{"id":13887,"date":"2026-10-02T07:47:23","date_gmt":"2026-10-02T07:47:23","guid":{"rendered":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/?p=13887"},"modified":"2026-10-05T03:32:48","modified_gmt":"2026-10-05T03:32:48","slug":"ai-dan-kehendak-bebas-sebuah-artikel-bebas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/2026\/10\/02\/ai-dan-kehendak-bebas-sebuah-artikel-bebas\/","title":{"rendered":"AI dan Kehendak Bebas: Sebuah Artikel Bebas"},"content":{"rendered":"<p dir=\"ltr\">Pada 2008, tim peneliti yang dipimpin John-Dylan Haynes dari Max Planck Institute melaporkan di jurnal Nature Neuroscience bahwa hasil sebuah keputusan dapat dibaca dari aktivitas korteks prefrontal dan parietal hingga 10 detik sebelum keputusan itu masuk ke kesadaran. Para partisipan bebas memilih tombol kiri atau kanan kapan pun mereka mau, dan algoritma menebak pilihan itu lebih dulu daripada otak mereka sendiri. Akurasi sekitar 60 persen, hanya sedikit di atas lemparan koin. Angka sekecil itu tetap mengusik pertanyaan tertua dalam filsafat: apakah kita benar-benar menulis keputusan kita sendiri?<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Pertanyaan ini kini punya sekutu baru: kecerdasan buatan. Pada 1814, Pierre-Simon Laplace menggambarkan sebuah kecerdasan yang mengetahui posisi dan gerak setiap partikel di alam semesta. Bagi kecerdasan itu, masa depan sama terangnya dengan masa lalu. Sistem AI hari ini memang masih jauh dari sosok tersebut, sebab ia hanya memegang serpihan: klik, tontonan, atau sekadar riwayat belanja. Namun, serpihan itu ternyata cukup untuk melakukan sesuatu yang dulu terasa mustahil: mengubah perilaku jutaan orang sekaligus.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Menurut data dari Sandra Matz, Michal Kosinski, dan rekan-rekannya dalam jurnal PNAS pada tahun 2017. Dalam tiga eksperimen lapangan yang menjangkau lebih dari 3,5 juta orang, iklan yang disesuaikan dengan tingkat ekstraversi atau keterbukaan seseorang menghasilkan hingga 40 persen lebih banyak klik dan hingga 50 persen lebih banyak pembelian dibandingkan dengan iklan yang tidak sesuai atau tidak dipersonalisasi. Profil kepribadian itu ditebak dari jejak digital. Angka ini perlu dibaca teliti. Ambil contoh ilustrasi: jika dari seribu tayangan sepuluh orang mengklik, kenaikan 40 persen membuat 14 orang mengklik. Sebanyak 986 orang tetap berlalu. Sistem itu menggeser peluang pada populasi. Keberatan metodologis juga mengemuka. Dean Eckles dan koleganya menulis di PNAS pada 2018 bahwa studi lapangan semacam ini menghadapi ancaman terhadap validitas internal, sehingga besarnya efek sebenarnya masih diperdebatkan.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Riset otak menghadapi soal serupa. Benjamin Libet pada 1983 mencatat potensial kesiapan, sinyal listrik yang muncul kira-kira setengah detik sebelum gerakan sukarela, jauh lebih awal daripada saat partisipan melaporkan niatnya. Ada dua cara untuk menafsirkan temuan itu. Pembacaan pertama menyatakan bahwa otak sudah memutuskan sebelum kita menyadarinya, sehingga kesadaran hanya menerima kabar. Pembacaan kedua datang dari Aaron Schurger, Jacobo Sitt, dan Stanislas Dehaene di PNAS pada 2012: potensi kesiapan mungkin mencerminkan fluktuasi acak aktivitas saraf yang kebetulan melewati ambang, sehingga sinyal itu belum tentu merupakan keputusan. Kedua pembacaan tersebut masih hidup, dan data laboratorium belum memaksa kita untuk memilih salah satunya.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Di titik ini teori-teori besar filsafat bekerja lebih keras daripada sensor mana pun. Determinisme, yang dibela lantang oleh ahli saraf Robert Sapolsky melalui bukunya <em>Determined<\/em> (2023), menyatakan bahwa setiap tindakan lahir dari rantai sebab-akibat, mulai dari gen hingga lingkungan masa kecil. Immanuel Kant menempuh jalan lain. Ia memandang manusia sebagai makhluk yang mampu menaati hukum moral yang ia tetapkan sendiri, dan kemampuan itu ia sebut otonomi. Daniel Dennett menawarkan jalan tengah dalam <em>Elbow Room<\/em> (1984) dan <em>Freedom Evolves<\/em> (2003): kebebasan yang layak dicari adalah kemampuan untuk menanggapi alasan, dan kemampuan itu tetap ada meskipun dunia beroperasi berdasarkan hukum sebab-akibat.