{"id":11625,"date":"2024-09-24T02:17:31","date_gmt":"2024-09-24T02:17:31","guid":{"rendered":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/?p=11625"},"modified":"2024-09-24T02:22:54","modified_gmt":"2024-09-24T02:22:54","slug":"starlink-sebagai-alternatif-internet-di-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/2024\/09\/24\/starlink-sebagai-alternatif-internet-di-indonesia\/","title":{"rendered":"Starlink sebagai Alternatif Internet di Indonesia"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400\">Saat ini, internet satelit sedang menjadi topik pembicaraan yang hangat, terutama dengan perkembangan yang dipelopori oleh SpaceX, perusahaan teknologi antariksa yang didirikan oleh Elon Musk. Proyek mereka yang bernama Starlink bertujuan menyediakan layanan internet berkecepatan tinggi dan latensi rendah ke seluruh penjuru dunia, khususnya di daerah-daerah yang sulit dijangkau oleh infrastruktur internet tradisional seperti kabel atau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">fiber optic<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. Pada 19 Mei 2024, Starlink secara resmi diluncurkan di Indonesia, tepatnya di Bali. Dengan ini, Indonesia menjadi negara ketiga di Asia Tenggara yang mendapatkan layanan Starlink setelah Filipina dan Malaysia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Berdasarkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">website <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">resmi Starlink, untuk bisa mengakses internet secara pribadi menggunakan Starlink, pengguna perlu memasang perangkat Starlink seharga Rp7,8 juta. Adapun harga layanan standar per bulannya adalah Rp750 ribu. Cara pemasangannya hanya dengan dua langkah, yaitu pengguna perlu menyambungkan perangkat ke listrik dan mengarahkan perangkat tersebut ke langit. Posisi perangkat harus mengarah langsung ke langit dan tidak terhalang oleh apapun.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Di Indonesia, sebagian besar penyedia layanan internet tersedia di perkotaan, di mana infrastruktur jaringan lebih memadai. Di daerah terpencil, penyedia layanan internet menghadapi tantangan besar terkait biaya dan akses dalam membangun infrastruktur, seperti menara BTS (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Base Transceiver Station<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">). Starlink menawarkan solusi yang berbeda, memungkinkan akses internet di mana saja, termasuk di daerah terpencil, hanya dengan menggunakan perangkatnya tanpa memerlukan pembangunan infrastruktur tambahan yang kompleks. Hal ini menjadikan Starlink sebagai potensi besar dalam mengatasi kesenjangan digital di Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Akan tetapi, meskipun Starlink menawarkan akses yang luas dan kemudahan instalasi, internet <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">fiber optic<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> masih memiliki keunggulan dalam hal latensi yang lebih rendah. Hal ini membuat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">fiber optic<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> lebih cocok untuk aplikasi<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\"> real-time<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> seperti bermain <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">game <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">dan konferensi video. Sebaliknya, Starlink cukup andal untuk kegiatan seperti <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">browsing<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, menonton YouTube, dan mengunduh dokumen. Dengan jangkauannya yang luas, Starlink mampu melayani daerah-daerah yang selama ini sulit dijangkau oleh operator internet konvensional.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Dengan kehadiran Starlink, diharapkan akses internet di Indonesia dapat menjadi lebih merata, khususnya bagi masyarakat di daerah terpencil yang selama ini kesulitan mendapatkan layanan internet yang memadai. Meskipun demikian, pengguna harus mempertimbangkan kebutuhan spesifik mereka, terutama jika mereka memerlukan latensi yang sangat rendah untuk aplikasi tertentu. Seiring waktu, kombinasi teknologi seperti Starlink dan infrastruktur internet tradisional dapat bekerja sama untuk menyediakan akses internet yang lebih baik dan lebih luas bagi seluruh masyarakat Indonesia.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><b>Referensi<\/b><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400\">Elon Musk launches SpaceX\u2019s satellite internet service in Indonesia<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. (2024, May 20). CNN. <\/span><a href=\"https:\/\/www.cnn.com\/2024\/05\/20\/tech\/indonesia-elon-musk-starlink-launch-intl-hnk\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/www.cnn.com\/2024\/05\/20\/tech\/indonesia-elon-musk-starlink-launch-intl-hnk<\/span><\/a><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Septiani, L. (2024, May 13). Internet Starlink Capai 360 Mbps, Ini Beda dengan Operator Seluler. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Katadata<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. <\/span><a href=\"https:\/\/katadata.co.id\/digital\/teknologi\/6641c0e7b8089\/internet-starlink-capai-360-mbps-ini-beda-dengan-operator-seluler\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/katadata.co.id\/digital\/teknologi\/6641c0e7b8089\/internet-starlink-capai-360-mbps-ini-beda-dengan-operator-seluler<\/span><\/a><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400\">Starlink | Residensial<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. (n.d.). Starlink. <\/span><a href=\"https:\/\/www.starlink.com\/id\/residential\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/www.starlink.com\/id\/residential<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saat ini, internet satelit sedang menjadi topik pembicaraan yang hangat, terutama dengan perkembangan yang dipelopori oleh SpaceX, perusahaan teknologi antariksa yang didirikan oleh Elon Musk. Proyek mereka yang bernama Starlink bertujuan menyediakan layanan internet berkecepatan tinggi dan latensi rendah ke seluruh penjuru dunia, khususnya di daerah-daerah yang sulit dijangkau oleh infrastruktur internet tradisional seperti kabel [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":12023,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[77],"tags":[],"class_list":["post-11625","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-articles"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11625","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11625"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11625\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":12022,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11625\/revisions\/12022"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12023"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11625"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11625"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11625"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}