MENGENAL WAJAH TUHAN DALAM KEMANUSIAAN

by: Chintya De, Christian Siregar

Kita telah belajar sebelumnya bahwa Tuhan menampakan diri-Nya kepada kita melalui alam ciptaan-Nya. Kita menyadari bahwa semua agama, baik Islam, Katolik, Kristen, Buddha, Hindu, maupun Konghucu meyakini satu kebenaran religius yang sama, yaitu bumi dan segala isinya adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Namun, jika kita membaca Firman Tuhan dengan seksama, kita dapat menyadari bahwa Allah membedakan manusia dengan ciptaan-Nya yang lain. Pada Kejadian 1:26-27, Allah berfirman bahwa Ia menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya. Secara spesifik, kita sebagai manusia memiliki gambar dan rupa dari Allah pencipta kita. Inilah kebenaran dasar yang perlu kita sepakati bersama sebelum mengenal Tuhan lebih dalam.

Dengan menyadari bahwa setiap manusia memiliki gambar dan rupa Allah, kita dapat langsung melihat-Nya dalam diri kita atau sesama kita, berbeda dengan alam yang tidak memiliki gambar dan rupa-Nya, meskipun itu berarti kita harus memandang dan memperlakukan alam setara dengan kita memperlakukan sesama manusia. Sejak kita lahir, kita pertama kali mengenal Tuhan melalui orang tua kita. Semakin beranjak dewasa, kita pun semakin mengenal dan memahami jati diri-Nya yang mahabaik, maha penyayang, dan masih banyak lagi melalui pengalaman pribadi bersama dengan sesama kita. Sesama kita tidak hanya terbatas pada keluarga, saudara, teman, atau kenalan kita, tetapi juga semua manusia yang kita jumpai dalam kehidupan kita. Tidak jarang, Tuhan menggunakan orang lain untuk menyatakan kehadiran-Nya atau memberikan pertolongan kepada kita. Begitu pula sebaliknya, Tuhan dapat memakai kita sebagai perpanjangan tangan-Nya bagi orang lain yang mungkin bahkan tidak kita kenal sebelumnya. Dengan demikian, Tuhan dapat menampakkan diri-Nya melalui kita maupun sesama kita manusia. Dengan menyadari kebenaran tersebut, kita tentunya tidak akan memperlakukan sesama kita dengan semena-mena, tetapi menghargai dan menyayangi mereka layaknya kita memperlakukan Tuhan. Sebagai Tuhan, Ia telah terlebih dahulu menunjukkan kasih-Nya yang sempurna dengan mengorbankan nyawa-Nya bagi kita, bahkan ketika kita masih berdosa. Sebagai umatnya, kita juga harus dapat mengampuni dan mengasihi sesama kita dengan meneladani kasih Tuhan pada kita sesuai dengan perintah-Nya tanpa memandang apapun. Dengan demikian, rantai kebaikan akan terus berlanjut dan semakin banyak orang akan mengenal Tuhan dimulai dari sikap dan tindakan sederhana yang dapat kita lakukan ini.