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Kerangka Dennett memberikan ukuran yang berguna untuk memahami sistem rekomendasi. Kebebasan sebagai kemampuan menanggapi alasan dapat membesar dan mengecil, tergantung pada kualitas alasan yang sampai kepada kita. Iklan yang dipasangkan dengan sifat kepribadian bekerja pada celah itu, sebab ia menyodorkan bujukan yang dipilih mesin sesuai dengan kerentanan kita. Shoshana Zuboff, dalam <em>The Age of Surveillance Capitalism<\/em> (2019), menyebut hak atas masa depan (<em>right to the future<\/em>) sebagai hak yang terancam ketika perusahaan menjual prediksi perilaku kita ke pasar. Argumennya berjalan tanpa syarat bahwa determinisme itu benar. Cukup jika prediksi bisa dijual dan pengaruh bisa diarahkan.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Dampaknya paling terasa pada siapa pun yang memilih tontonan, berita, dan belanjaan dari daftar yang sudah disusun sistem. Mereka memang memilih, tetapi dari menu yang disaring sebelum mereka melihatnya. Pilihan sadar tetap terjadi, sementara ruang pilihannya dibentuk pihak lain. Rekomendasi berikutnya dihitung dari klik sebelumnya, sehingga jejak lama ikut menentukan apa yang tampil besok. Bagi orang yang tidak sempat membandingkan, menu itu menjadi seluruh dunia yang tersedia.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Lalu apa artinya bagi industri media dan komunikasi? Personalisasi perlu diperlakukan sebagai bentuk kuasa yang wajib bisa diaudit, seperti iklan politik yang wajib menyebut siapa pengiklannya. Redaksi dan agensi yang memakai profil psikologis untuk membujuk perlu menjawab pertanyaan etis yang dulu jarang muncul: apakah pesan ini memberi alasan yang lebih baik kepada pembacanya, atau hanya menemukan titik lemahnya? Rumusan kemanusiaan Kant menuntut setiap orang diperlakukan sebagai tujuan pada dirinya, sementara sasaran iklan yang dipilih karena kelemahan psikologisnya berisiko diperlakukan sebagai alat pengerek angka konversi. Jawaban atas pertanyaan tadi memisahkan komunikasi yang menghormati otonomi dari komunikasi yang menggerusnya.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Sains belum menutup perkara ini. Kalau Libet dibaca lewat Schurger, keputusan kita mungkin lebih bebas daripada dugaan para skeptis. Kalau Soon dan Haynes benar, otak kita bekerja jauh sebelum kita sadar. Pada kedua kemungkinan itu, satu hal sudah pasti: makin banyak pihak yang punya alat untuk membaca kita sebelum kita membaca diri sendiri. Kehendak bebas mungkin sebuah fakta, mungkin sebuah kapasitas yang harus dirawat. Pertanyaan itu layak kita bawa ke setiap layar yang menawarkan pilihan-pilihan. Apapun itu.<br \/>\n\u2014<\/p>\n<p><em>AAn.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pada 2008, tim peneliti yang dipimpin John-Dylan Haynes dari Max Planck Institute melaporkan di jurnal Nature Neuroscience bahwa hasil sebuah keputusan dapat dibaca dari aktivitas korteks prefrontal dan parietal hingga 10 detik sebelum keputusan itu masuk ke kesadaran. Para partisipan bebas memilih tombol kiri atau kanan kapan pun mereka mau, dan algoritma menebak pilihan itu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":16,"featured_media":13898,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[77],"tags":[420,219,448,449],"class_list":["post-13887","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-articles","tag-ai-dan-pekerjaan","tag-ai-modality","tag-free-will","tag-kehendak-bebas"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13887","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/users\/16"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=13887"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13887\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":13892,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13887\/revisions\/13892"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/media\/13898"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=13887"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=13887"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=13887"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}