{"id":11192,"date":"2014-08-10T00:00:00","date_gmt":"2014-08-10T00:00:00","guid":{"rendered":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/2014\/08\/10\/the-psychological-speed-of-mobile-interfaces\/"},"modified":"2024-09-24T02:20:30","modified_gmt":"2024-09-24T02:20:30","slug":"the-psychological-speed-of-mobile-interfaces","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/2014\/08\/10\/the-psychological-speed-of-mobile-interfaces\/","title":{"rendered":"The \u201cPsychological\u201d Speed of Mobile Interfaces"},"content":{"rendered":"<p class=\"graf--p graf--first\">Salah satu pertimbangan yang penting dalam\u00a0membuat aplikasi \u00a0pada mobile adalah kecepatan aplikasi tersebut berinteraksi. Banyak pengguna mobile yang sangat bergantung dengan seberapa cepat respon aplikasi tersebut. Jika aplikasi kita memakan waktu yang lama dalam memberikan respon, maka mereka akan dengan segera menutup aplikasi kita.<\/p>\n<p class=\"graf--p graf--first\">Jadi bagaimana membuat sebuah aplikasi yang memiliki respon\u00a0yang\u00a0cepat? Berikut beberapa teknik yang digunakan oleh beberapa aplikasi favorit dalam memberikan respon yang cepat.<\/p>\n<p class=\"graf--p graf--first\">1. Instagram<\/p>\n<p class=\"graf--p graf--first\">Instagram merupakan salah satu aplikasi yang memiliki respon yang cepat ketika kita meng-upload gambar. Ketika kita mengambil sebuah foto atau memasukkan foto dari galeri\u00a0lalu mengeditnya sehingga terlihat bagus, secara diam-diam instagram sudah meng-upload foto kita. Berikutnya ketika kita sudah selesai meng-edit, akan muncul tulisan &#8220;Finishing Up&#8221; di atas kumpulan foto teman-teman kita. Dengan cepat instagram akan memunculkan foto yang sudah kita edit.<\/p>\n<p class=\"graf--p graf--first\">Itulah yang membuat instagram terasa memiliki respon yang cepat ketika kita melakukan posting.<\/p>\n<figure id=\"attachment_1567\" aria-describedby=\"figcaption_attachment_1567\" class=\"wp-caption clear aligncenter\" style=\"width: 451px\"><a href=\"http:\/\/dmd.binus.ac.id\/wp-content\/blogs.dir\/1\/files\/2014\/08\/1-W_JPzbhrHHYxBRy8XJA5_Q.png\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\"wp-image-1567 size-full\" src=\"http:\/\/dmd.binus.ac.id\/wp-content\/blogs.dir\/1\/files\/2014\/08\/1-W_JPzbhrHHYxBRy8XJA5_Q.png\" alt=\"Pesan Instagram \u201cFinishing up\u201d muncul ketika proses upload.\" width=\"451\" height=\"800\" \/><\/a><figcaption id=\"figcaption_attachment_1567\" class=\"wp-caption-text\">Pesan Instagram \u201cFinishing up\u201d muncul ketika proses upload.<\/figcaption><\/figure>\n<p class=\"graf--p graf--first\">2. Whatsapp Vs iMessage<\/p>\n<p class=\"graf--p graf--first\">Ketika kita mengirim pesan menggunakan whatsapp, dengan cepat whatsapp akan memunculkan tanda check berwarna hijau yang pertama (artinya pesan kita sudah terkirim) lalu disusul\u00a0tanda check yang ke dua (artinya pesan yang kita kirim sudah diterima oleh orang yang kita tuju). Whatsapp memunculkan tanda check yang pertama dengan cepat sehingga membuat kita merasakan respon pengiriman pesan yang sangat cepat. Padahal\u00a0ketika tanda check pertama muncul, belum tentu pesan kita sudah masuk\u00a0ke server whatsapp.<\/p>\n<figure id=\"attachment_1568\" aria-describedby=\"figcaption_attachment_1568\" class=\"wp-caption clear aligncenter\" style=\"width: 640px\"><a href=\"http:\/\/dmd.binus.ac.id\/wp-content\/blogs.dir\/1\/files\/2014\/08\/1-FyGAdSZNCgVwaCLFnLplA.png\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\"wp-image-1568 size-full\" src=\"http:\/\/dmd.binus.ac.id\/wp-content\/blogs.dir\/1\/files\/2014\/08\/1-FyGAdSZNCgVwaCLFnLplA.png\" alt=\"Tampilan 2 checkmark Whatsapp untuk indikator pesan dikirim dan diterima\" width=\"640\" height=\"237\" \/><\/a><figcaption id=\"figcaption_attachment_1568\" class=\"wp-caption-text\">Tampilan 2 checkmark Whatsapp untuk indikator pesan dikirim dan diterima<\/figcaption><\/figure>\n<p class=\"graf--p graf--first\">Sedangkan iMessage menggunakan cara yang berbeda dengan whatsapp. iMessage akan memunculkan bar proses pada bagian atas aplikasi ketika kita mengirim pesan. Jika kita melihat bar proses tiba-tiba bergerak lambat, maka dengan otomatis kita akan merasakan respon pengiriman yang menjadi pelan.