{"id":13852,"date":"2026-09-18T21:19:36","date_gmt":"2026-09-18T21:19:36","guid":{"rendered":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/?p=13852"},"modified":"2026-09-18T21:19:36","modified_gmt":"2026-09-18T21:19:36","slug":"useless-class-ai-dan-ramalan-radikal-tentang-kemanusiaan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/2026\/09\/18\/useless-class-ai-dan-ramalan-radikal-tentang-kemanusiaan\/","title":{"rendered":"Useless Class: AI dan Ramalan Radikal Tentang Kemanusiaan"},"content":{"rendered":"<p dir=\"ltr\">Dalam wawancara dengan CBC pada 2017, sejarawan Yuval Noah Harari melontarkan sebuah kalimat yang sangat tajam dan menusuk, &#8220;Jauh lebih sulit memberontak melawan ketidakrelevanan dibandingkan melawan eksploitasi.&#8221; Apa maksud penulis Sapiens ini?<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Argumen Harari berpijak pada logika sejarah, di mana kekuasaan rakyat selama dua abad terakhir tidak lahir dari kewelasan atau kebijaksanaan elit, melainkan semata karena kebutuhan. Karena elit membutuhkan tubuh dan tenaga rakyat, rakyat memiliki daya tawar, dan dari daya tawar itulah lahir hak pilih, serikat pekerja, bahkan negara. Pertanyaan yang diajukan Harari kemudian: Apa yang terjadi jika kebutuhan itu hilang? Apa yang terjadi ketika kecerdasan buatan menggantikan tenaga kerja, atau bagaimana jika sistem senjata otonom bisa menggantikan tentara?<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Dari premis itulah muncul istilah yang membuat nama Harari relevan disebut dalam diskusi soal AI: <em>&#8220;useless class&#8221;<\/em>. Dalam <em>Homo Deus<\/em> dan <em>21 Lessons for the 21st Century<\/em>, ia menggambarkan kemungkinan munculnya kelompok manusia yang bukan hanya menganggur, tetapi benar-benar tidak lagi memiliki fungsi ekonomi yang dapat ditawarkan ke pasar kerja. Ia bahkan melempar pertanyaan retoris yang provokatif tentang apa yang harus dilakukan terhadap orang-orang yang dianggap &#8220;berlebih&#8221; tersebut, begitu kecerdasan buatan mampu mengerjakan hampir semua hal dengan lebih baik daripada manusia.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Persoalan ini jelas lebih besar daripada tren restrukturisasi kantor atau PHK musiman yang belakangan sering kita dengar. Diskusi tentang disrupsi keterampilan kerja, seperti yang rutin dilaporkan oleh World Economic Forum, biasanya masih berpijak pada asumsi bahwa manusia akan berpindah dari pekerjaan lama ke pekerjaan baru\u2014sepanjang mereka mau belajar ulang. Harari mengajukan skenario yang lebih gelap: Bagaimana jika pekerjaan baru itu nantinya juga makin sedikit membutuhkan manusia, sampai titik di mana belajar ulang pun tidak lagi menjamin apa-apa?<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Argumen Harari tersebut tidak lantas diterima begitu saja. Kritik yang muncul terhadap Harari, salah satunya ditulis dalam Psychology Today, menyoroti premis yang menjadi fondasi seluruh argumennya: manusia dinilai hanya berdasarkan kegunaan ekonominya. Begitu produktivitas menjadi satu-satunya ukuran, wajar kalau manusia yang tidak lagi produktif dicap &#8220;berlebih&#8221;\u2014tak berguna. Kritik ini menunjukkan bahwa masalahnya bukan pada AI, melainkan pada cara berpikir yang sejak awal menyamakan nilai manusia dengan nilai tukarnya di pasar kerja. Seorang perawat lansia yang menemani pasien di kamar-kamar sunyi, seorang penulis puisi yang karyanya tidak pernah menghasilkan uang besar, atau siapa pun yang perannya tidak masuk dalam hitungan produktivitas, tidak pernah kehilangan makna keberadaannya hanya karena mesin bisa mengerjakan sesuatu yang serupa dengan lebih cepat.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Harari benar bahwa ketika kebutuhan elit terhadap tenaga dan suara rakyat berkurang, daya tawar politik rakyat ikut terkikis, dan ini adalah pola yang bisa ditelusuri dari sejarah kolonialisme hingga otomatisasi industri. Tapi kritik terhadap Harari juga benar bahwa premis &#8220;berguna secara ekonomi&#8221; tidak seharusnya menjadi satu-satunya ukuran untuk menilai layak-tidaknya hidup seseorang.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Dampak permasalahan ini paling terasa pada kelompok pekerja yang selama ini kekuatan tawarnya didasarkan pada jumlah, bukan pada keahlian langka: seperti buruh pabrik, staf administrasi, dan pekerja layanan pelanggan tingkat dasar. Selama ini mereka memiliki posisi tawar karena perusahaan membutuhkan tenaga mereka dalam jumlah besar. Begitu sebagian fungsi itu bisa digantikan oleh sistem otomatis dengan biaya lebih rendah, bukan hanya penghasilan mereka yang terancam, kekuatan untuk berunding pun ikut menyusut. Serikat pekerja yang biasa mengancam mogok kerja untuk menekan manajemen akan menghadapi lawan yang berbeda: manajemen yang sekarang tahu produksi tetap bisa berjalan tanpa mereka.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Lalu apa yang bisa dilakukan dengan ramalan seradikal itu? Harari sendiri mengaku tidak punya jawaban pasti, dan mungkin memang belum ada yang punya.<br \/>\n\u2014<\/p>\n<p><em>AAn.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam wawancara dengan CBC pada 2017, sejarawan Yuval Noah Harari melontarkan sebuah kalimat yang sangat tajam dan menusuk, &#8220;Jauh lebih sulit memberontak melawan ketidakrelevanan dibandingkan melawan eksploitasi.&#8221; Apa maksud penulis Sapiens ini? Argumen Harari berpijak pada logika sejarah, di mana kekuasaan rakyat selama dua abad terakhir tidak lahir dari kewelasan atau kebijaksanaan elit, melainkan semata [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":16,"featured_media":13558,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[77],"tags":[429,420,424,422,427,428,312,426,421,432,434,231,423,230,430,425,433,419,431,418],"class_list":["post-13852","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-articles","tag-21-lessons-for-the-21st-century","tag-ai-dan-pekerjaan","tag-daya-tawar-pekerja","tag-disrupsi-tenaga-kerja","tag-eksploitasi","tag-homo-deus","tag-kecerdasan-buatan","tag-ketidakrelevanan","tag-masa-depan-kerja","tag-nilai-manusia","tag-opini","tag-otomatisasi","tag-phk","tag-produktivitas","tag-sapiens","tag-serikat-pekerja","tag-sistem-senjata-otonom","tag-useless-class","tag-world-economic-forum","tag-yuval-noah-harari"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13852","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/users\/16"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=13852"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13852\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":13856,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13852\/revisions\/13856"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/media\/13558"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=13852"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=13852"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=13852"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}