{"id":10752,"date":"2020-12-20T00:00:00","date_gmt":"2020-12-20T00:00:00","guid":{"rendered":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/2020\/12\/20\/abadi-dan-obsesi-manusia-akan-keabadian\/"},"modified":"2024-09-24T02:20:16","modified_gmt":"2024-09-24T02:20:16","slug":"abadi-dan-obsesi-manusia-akan-keabadian","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/2020\/12\/20\/abadi-dan-obsesi-manusia-akan-keabadian\/","title":{"rendered":"Abadi dan Obsesi Manusia akan Keabadian"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400\">Jika mendengar sebuah kata \u201cabadi\u201d maka persepsi mengenai sebuah keabadian adalah dapat hidup selamanya, abadi sepanjang zaman. Abadi sendiri memiliki arti kekal,dan bahkan sejarah sempat mencatat bahwa ada beberapa pemimpin Negara yang berambisi menjadi abadi, sebut saja\u00a0 pemimpin yang bernama Qing Shin Huang yang memerintah Negeri China pada 246 SM \u2013 210 SM.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Kaisar Qing merupakan kaisar pertama dari Negara Qin dan juga dianggap sebagai pendiri dari Tiongkok. Kaisar Qing disebutkan dalam sejarah bahwa pencapaiannya dalam memerintah membawa perubahan \u2013 perubahan besar di Cina pada saat itu. Semua peraturan dan tata kelola pemerintahan diaturnya dengan baik, sebutlah tembok besar China yang termasyhur dan makam dengan pasukan terracotta pun masih abadi hingga hari ini. Namun, kaisar Qing rupanya memiliki persepsi sendiri mengenai keabadian. Ketika kaisar Qin memasuki\u00a0 pertengahan usianya dia mulai merasa ketakutan akan ketidak abadian (baca kematian). Kaisar Qin pun terobsesi untuk menjadi \u201cabadi\u201d dalam persepsinya dengan memperpanjang hidupnya. Tak tanggung &#8211; tanggung, sebuah perintah ia keluarkan untuk mencari \u201cobat abadi\u201d supaya menjadikannya hidup abadi selamanya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Disebutkan juga dalam sejarah, ternyata tabib istana kerajaan membuat obat abadi\u00a0 yang kandungannya sendiri sangat berbahaya. Ramuan tersebut mengandung logam yang kala itu dipandang sangat istimewa yakni merkuri. Merkuri merupakan logam berat yang apabila terpapar terlebih dalam jangka panjang dapat membahayakan tubuh seseorang. Obat ajaib yang dibuat ini sejatinya dipercaya aja memberikan keabadian justru bekerja sebaliknya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Selain Kaisar Qin yang terobsesi akan keabadian, disebutkan juga seorang bangsawan Inggris bernama Elizabeth B\u00e0thory juga memiliki obsesi keabadian yang semu. Elizabeth B\u00e0thory merupakan bangsawan tinggi Kerajaan Hungaria dan dikenal sebagai \u201cCountess Berdarah\u201d. Elizabeth B\u00e0thory terobsesi menjadi wanita dengan kecantikan yang abadi. Usaha Elizabeth B\u00e0thory untuk menjadikan dirinya abadi terbilang cukup sadis.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Elizabeth B\u00e0thory menggunakan darah perawan yang dijadikan sebagai air rendaman dalam bak mandi sang bangsawan. Ia meyakini darah gadis \u2013 gadis muda itu akan membuatnya memancarkan kecantikan yang abadi. Sungguh tragis, setiap Elizabeth membantai ratusan gadis hanya untuk memenuhi obsesinya. Di akhir hidupnya Elizabeth B\u00e0thory dikurung dan mati di kastil tempat ia menyiksa gadis \u2013 gadis muda yang akan diambil darahnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Dari kedua kisah tersebut, keabadian sejati seharusnya hal yang akan terus kekal akan terus dikenang hingga akhir zaman. Lantas keabadian macam apa itu? Keabadian hakiki semacam itu dapat saja terjadi, sebuah tulisan merupakan salah satu contoh karya manusia yang abadi dan akan terus dikenang sepanjang kehidupan manusia selama isi dari tulisan itu masih bisa dibaca oleh manusia \u2013 manusia lain baik pada masa penulisnya masih hidup ataupun beribu tahun setelahnya. Karyanya akan tetap abadi dikenang dalam sejarah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Tentu masih lekat dalam ingatan ketika mempelajari sejarah di bangku sekolah dasar, bahwa ide pokok dari rumusan Pancasila merupakan hasil dari tulisan dalam kitab negarakertagama yang ditulis ribuan tahun sebelum Pancasila diikrarkan sebagai falsafah negara. Pengetahuan dan cerita bahkan karya sastra dari ratusan dan ribuan tahun lalu pun masih bisa dinikmati hingga saat ini. Lalu bagaimana karya \u2013 karya tersebut bisa dinikmati? Lewat tulisan, semua karya \u2013 karya tersebut bisa diketahui dan dipelajari karena pengetahuan yang ditulis. Tulisan merupakah hal yang sangat menakjubkan, lewat tulisan seluruh manusia di zaman yang berbeda bisa sama sama mempelajarinya. Tulisan yang membuat keabadian. Tulisanmu bentuk keabadianmu hidup di dunia.\u00a0<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jika mendengar sebuah kata \u201cabadi\u201d maka persepsi mengenai sebuah keabadian adalah dapat hidup selamanya, abadi sepanjang zaman. Abadi sendiri memiliki arti kekal,dan bahkan sejarah sempat mencatat bahwa ada beberapa pemimpin Negara yang berambisi menjadi abadi, sebut saja\u00a0 pemimpin yang bernama Qing Shin Huang yang memerintah Negeri China pada 246 SM \u2013 210 SM.\u00a0 Kaisar Qing [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":6,"featured_media":10753,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[77],"tags":[],"class_list":["post-10752","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-articles"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10752","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=10752"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10752\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":11813,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10752\/revisions\/11813"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/media\/10753"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10752"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=10752"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/binus.ac.id\/binus-digital\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=10752"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}