Sejarah yang Terlewat di Menteng

Oleh: Dita Putri Prameswari, S.Hum., M.Hum.

           

“Sejarah ada di mana-mana. Kita dapat menemukannya di rumah, dijalan, teater, bioskop dan toko buku bahkan pada sebuah perangko dan uang koin. Sejarah juga dapat diakses melalui komputer dan melalui ketukan tangan di gawai kita”.

Demikian menurut pendapat David Dean, seorang sejarawan yang menekuni bidang sejarah publik, dalam bukunya yang berjudul “A Companion to Public History” (2018). Berdasarkan pernyataan tersebut, sebenarnya bukan hal sulit untuk mengetahui dan memahami identitas bangsa kita. Hal itu dapat dimulai dengan merawat ingatan serta mengenal lingkungan sekitar. Pada suatu sore di akhir pekan saya bergabung sebagai peserta salah satu walking tour yang ada di ibukota. Meskipun perjalanan tidak berlangsung lama, namun cukup memberikan kesan yang mendalam. Awalnya saya berpikir boleh juga ikut walking tour untuk mengisi waktu di akhir pekan. Saya tertarik dengan rute yang ditawarkan oleh penyelenggara yaitu di sekitar kawasan Menteng. Meskipun saya cukup mengenal daerah ini tetapi mungkin masih ada hal yang terlewat tentang tempat-tempat bersejarah di sekitarnya.

Pukul tiga sore saya tiba di halte bus di Taman Suropati yang memang menjadi titik kumpul bagi para peserta tur. Selanjutnya seorang pemandu memeriksa ulang daftar hadir para peserta. Pesertanya cukup banyak sehingga pemandu harus membaginya menjadi dua kelompok. Tujuannya agar perjalanan berlangsung secara efektif. Cuaca yang bersahabat di sore itu, didukung dengan rindangnya pepohonan di taman tersebut membuat aktivitas jalan-jalan menjadi semakin nyaman. Sebagai catatan, kebanyakan peserta tur yang saya ikuti tersebut sebagian besar terdiri dari usia akhir generasi Y atau milenial dan generasi Z.

Pemandu memulai kegiatan dengan bercerita tentang asal mula munculnya kawasan Menteng. Pada sekitar abad ke-20, daerah ini sengaja dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda kawasan tempat tinggal orang-orang Eropa yang berasal dari kelas menengah ke atas. Sejak awal, Menteng mulai didirikan setelah pusat kota Batavia tidak lagi sebatas di daerah Kota Tua saja. Menteng dirancang dengan konsep sebagai kota taman oleh arsitek kolonial. Menurut toponimi kawasan ini dulunya adalah hutan yang banyak ditumbuhi oleh pohon menteng. Buahnya menyerupai duku, tetapi kulitnya lebih lunak dan mempunyai rasa asam.

Sambil berjalan mengelilingi area taman diceritakan bahwa Taman Suropati dulunya bernama Burgermeester Bisschopplein yang dibangun pada 1919 tetapi, setelah Indonesia merdeka, namanya diganti menjadi Taman Suropati. Adapun alasan penggantian nama, sebagai bentuk penghormatan terhadap salah satu pahlawan nasional yaitu Untung Suropati. Di Jl. Taman Suropati terdapat beberapa rumah yang menyimpan kisah sejarah. Tepat di sisi kiri taman terdapat rumah dinas Duta Besar Amerika Serikat dan tidak jauh dari tempat itu terdapat bangunan beratap hijau yang merupakan rumah dinas Gubernur DKI Jakarta. Masih di jalan yang sama kita juga dapat melihat rumah yang pernah menjadi tempat tinggal pahlawan revolusi, Ahmad Yani.

Selanjutnya di Jl. Diponegoro tampak gedung Bappenas yang juga termasuk salah satu bangunan bersejarah sejak masa kolonial Belanda. Kemudian, rombongan tur melanjutkan perjalanan ke arah Jl. Imam Bondjol. Kami berhenti di depan Museum Perumusan Naskah Proklamasi yang lokasinya bersebelahan dengan Gereja Paulus, tetapi sangat disayangkan tidak dapat masuk ke dalam karena sudah petang museum tutup. Maka kami hanya sempat foto bersama di halaman museum. Saya ikut mendengarkan dengan seksama ketika pemandu menceritakan tentang proses perumusan naskah proklamasi menjelang kemerdekaan. Pada masa pendudukan Jepang, bangunan itu adalah tempat tinggal Tadashi Maeda atau Laksamana Maeda. Di tempat itulah Soekarno, Mohammad Hatta dan Ahmad Soebardjo menyusun naskah proklamasi.

Sambil menelusuri trotoar yang cukup ramah bagi pejalan kaki di sepanjang Jl. Imam Bondjol, kami melanjutkan perjalanan menuju Jl. Besuki dan berhenti di depan pintu masuk SD Negeri Menteng 01. Sekolah tersebut juga memiliki kisah sejarah. Pada zaman kolonial dikenal sebagai sekolah yang diperuntukkan khusus bagi bangsa Eropa. Setelah masa kemerdekaan diambil alih oleh pemerintah Indonesia dan statusnya berubah menjadi sekolah negeri hingga sekarang. SD Negeri Menteng 01 juga dikenal dengan sebutan SD Obama karena mantan Presiden AS, Barack Obama pernah bersekolah di sana. Tidak hanya menyimpan kisah sejarah, di sekitar sekolah itu juga terdapat beberapa jajanan enak. Salah satunya adalah Nasi Goreng Gila Gondrong Obama yang buka pada sore hari, terkenal dengan menu nasi goreng gila-nya, terletak tepat di seberang bangunan sekolah 

Perjalanan kami berakhir di Taman Menteng, dulunya tempat itu berfungsi sebagai stadion Voetbalbond Indische Omstreken Sport yang dibangun pada 1921. Setelah era kemerdekaan stadion tersebut dikenal dengan nama stadion Menteng, digunakan sebagai tempat latihan para atlet sepak bola Persatuan Sepakbola Indonesia Jakarta (Persija). Pada 1975 stadion Menteng menjadi cagar budaya. Taman Menteng diresmikan pada 2007 dan berfungsi sebagai salah satu ruang terbuka hijau di Jakarta. Sore itu banyak warga yang datang mengunjungi taman untuk berolahraga atau sekedar berjalan-jalan.

Dita Putri Prameswari, S.Hum., M.Hum