{"id":13843,"date":"2026-09-15T05:25:07","date_gmt":"2026-09-15T05:25:07","guid":{"rendered":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/?p=13843"},"modified":"2026-09-16T04:02:23","modified_gmt":"2026-09-16T04:02:23","slug":"empati-dari-mindfulness-maudy-sampai-kefasihan-ai","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/2026\/09\/15\/empati-dari-mindfulness-maudy-sampai-kefasihan-ai\/","title":{"rendered":"Empati: Dari Mindfulness Maudy sampai Kefasihan AI"},"content":{"rendered":"<p>Pada 21 Agustus 2026, Maudy Ayunda mengunggah video di kanal YouTube-nya berjudul <em>&#8220;Mindfulness in the Age of Bad News&#8221;<\/em>. Isinya? Cara menjaga kewarasan di tengah derasnya kabar buruk. Video itu awalnya sepi-sepi saja selama tiga minggu, sampai tiba-tiba viral pada pertengahan September, tepat ketika negeri ini dihimpit berbagai kemalangan seperti erupsi gunung berapi, kebakaran hutan yang tak kunjung padam, gempa, kelangkaan BBM, keracunan makanan massal yang menimpa anak-anak sekolah, krisis air, dan berbagai kabar buruk lainnya. Warganet menuduhnya <em>tone-deaf<\/em>. Selebritas muda ini lantas menulis permintaan maaf di kolom komentar yang disematkan, mengakui ada &#8220;celah refleksi&#8221; soal privilese yang ia lupa sebutkan. Permintaan maaf itu, alih-alih meredam, justru memperbesar bara. Sebagian orang membandingkannya dengan Sherina Munaf yang lebih dulu turun langsung ke lokasi bencana. Kenapa <em>mindfulness, <\/em>sebagai sebuah konsep &#8220;kebijaksanaan&#8221;,\u00a0tiba-tiba mendapat respons yang sedemikian keras?<\/p>\n<p>Sebenarnya reaksi publik tidak tunggal. Kolom komentar milik Maudy terbelah dan keduanya punya dalil yang sama-sama kuat. Perspektif pertama adalah stoisisme: gagasan Epictetus tentang dikotomi kendali, bahwa manusia hanya perlu fokus pada apa yang bisa ia kuasai \u2014 pikiran, reaksi, sikap batin \u2014 dan melepaskan apa-apa yang berada di luar kendalinya. Nasihat Maudy soal &#8220;menjaga jarak dari berita buruk&#8221; sebenarnya merupakan turunan langsung dari prinsip ini dan secara filosofis tidak keliru. Cara pandang kedua bisa dibaca menggunakan pendekatan sosiologi kritis, terutama konsep habitus milik Pierre Bourdieu: posisi sosial seseorang membentuk cara ia merasakan dunia, sehingga kalimat yang sama bisa terdengar sebagai kebijaksanaan bagi seseorang dan sebagai penghinaan bagi yang lain. Bagi seseorang yang rumahnya aman, pekerjaannya stabil, bisa sarapan dengan setangkup roti berikut seporsi telur dan alpukat, &#8220;mengambil jarak dari <em>bad news<\/em>&#8221; adalah pilihan gaya hidup. Bagi seseorang yang kiosnya terancam kelangkaan BBM atau rumahnya diselimuti asap karhutla, berita buruk bukanlah sesuatu yang bisa dinafikan begitu saja.<\/p>\n<p>Pada titik inilah polemik soal Maudy Ayunda tiba-tiba berpotongan dengan percakapan lain yang sedang ramai dibahas di dunia riset kecerdasan buatan: kesenjangan antara kefasihan berbahasa dan kepekaan sosial yang sesungguhnya. Sebuah studi yang dipimpin oleh James W. A. Strachan dan timnya, yang dimuat di jurnal Nature Human Behaviour pada Juli 2024, menguji sejumlah model bahasa besar, termasuk GPT-4 dan LLaMA2, dalam berbagai tugas teori pikiran atau <em>theory of mind<\/em>\u2014kemampuan menebak apa yang dipikirkan dan dirasakan orang lain. Hasilnya menarik: model-model itu bisa menyamai atau bahkan mengungguli manusia dalam tugas kognitif, seperti menebak keyakinan tersembunyi seseorang dalam sebuah cerita. Namun, performanya jatuh ketika tugasnya menyangkut kepekaan sosial yang lebih halus, seperti mendeteksi ironi atau situasi emosional yang canggung. AI bisa menghitung logika sebuah situasi sosial dengan tepat, tapi gagap membaca suasana batin di baliknya.