan pemimpin perempuan akan sama dengan laki-laki. Namun, pemimpin perempuan yang dibutuhkan dalam masyarakat modern bukanlah pemimpin seperti itu. Seorang pemimpin perempuan sejati adalah mereka yang dapat berkontribusi membentuk struktur sosial di mana perempuan dapat terus berjalan sebagai pemimpin, di mana perempuan secara alami dapat menyelam ke dalam masyarakat, memilih jalur karir mereka sendiri, dan merancang masa depan mereka sendiri tanpa kendala diskriminasi gender. Langkah pertama untuk menjadi pemimpin wanita adalah mengetahui siapa diri kita dan mengakui kenyataan yang akan dihadapi wanita tanpa menghindarinya. Inovasi terbukti meningkat ketika perempuan disertakan dalam keputusan kepemimpinan dan sangat penting untuk daya saing perusahaan mana pun untuk memastikan wanita tidak hanya dipekerjakan secara adil, tetapi juga mendukung wanita dalam bisnis agar tidak kehilangan talenta mereka. Kecuali wanita dan pria sama-sama mengatakan hal ini tidak dapat diterima, maka keadaan tidak akan berubah. Dengan tekad, komitmen dan keyakinan yang kuat, kita pasti bisa mencapai tujuan kita untuk menghapus diskriminasi terhadap gender.

Stephanie