{"id":13832,"date":"2026-09-15T02:37:04","date_gmt":"2026-09-15T02:37:04","guid":{"rendered":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/?p=13832"},"modified":"2026-09-15T03:20:51","modified_gmt":"2026-09-15T03:20:51","slug":"menyoal-desain-vernakular-dan-ai","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/2026\/09\/15\/menyoal-desain-vernakular-dan-ai\/","title":{"rendered":"Menyoal Desain Vernakular dan AI"},"content":{"rendered":"<p>Sebuah laporan yang disusun dari wawancara terhadap seribu pemberi kerja di 55 negara baru-baru ini menempatkan desainer grafis pada posisi ke-11 dalam daftar profesi yang paling cepat menyusut dalam lima tahun ke depan. Angka ini berasal dari Future of Jobs Report 2025 yang dirilis oleh World Economic Forum, padahal dua tahun sebelumnya dalam edisi laporan yang sama, desainer grafis masih dikategorikan sebagai profesi yang tumbuh moderat. Satu siklus survei saja ternyata cukup untuk membalik status &#8220;aman&#8221; tersebut, dan kecerdasan buatan generatif dituding sebagai penyebab utamanya.<\/p>\n<p>Persoalan ini jauh lebih besar daripada sekadar nasib satu profesi. Ia menyentuh langsung wilayah yang selama satu abad terakhir dianggap sebagai benteng terakhir kreativitas manusia yang paling personal dan paling lokal: desain vernakular, yakni segala bentuk visual dan bangunan yang lahir dari tangan orang biasa, tanpa pendidikan formal, sebagai jawaban langsung (baca: spontan) atas kebutuhan lingkungan dan budaya setempat.<\/p>\n<p>Istilah vernakular memiliki sejarah intelektual yang jelas. Arsitek dan sejarawan sosial kelahiran Moravia, Bernard Rudofsky, memperkenalkannya melalui pameran Architecture Without Architects di MoMA, New York, pada tahun 1964. Rudofsky menyebut sejarah arsitektur yang diajarkan di dunia Barat selama ini hanya berurusan dengan segelintir kebudayaan terpilih, mengabaikan ribuan tradisi bangunan anonim yang justru menyimpan kecerdasan adaptif luar biasa terhadap iklim, material, dan struktur sosial setempat. Ia menyebut karya-karya itu sebagai arsitektur <em>non-pedigreed<\/em>, tanpa silsilah akademis, namun sarat pengetahuan praktis yang terkumpul lintas generasi.<\/p>\n<p>Antropolog dan arsitek Amos Rapoport memperdalam gagasan tersebut melalui House Form and Culture. Baginya, bentuk rumah dan artefak vernakular bukan sekadar respons teknis terhadap cuaca atau bahan yang tersedia. Bentuk itu mencerminkan sistem nilai, struktur keluarga, dan cara masyarakat memaknai ruang hidupnya. Rapoport menekankan satu hal yang penting untuk dipegang di tengah perdebatan soal AI hari ini: vernakular sejak awal adalah &#8220;desain rakyat&#8221;, dibuat oleh orang yang tidak pernah menyandang gelar desainer. Ia lahir dari kebutuhan dan diwariskan lewat praktik langsung di lapangan, jauh dari kurikulum sekolah desain mana pun.<\/p>\n<p>Justru dari titik itu muncul pertanyaan paling menggelitik. Kalau desain vernakular sejak dulu memang produk masyarakat awam, apa yang berubah ketika alat produksi visual yang dulunya membutuhkan keahlian teknis kini bisa dijalankan oleh siapa saja lewat <em>prompt<\/em> teks?<\/p>\n<p>Jawabannya terletak pada kecepatan dan keterjangkauan. Sejak model-model generatif seperti ChatGPT dan berbagai alat gambar berbasis AI tersedia gratis atau berbiaya sangat rendah mulai 2022 hingga 2023, jarak antara ide dan wujud visualnya runtuh. Survei Populix tahun 2023 mencatat 45 persen pekerja dan pelaku usaha di Indonesia telah menggunakan aplikasi AI untuk mendukung pekerjaan mereka. Sejumlah program pengabdian masyarakat di berbagai kampus, salah satunya pelatihan bagi pelaku UMKM, mendokumentasikan pergeseran ini dari dekat: pelaku usaha kecil yang sebelumnya tidak tahu cara membuat logo atau kemasan sendiri, kini bisa menghasilkan beberapa alternatif desain lewat AI dalam hitungan menit, lalu memilih mana yang paling sesuai dengan produk mereka.<\/p>\n<p>Di sinilah dua narasi mulai berhadapan, dan keduanya punya alasan yang sama kuatnya untuk dipertimbangkan sebelum ditarik ke dalam satu kesimpulan.<\/p>\n<p>Kelompok pertama melihat AI sebagai kelanjutan yang wajar dari sifat vernakular itu sendiri. Kalau menggunakan logika Rapoport, pelaku UMKM yang membuat logo sendiri lewat AI sedang melakukan hal yang persis sama dengan tukang kayu di pedesaan yang membangun rumah tanpa arsitek: memproduksi desain dengan alat yang tersedia, demi kebutuhan yang mendesak, tanpa mengklaim status sebagai seniman profesional. Bagi kelompok usaha kecil yang selama ini tidak punya anggaran untuk memakai jasa desainer, AI justru berfungsi sebagai alat yang mengembalikan kekuatan produksi visual ke tangan rakyat, persis seperti akar historisnya, jauh dari citra sebagai ancaman terhadap tradisi vernakular.