<\/p>\n<p>Riset lain, oleh Anuradha Welivita dan Pearl Pu di Swiss (2024), justru menemukan sesuatu yang lebih mengganggu: dalam sejumlah pengujian, respons tertulis GPT-4 dinilai lebih &#8220;empatik&#8221; dibanding respons manusia, dengan selisih penilaian &#8220;baik&#8221; sekitar 31 persen. Angka ini bukan bukti bahwa mesin akhirnya memiliki hati. Angka ini justru menunjukkan bahwa empati bisa disimulasikan secara linguistik \u2014 dirangkai dari pola kalimat yang terbukti secara statistik menenangkan \u2014 tanpa ada taruhan apa pun di baliknya. Mesin itu tidak kehilangan apa pun jika responsnya keliru. Ia tidak akan merasa malu, tidak akan menanggung akibat sosial, dan tidak akan pernah benar-benar berjarak dari konsekuensi atas kalimatnya sendiri.<\/p>\n<p>Kesamaan antara video Maudy dan keluaran AI mulai tampak di sini. Video itu, secara tekstual, sudah benar: nasihatnya masuk akal, sumbernya bisa dipertanggungjawabkan secara psikologis, dan disampaikan dengan nada yang tenang dan tulus. Namun, bagian yang hilang bukan kebenaran isinya, melainkan kesadaran akan posisi dari mana kebenaran itu diucapkan \u2014 semacam &#8220;<em>cognitive load&#8221;<\/em> sosial yang membuat seseorang berpikir sejenak dan bertanya, siapa yang sedang mendengarkan dan seberapa jauh jarak antara nasihat ini dan realitas hidup mereka. AI tidak punya kemampuan untuk membaca konteks seperti itu karena AI tidak punya apa-apa untuk dipertaruhkan. Selebritas, secara struktural, kadang berada dalam posisi yang sedemikian rupa: dikelilingi lapisan privilese yang membuatnya berjarak. Niat yang baik belum tentu berakhir baik pula.<\/p>\n<p>Dampaknya nyata bagi orang-orang yang selama ini menjadikan sosok seperti Maudy sebagai rujukan aspirasi. Sejumlah warganet menyinggung beasiswa LPDP yang pernah diterimanya \u2014 dana negara yang berasal dari rakyat \u2014 sebagai alasan mengapa ekspektasi terhadapnya lebih tinggi dari sekadar konten<em> self-care.<\/em> Ada pula yang berhenti mengikuti akunnya. Kekecewaan semacam ini bukan sekadar drama media sosial. Ia adalah sinyal bahwa masyarakat semakin sensitif terhadap kalimat yang terdengar bijak tapi tidak berpijak, siapa pun atau &#8220;apa&#8221; pun yang mengucapkannya.<\/p>\n<p>Memperdebatkan siapa yang &#8220;benar&#8221; antara stoisisme dan kritik privilese, atau antara manusia dan mesin dalam urusan empati, bukan hal terpenting yang dibahas dalam tulisan ini. Hal yang lebih layak direnungkan adalah seberapa sering kepekaan sosial diukur hanya dari kefasihan bertutur kata, bukan dari maksud dan maknanya.<br \/>\n\u2014<\/p>\n<p><em>AAn.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pada 21 Agustus 2026, Maudy Ayunda mengunggah video di kanal YouTube-nya berjudul &#8220;Mindfulness in the Age of Bad News&#8221;. Isinya? Cara menjaga kewarasan di tengah derasnya kabar buruk. Video itu awalnya sepi-sepi saja selama tiga minggu, sampai tiba-tiba viral pada pertengahan September, tepat ketika negeri ini dihimpit berbagai kemalangan seperti erupsi gunung berapi, kebakaran hutan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":16,"featured_media":13575,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[77],"tags":[84,407,408,413,312,416,415,411,404,414,304,412,406,417,410,409,405],"class_list":["post-13843","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-articles","tag-binus-digital","tag-empati","tag-empati-ai","tag-habitus","tag-kecerdasan-buatan","tag-komunikasi-publik","tag-krisis-nasional","tag-kritik-sosial","tag-maudy-ayunda","tag-media-sosial","tag-mindfulness","tag-pierre-bourdieu","tag-privilese","tag-self-care","tag-stoisisme","tag-theory-of-mind","tag-tone-deaf"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13843","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/users\/16"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=13843"}],"version-history":[{"count":8,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13843\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":13851,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13843\/revisions\/13851"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/media\/13575"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=13843"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=13843"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=13843"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}