{"id":13880,"date":"2026-10-01T00:01:40","date_gmt":"2026-10-01T00:01:40","guid":{"rendered":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/?p=13880"},"modified":"2026-10-01T01:39:43","modified_gmt":"2026-10-01T01:39:43","slug":"ai-dan-dua-belas-prinsip-animasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/2026\/10\/01\/ai-dan-dua-belas-prinsip-animasi\/","title":{"rendered":"AI dan Dua Belas Prinsip Animasi"},"content":{"rendered":"<p class=\"p2\">Bingyi Kang dan tujuh penulis lain menguji sejauh mana model AI pembuat video memahami fisika. Mereka membangun simulator dua dimensi yang menghasilkan video gerak lurus beraturan, tabrakan elastis sempurna, dan gerak parabola, dengan data yang diperbesar dari 30 ribu menjadi 3 juta contoh. Hasilnya, yang dipresentasikan pada konferensi ICML 2025, menunjukkan generalisasi yang mendekati sempurna pada skenario yang mirip dengan data latih, tetapi gagal pada skenario di luar rentang tersebut, meskipun skala model dan data terus diperbesar. Untuk kasus baru, model tidak mempelajari hukum fisika secara umum, melainkan menyalin contoh latih terdekat, dengan urutan perhatian pada warna, ukuran, kecepatan, baru kemudian bentuk. Pada skenario yang menggabungkan beberapa konsep fisik sekaligus, performa membaik melalui variasi kombinasi data latih, bukan sekadar penambahan volume. Para penulis menyimpulkan bahwa penambahan skala saja tidak cukup untuk menemukan hukum fisika dan dibutuhkan pendekatan di luar pengamatan visual semata.<\/p>\n<p class=\"p2\">Temuan di atas terasa dekat bagi siapa pun yang pernah menganimasikan bola pantul sebagai latihan dasar animator tradisional. Pada 1981, Frank Thomas dan Ollie Johnston, dua animator veteran Disney, menerbitkan <i>The Illusion of Life: Disney Animation<\/i>. Buku itu merumuskan dua belas prinsip: <em>1) Squash and Stretch; 2) Anticipation; 3) Staging; 4) Straight Ahead Action and Pose to Pose; 5) Follow Through and Overlapping Action; 6) Slow In and Slow Out; 7) Arcs; 8) Secondary Action; 9) Timing; 10) Exaggeration; 11) Solid Drawing; <\/em>dan<em> 12) <\/em><em>Appeal<\/em>. Setiap prinsip merangkum satu cara penonton membaca gerak yang kadang-kadang melampaui fisika. Bola karet yang memipih saat mendarat dan memanjang saat melesat melanggar hukum fisika benda padat, namun pelanggaran itulah yang justru membuat massa dan kelenturannya terasa lebih &#8220;hidup&#8221;.<\/p>\n<p class=\"p2\">Kembali ke eksperimen Kang dan kawan-kawannya. Prinsip yang muncul dalam data latih, misalnya busur gerak <em>(Arcs)<\/em> dan perlambatan di ujung ayunan<em> (Slow In<\/em> <em>and Slow Out)<\/em>, mungkin mudah ditiru oleh model berdasarkan contoh terdekat. Ini adalah inferensi dari temuan Kang yang berasal dari simulasi sederhana, sehingga penerapannya pada video sinematik perlu diuji lebih lanjut. Tantangan muncul pada prinsip yang bergantung pada hubungan sebab-akibat, misalnya, tubuh merunduk sebelum melompat <em>(Anticipation)<\/em> agar penonton lebih &#8220;siap&#8221; menerima lompatan.<\/p>\n<p class=\"p2\">Jika suatu gerakan yang dibuat oleh AI terasa tak &#8220;bernyawa&#8221;, apa penjelasannya? Dua hal layak diuji. Pertama, model tidak mengenal konsep bobot dan gaya, dan temuan Kang mendukung hal tersebut. Kedua, model hanya belajar dari data gerak, sementara animator memiliki inisiatif untuk menyimpang dari data secara sengaja melalui, misalnya, <em>Exaggeration<\/em> dan <em>Timing.\u00a0<\/em><\/p>\n<p class=\"p2\">Pada 2016, NHK menayangkan dokumenter tentang Hayao Miyazaki, dan di dalamnya ia menghadiri presentasi dari tim Dwango Artificial Intelligence Laboratory. Nobuo Kawakami memperlihatkan animasi hasil AI berupa sosok yang memakai kepalanya sebagai kaki. Kawakami menjelaskan bahwa sistem itu diajari untuk bergerak lebih cepat, tanpa kepekaan terhadap rasa sakit dan tanpa konsep bahwa kepala itu penting. Miyazaki, setelah bercerita tentang temannya yang sulit menggerakkan tubuh, menyebut hal itu sebagai penghinaan terhadap kehidupan dan menyatakan bahwa ia tidak ingin menggunakan teknologi tersebut dalam karyanya. Reaksi tersebut dapat dipahami. Pertama, hal ini menunjukkan penolakan Miyazaki terhadap AI secara umum. Kedua, Miyazaki menyoroti alasan teknis terkait prinsip animasi yang seharusnya mencakup pemahaman tentang tubuh, seperti bobot, keseimbangan, dan emosi. Sesuatu yang dalam demo tim Kawakami itu dianggap nihil.<\/p>\n<p class=\"p2\">Bagi tim kreatif dan pengelola media, dua belas prinsip ini menawarkan daftar periksa untuk menilai hasil kerja mesin. Apakah ada ancang-ancang <em>(Anticipation)<\/em> sebelum aksi? Apakah gerak mengikuti busur? Apakah <em>Timing<\/em> memberi bobot tertentu? Apakah karakter tetap menarik di setiap <em>shot?<\/em> Pada mesin AI berbasis<em> prompt<\/em>, kendali atas pertanyaan-pertanyaan itu lebih sulit dicapai dibandingkan dengan animator yang bekerja hingga hitungan frame. Celah kendali inilah yang menentukan siapa yang nantinya memegang keputusan artistik. Mesin? atau manusia?<br \/>\n\u2014<\/p>\n<p><em>AAn.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bingyi Kang dan tujuh penulis lain menguji sejauh mana model AI pembuat video memahami fisika. Mereka membangun simulator dua dimensi yang menghasilkan video gerak lurus beraturan, tabrakan elastis sempurna, dan gerak parabola, dengan data yang diperbesar dari 30 ribu menjadi 3 juta contoh. Hasilnya, yang dipresentasikan pada konferensi ICML 2025, menunjukkan generalisasi yang mendekati sempurna [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":16,"featured_media":13612,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[77],"tags":[445,299,446,84,444],"class_list":["post-13880","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-articles","tag-12-prinsip-animasi","tag-ai-dan-kurikulum","tag-animasi-binus","tag-binus-digital","tag-prinsip-animasi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13880","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/users\/16"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=13880"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13880\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":13886,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13880\/revisions\/13886"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/media\/13612"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=13880"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=13880"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=13880"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}