{"id":407,"date":"2022-03-08T15:58:17","date_gmt":"2022-03-08T08:58:17","guid":{"rendered":"https:\/\/binus.ac.id\/binusian-journey\/?p=407"},"modified":"2022-09-01T16:39:15","modified_gmt":"2022-09-01T09:39:15","slug":"tips-agar-cv-kamu-lolos-tahap-seleksi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/binusian-journey\/2022\/03\/08\/tips-agar-cv-kamu-lolos-tahap-seleksi\/","title":{"rendered":"Tips Agar CV Kamu Lolos Tahap Seleksi"},"content":{"rendered":"<p>Satu hal yang seringkali tidak disadari oleh jobseekers adalah ditolaknya CV kamu di recruiters. Ada banyak hal yang perlu kamu pertimbangkan dalam membuat CV agar mudah lolos tahap seleksi, diantaranya:<\/p>\n<ol>\n<li>Gunakan font yang mudah dibaca dalam CV kamu<br \/>\nMenggunakan font yang mudah dibaca akan memudahkan recruiter untuk membaca profile kamu dengan lebih jelas.<\/li>\n<li>Jadikan CV kamu format file PDF agar udah dibaca dan diakses oleh recruiter<br \/>\nDengan menggunakan format file PDF akan memudahkan recruiter untuk mengakses dan membacanya dari komputer\/laptop atau bahkan dari handphone sekalipun.<\/li>\n<li>Tidak perlu mencantumkan job description yang tidak relevan<br \/>\nKamu perlu memilah-milah job description yang relevan dengan posisi yang akan kamu lamar, sehingga akan lebih tergambar jelas pengalaman yang kamu miliki.<\/li>\n<li>Pengalaman kerja terakhir ditulis di urutan pertama<br \/>\nMenuliskan pengalaman kerja dari terakhir (tahun terakhir) akan memudahkan recruiter untuk mengecek pengalaman kerja kamu dari tahun terakhir ke tahun-tahun sebelumnya.<\/li>\n<li>Hindari menggunakan singkatan<br \/>\nPenggunaan singkatan akan membingungkan recruiter untuk memahami istilahnya, sebaiknya kamu menulis istilahnya dengan detail.<\/li>\n<li>Jangan gunakan desain atau warna yang terlalu mencolok<br \/>\nPengunaan desain atau warna usahakan yang tidak mencolok di mata serta sebaiknya menggunakan 2-3 warna yang senada. Hal ini akan memudahkan recruiter dalam membaca isi CV kita.<\/li>\n<li>Maksimal 2 halaman tapi usahakan cukup 1 halaman saja<br \/>\nPenulisan sebaiknya maksimal 2 halaman. Apabila kamu memiliki pengalaman yang banyak, bisa dipilah-pilah terlebih dahulu yang mendukung pekerjaan yang ingin kamu lamar.<\/li>\n<li>Tulis juga apa saja pencapaian kamu di pekerjaan sebelumnya<br \/>\nBentuk pencapaian kamu di pekerjaan sebelumnya tidak selalu berupa penghargaan, tapi bisa juga berupa pengalaman yang kamu dapat pada pekerjaan tersebut.<\/li>\n<li>Lihat contoh-contoh CV lain sebagai referensi<br \/>\nMencari inspirasi CV lainnya akan membantu kamu dalam membuat CV yang sesuai dengan diri kamu.<\/li>\n<li>Baca lagi berulang-ulang sebelum dikirim, jangan sampai ada typo!<br \/>\nKesalahan typo akan menunjukkan diri kamu yang kurang teliti sehingga perlu kamu mengecek kembali tulisan dalam CV dan surat lamaran kamu.<\/li>\n<li>Minta feedback dari orang lain mengenai CV kamu jika masih terasa ada yang kurang<br \/>\nMeminta masukan dari orang lain akan memberikan ide atau referensi kepada kamu untuk memperbaiki CV kamu.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Selamat memperbaiki CV kamu ya. Semoga kamu lolos ya ke tahap selanjutnya.<br \/>\nDisusun oleh Ira Setyawati<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Satu hal yang seringkali tidak disadari oleh jobseekers adalah ditolaknya CV kamu di recruiters. Ada banyak hal yang perlu kamu pertimbangkan dalam membuat CV agar mudah lolos tahap seleksi, diantaranya: Gunakan font yang mudah dibaca dalam CV kamu Menggunakan font yang mudah dibaca akan memudahkan recruiter untuk membaca profile kamu dengan lebih jelas. Jadikan CV [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":588,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[],"class_list":["post-407","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-article"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binusian-journey\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/407","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binusian-journey\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binusian-journey\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binusian-journey\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binusian-journey\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=407"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binusian-journey\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/407\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":408,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binusian-journey\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/407\/revisions\/408"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binusian-journey\/wp-json\/wp\/v2\/media\/588"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binusian-journey\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=407"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binusian-journey\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=407"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binusian-journey\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=407"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}