Empat September lalu, seorang profesor matematika dari Universitas Nanjing menulis sebuah unggahan yang membuat lini masa di Tiongkok terbelah. Tang Jiafeng, yang dikenal luas lewat kelas bimbingan ujian masuk pascasarjana, menyerukan agar bahasa Inggris dicopot dari status sebagai mata pelajaran inti di seluruh jenjang pendidikan, dari sekolah dasar hingga universitas. Pemicunya bukan sentimen mendadak. Beberapa hari sebelumnya, Departemen Pendidikan Provinsi Liaoning mengumumkan penghapusan sejarah, geografi, dan biologi sebagai mata pelajaran penentu kelulusan SMA demi meringankan beban siswa. Tang kecewa. Menurutnya, yang seharusnya dicopot lebih dulu adalah bahasa Inggris, pelajaran yang ia sebut “sebagian besar tidak ada hubungannya dengan pekerjaan” setelah siswa lulus sekolah.
Perdebatan semacam ini terasa akrab. Tapi konteksnya sekarang berbeda dibandingkan—katakan—sepuluh tahun lalu. Ada mesin penerjemah berbasis AI yang bekerja hampir seketika, dan hal ini mengubah cara publik China berargumen tentang fungsi bahasa asing dalam pendidikan.
Polemik ini punya konteks yang jauh lebih tua daripada unggahan viral Tang. China mewajibkan bahasa Inggris di sekolah dasar dan menengah pada 2001, tahun yang sama ketika negara itu secara resmi bergabung dengan Organisasi Perdagangan Dunia. Saat itu, penguasaan bahasa Inggris dipandang sebagai bagian dari strategi nasional untuk membuka diri kepada dunia. Dua dekade kemudian, arah angin berubah. Shanghai melarang ujian akhir bahasa Inggris di sekolah dasar pada 2021 dengan alasan untuk meringankan beban akademik. Universitas Jiaotong Xi’an menghapus syarat tes bahasa Inggris untuk kelulusan sarjana pada 2023, sebuah keputusan yang disambut gegap gempita oleh kalangan nasionalis di media sosial. Setiap kali kebijakan semacam ini muncul, dua narasi selalu dibenturkan: efisiensi belajar dan kebangkitan identitas kultural yang menolak dominasi Barat.
Bagian yang lebih menarik dari perdebatan tahun ini datang bukan dari Nanjing, melainkan Shenzhen. Presiden Universitas Teknologi Lanjutan Shenzhen, Zhao Wei, mengumumkan lewat video pada awal Juli bahwa kampusnya akan menjalankan program rintisan mulai 2026: kelas bahasa Inggris konvensional akan dihapus secara bertahap, digantikan dengan modul komunikasi antarbudaya. Alasan yang dia kemukakan spesifik dan berbeda dari argumen Tang. Zhao berpendapat bahwa ketika manusia bisa berbicara dalam bahasa ibu masing-masing dan AI langsung menerjemahkannya secara real-time, persepsi tentang fungsi bahasa asing pun turut berubah. Keterampilan yang perlu diprioritaskan bukan lagi kosakata dan tata bahasa, melainkan kemampuan memahami budaya lain, berperilaku pantas dalam konteks lintas budaya, serta membangun kepercayaan di lingkungan multinasional. Zhao menegaskan bahwa AI bisa membantu urusan penerjemahan, tetapi tidak bisa menggantikan manusia dalam situasi yang menuntut empati, pertimbangan, dan etika.
Argumen Zhao ini layak dibaca dengan mempertimbangkan dua kemungkinan sekaligus. Pembacaan pertama menempatkan AI sebagai pengganti fungsi bahasa asing itu sendiri: kalau mesin sudah bisa menerjemahkan seketika, upaya bertahun-tahun menghafal grammar dan vocabulary menjadi investasi yang tidak sepadan. Pembacaan kedua menempatkan AI sebagai pengganti sebagian fungsi bahasa asing, sementara sisanya justru menuntut kompetensi baru yang lebih mendalam. Riset yang dipublikasikan di European Journal of Education tahun ini oleh Kruk dan timnya membandingkan mahasiswa yang belajar menerjemahkan dengan bantuan AI, mesin penerjemah biasa, dan metode manual. Hasilnya tidak sesederhana “AI membuat orang malas belajar bahasa.” Alat AI memang mendorong motivasi pada kelompok yang menggunakannya, tetapi sebagian peserta juga mengungkap kekhawatiran tentang ketergantungan berlebihan yang justru menurunkan keterlibatan mereka terhadap materi. Program di Shenzhen tampaknya berpijak pada pembacaan kedua ini: bukan menghapus kebutuhan untuk berkomunikasi lintas bahasa, melainkan menggeser bebannya dari penguasaan gramatikal ke kompetensi kultural yang belum bisa dikerjakan oleh mesin.
Yu Xiaoyu, peneliti doktoral linguistik di Universitas Hong Kong, memiliki catatan penting terkait hal ini. Ketika ujian bahasa Inggris dilonggarkan sebagai syarat kelulusan, minat pemuda China untuk benar-benar belajar bahasa itu cenderung menurun, meski manfaat bahasa Inggris di dunia kerja sama sekali tidak berkurang. Ada jarak antara apa yang diukur oleh sistem pendidikan dan apa yang sebenarnya dibutuhkan pasar kerja. Kalau motivasi belajar sepenuhnya bergantung pada tekanan ujian, melonggarkan ujian berarti melonggarkan motivasi, sekalipun kebutuhan riil terhadap keterampilan itu tetap sama besarnya.
Dampaknya paling terasa pada siswa yang sedang menyiapkan Gaokao, ujian masuk perguruan tinggi yang selama ini menempatkan bahasa Inggris setara bobotnya dengan bahasa Mandarin dan matematika, maksimal 150 poin dari total nilai. Bagi keluarga kelas menengah yang menaruh harapan besar pada nilai bahasa Inggris anak mereka sebagai jalan mobilitas sosial, pelonggaran ini mengubah kalkulasi jangka panjang: sumber daya dan waktu yang dulu dicurahkan untuk les dan bimbingan bahasa Inggris kini bisa dialihkan. Meskipun belum jelas benar ke arah kompetensi apa penggantinya di pasar kerja lima sampai sepuluh tahun ke depan.
Bagi industri media dan komunikasi, perdebatan ini menggema lebih kuat dari sekadar persoalan kurikulum di Tiongkok. Kalau penerjemahan real-time makin dipercaya untuk urusan transaksional, sementara kompetensi kultural dan pembangunan kepercayaan tetap jadi domain manusia, itu berarti nilai profesi komunikasi justru bergeser ke arah yang lebih sulit diotomatisasi: kepekaan konteks, kemampuan membaca nuansa, keahlian menavigasi perbedaan nilai antarbudaya. Sekolah dan kampus yang hanya mengejar penghematan beban belajar tanpa merancang pengganti yang serius berisiko melahirkan lulusan yang cakap secara transaksional lewat bantuan mesin, tapi rapuh justru di kompetensi unik manusia.
Perdebatan Tang, Zhao, dan Yu pada akhirnya menyisakan pertanyaan yang belum punya jawaban pasti: ketika mesin bisa menerjemahkan kata demi kata, apakah yang tersisa untuk dipelajari manusia justru lebih penting dari sekadar bahasa itu sendiri? China sedang menjalankan eksperimen besar untuk menjawabnya, dan hasilnya baru akan terlihat pada generasi yang lulus sekolah tanpa pernah merasakan tekanan menghafal grammar seperti generasi sebelumnya.
—
AAn.