<\/p>\n<p>Kelompok kedua, terutama para desainer grafis dan pekerja kreatif lepas, melihat sisi lain dari fenomena yang sama. Bagi mereka, pekerjaan seperti membuat logo UMKM, desain kemasan produk rumahan, atau materi promosi usaha kecil selama ini adalah pintu masuk pertama ke industri kreatif, ladang komisi kecil yang membiayai jam-jam belajar sebelum seorang desainer naik ke klien yang lebih besar. Ladang itu yang justru paling cepat diambil alih AI, sesuai dengan temuan Future of Jobs Report 2025 yang secara spesifik menyebut kapasitas AI dalam mengerjakan tugas pengetahuan dan kreatif sebagai pendorong utama penyusutan profesi ini. Ketika UMKM beralih dari memesan logo ke mengetik prompt, desainer pemula kehilangan tidak hanya satu proyek. Seluruh jalur masuk ke profesinya ikut lenyap.<\/p>\n<p>Dua pembacaan ini sama validnya, dan keduanya tidak saling meniadakan. Status vernakular sebagai desain rakyat tetap sama seperti sedia kala. Perantara antara kebutuhan dan hasil akhirnya itulah yang bergeser. Dulu perantara itu adalah desainer lokal yang memahami konteks budaya kliennya secara langsung. Sekarang perantara itu adalah model AI yang dilatih dari jutaan gambar tanpa memahami mengapa motif batik tertentu hanya dipakai untuk acara tertentu, atau mengapa warna dan pola ukiran daerah punya makna yang berbeda dari sekadar estetika.<\/p>\n<p>Hilangnya pekerjaan adalah risiko yang nyata dan berdampak langsung pada penghidupan seseorang. Ada risiko lain yang lebih besar: pengosongan makna. Rudofsky menekankan bahwa kekuatan arsitektur vernakular terletak pada kecerdasan kolektif yang terus diuji dan diwariskan lewat praktik nyata selama puluhan generasi. AI generatif bisa menghasilkan pola yang tampak vernakular dalam hitungan detik. Pola itu lahir dari statistik visual, sesuatu yang jauh berbeda dari pengalaman hidup dengan tanah, cuaca, dan upacara yang melahirkan motif aslinya. Ketika kurasi manusia yang memahami konteks itu hilang dari proses produksi, yang tersisa hanyalah cangkang visual vernakular tanpa akar yang menghidupinya.<\/p>\n<p>Pertanyaan yang tersisa bukan soal melarang atau merayakan AI dalam desain vernakular, karena keduanya sama-sama tidak akan menghentikan gejala yang semakin membesar ini. Pertanyaan yang lebih layak diajukan adalah siapa yang akan dipercaya untuk menjaga makna di balik kreativitas ini ketika mesin yang menghasilkannya tidak pernah benar-benar hidup dan menghidupi tempat kreativitas itu berasal.<br \/>\n\u2014<\/p>\n<p><em>AAn.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sebuah laporan yang disusun dari wawancara terhadap seribu pemberi kerja di 55 negara baru-baru ini menempatkan desainer grafis pada posisi ke-11 dalam daftar profesi yang paling cepat menyusut dalam lima tahun ke depan. Angka ini berasal dari Future of Jobs Report 2025 yang dirilis oleh World Economic Forum, padahal dua tahun sebelumnya dalam edisi laporan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":16,"featured_media":13733,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[77],"tags":[363,384,369,386,379,387,383,378,389,382,385,388,380,390,381],"class_list":["post-13832","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-articles","tag-aigeneratif","tag-aivstradisi","tag-binusdigital","tag-brandingbudaya","tag-budayavisual","tag-desainkontekstual","tag-desainnusantara","tag-desainvernakular","tag-digitalheritage","tag-identitasvisual","tag-kearifanlokal","tag-kreativitaslokal","tag-localwisdom","tag-visualculture","tag-warisandesain"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13832","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/users\/16"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=13832"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13832\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":13839,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13832\/revisions\/13839"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/media\/13733"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=13832"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=13832"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=13832"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}