<\/p>\n<figure id=\"attachment_1571\" aria-describedby=\"figcaption_attachment_1571\" class=\"wp-caption clear aligncenter\" style=\"width: 640px\"><a href=\"http:\/\/dmd.binus.ac.id\/wp-content\/blogs.dir\/1\/files\/2014\/08\/1-wQ0auiAEIS0JBGUGxze5fQ.png\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\"wp-image-1571 size-full\" src=\"http:\/\/dmd.binus.ac.id\/wp-content\/blogs.dir\/1\/files\/2014\/08\/1-wQ0auiAEIS0JBGUGxze5fQ.png\" alt=\"Bar proses dari iMessage menunjukkan bahwa pesan sedang dalam proses pengiriman\" width=\"640\" height=\"200\" \/><\/a><figcaption id=\"figcaption_attachment_1571\" class=\"wp-caption-text\">Bar proses dari iMessage menunjukkan bahwa pesan sedang dalam proses pengiriman<\/figcaption><\/figure>\n<p class=\"graf--p graf--first\">Jadi bisa saja kecepatan pengiriman pesan whatsapp dengan iMessage sama, namun whatsapp akan selalu terlihat memiliki respon yang sangat cepat dalam mengirim pesan.<\/p>\n<p class=\"graf--p graf--first\">3. Facebook dan Pinterest<\/p>\n<p class=\"graf--p graf--first\">Ada beberapa teknik\u00a0yang digunakan dalam menampilkan sebuah proses menunggu konten ditampilkan dengan sempurna. Salah satunya menggunakan gambar garis yang berputar tanpa henti sembari menunggu konten terisi dengan sempurna. Namun teknik tersebut akan menimbulkan kesan lambat karena yang kita lihat hanya gambar garis yang berputar. Namun Facebook dan Pinterest menggunakan teknik yang berbeda yaitu mereka menampilkan kerangka konten\u00a0terlebih dahulu. Lalu dengan cepat konten akan\u00a0mengisi kerangka tersebut. Itulah yang membuat mereka seolah-olah memiliki respon yang cepat.<\/p>\n<figure id=\"attachment_1569\" aria-describedby=\"figcaption_attachment_1569\" class=\"wp-caption clear aligncenter\" style=\"width: 451px\"><a href=\"http:\/\/dmd.binus.ac.id\/wp-content\/blogs.dir\/1\/files\/2014\/08\/1-hSYfv3vUEdZT3s8n7nyY-w.png\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\"wp-image-1569 size-full\" src=\"http:\/\/dmd.binus.ac.id\/wp-content\/blogs.dir\/1\/files\/2014\/08\/1-hSYfv3vUEdZT3s8n7nyY-w.png\" alt=\"Facebook Paper app skeleton\" width=\"451\" height=\"800\" \/><\/a><figcaption id=\"figcaption_attachment_1569\" class=\"wp-caption-text\">Facebook Paper app skeleton<\/figcaption><\/figure>\n<figure id=\"attachment_1570\" aria-describedby=\"figcaption_attachment_1570\" class=\"wp-caption clear aligncenter\" style=\"width: 451px\"><a href=\"http:\/\/dmd.binus.ac.id\/wp-content\/blogs.dir\/1\/files\/2014\/08\/1-NULhhhLtw9nz3RhmbkR2Bw.png\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\"wp-image-1570 size-full\" src=\"http:\/\/dmd.binus.ac.id\/wp-content\/blogs.dir\/1\/files\/2014\/08\/1-NULhhhLtw9nz3RhmbkR2Bw.png\" alt=\"Pinterest color matching skeleton\" width=\"451\" height=\"800\" \/><\/a><figcaption id=\"figcaption_attachment_1570\" class=\"wp-caption-text\">Pinterest color matching skeleton<\/figcaption><\/figure>\n<p class=\"graf--p graf--first\">Sumber artikel :<\/p>\n<p class=\"graf--p graf--first\"><a href=\"https:\/\/medium.com\/ui-collection\/the-psychological-speed-of-mobile-interfaces-df25276295dd\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">https:\/\/medium.com\/ui-collection\/the-psychological-speed-of-mobile-interfaces-df25276295dd<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Salah satu pertimbangan yang penting dalam\u00a0membuat aplikasi \u00a0pada mobile adalah kecepatan aplikasi tersebut berinteraksi. Banyak pengguna mobile yang sangat bergantung dengan seberapa cepat respon aplikasi tersebut. Jika aplikasi kita memakan waktu yang lama dalam memberikan respon, maka mereka akan dengan segera menutup aplikasi kita. Jadi bagaimana membuat sebuah aplikasi yang memiliki respon\u00a0yang\u00a0cepat? Berikut beberapa teknik [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":9,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[77],"tags":[],"class_list":["post-11192","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-articles"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11192","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/users\/9"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11192"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11192\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":12013,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11192\/revisions\/12013"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11192"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11192"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11192"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}