GUS

Oleh: Christian Siregar

Panggilannya, Gus. Namanya, Gusmedi. Kawan baik saya waktu di SMA. Orang Padang, agama Islam. Konon dia anak seorang pemuka agama yang cukup berpengaruh.

Apa yang menarik dari sosok Gus? Sepertinya hampir tidak ada, kecuali gaya tertawanya yang meringkik seperti kuda nyengir. Selain itu cara bicaranya yang sangat cepat dan volume suara yang mengecil sehingga nyaris tak terdengar dia omong apa dan tiba-tiba pula dia “ngerem” mendadak. Tinggal saya melongo dan garuk-garuk kepala yang tidak gatal.

Karena hal-hal tersebut di atas maka Gus dijauhi teman-teman dan kemudian dia merapat ke saya, yang menurut dia paling welcome sama dia. Akibat kedekatan kami tidak sedikit yang menyebut kami sebagai “homo”, ada juga yang menyebut “beauty and the beast” (Gus jadi beauty dan saya disebut the beast). Pernah saya bertanya kepada salah seorang teman lain kenapa saya dijuluki the beast? Teman itu mengatakan, bukan karena saya buruk rupa, tapi karena kebencian bernuansa agama. Kawan-kawan yang tidak menyukai kedekatan kami, menganggap saya sengaja menerima Gus sebagai sahabat karena ingin melakukan Kristenisasi. Bukti hal itu adalah karena mereka pernah melihat Gus membaca Alkitab dan ikut saya persekutuan doa siswa Kristen pada Jum’at.

Saya malah pernah juga diinterogasi oleh beberapa teman yang tidak suka persahabatan saya dengan Gus. Namun hal itu tidak berlangsung lama. Sebab masalah kesalahpahaman itu dapat segera diselesaikan dengan cara dialog. Saya katakan Gus tidak pernah berniat pindah agama, saya juga tidak pernah mempengaruhinya. Apa yang Gus lakukan semata karena ia butuh teman dan ingin mengenal saya lebih baik dengan mempelajari kekristenan. Sayapun banyak belajar tentang keislaman dari Gus.

Dalam CB Agama ada topik tentang “Peran Agama bagi Perdamaian Dunia”. Dalam topik itu disebutkan salah satu cara untuk menciptakan perdamaian dunia adalah dengan dialog. Dialog mensyaratkan saling percaya dan keterbukaan menerima gagasan. Dialog model inilah yang saya terapkan dahulu. Berbicara dari hati ke hati dengan keterbukaan dan berusaha membuang prasangka negatif. Tujuannya adalah klarifikasi masalah dan mencapai titik temu pemahaman. Hasilnya cukup ok lho, terbukti sampai saat ini kami yang berbeda agama tetap bersahabat, saling berkomunikasi dan menjalin relasi kebersamaan melalui acara reuni tahunan.

Christian Siregar (Dosen Character Building, Universitas Bina Nusantara, Jakarta)