Pernahkah Anda membuka sebuah aplikasi untuk menyelesaikan satu tugas sederhana, tetapi justru disambut oleh terlalu banyak informasi? Ada menu, notifikasi, tips, rekomendasi, hingga fitur tambahan yang sebenarnya belum dibutuhkan.
Bukannya membantu, tampilan seperti ini justru dapat membuat pengguna bingung dan kehilangan fokus.
Kondisi tersebut sering muncul ketika sebuah produk terus berkembang. Setiap fitur baru dianggap penting, sehingga semuanya ingin ditampilkan di layar utama. Perlahan, antarmuka menjadi semakin padat dan pengguna harus memilah sendiri informasi mana yang benar-benar relevan bagi mereka.
Dalam UX, terdapat prinsip yang disebut progressive disclosure. Prinsip ini membantu desainer menyajikan informasi dan fitur secara bertahap, sesuai dengan kebutuhan pengguna pada setiap tahap interaksi.
Menurut Nielsen Norman Group, progressive disclosure bertujuan untuk mengurangi cognitive load atau beban kognitif tanpa menghilangkan kemampuan sebuah sistem.
Artinya, informasi tidak benar-benar disembunyikan. Informasi tersebut tetap tersedia, tetapi baru ditampilkan ketika memang dibutuhkan. Dengan begitu, pengguna dapat berfokus pada tugas utama terlebih dahulu sebelum berhadapan dengan pilihan atau pengaturan yang lebih kompleks.
Bagaimana Progressive Disclosure Diterapkan?
Salah satu contoh yang mudah ditemukan adalah proses pencarian penginapan di Airbnb.
Pada tahap awal, pengguna hanya perlu memasukkan informasi utama, seperti lokasi, tanggal menginap, dan jumlah tamu. Setelah itu, Airbnb akan menampilkan daftar properti yang sesuai dengan pencarian tersebut.
Pilihan yang lebih spesifik, seperti tipe properti, fasilitas, kebijakan pembatalan, jumlah kamar, atau rentang harga, ditempatkan di dalam menu filter. Informasi tersebut tidak langsung memenuhi layar karena belum tentu dibutuhkan oleh semua pengguna.
Pengguna yang hanya ingin melakukan pencarian sederhana dapat langsung melanjutkan. Sementara itu, pengguna dengan kebutuhan yang lebih spesifik tetap dapat membuka filter lanjutan.
Pendekatan serupa juga terlihat pada Figma.
Walaupun memiliki banyak fitur untuk mendukung proses desain, Figma tidak menampilkan seluruh pengaturan dalam satu area kerja. Panel prototyping, pengaturan variables, konfigurasi component properties, dan berbagai opsi untuk mengelola design system baru muncul ketika pengguna memilih objek atau membuka panel yang berkaitan.
Pengguna baru tidak langsung dihadapkan pada seluruh kompleksitas produk. Di sisi lain, pengguna berpengalaman tetap dapat mengakses fitur yang lebih mendalam ketika membutuhkannya.
Inilah inti dari progressive disclosure: memberikan akses terhadap fitur yang kompleks tanpa membuat pengalaman terasa rumit sejak awal.
Relevansinya untuk Website Institusi dan Platform Pembelajaran
Prinsip ini juga sangat relevan untuk website institusi dan platform pembelajaran.
Bayangkan sebuah dashboard mahasiswa yang langsung menampilkan seluruh informasi akademik, administrasi, keuangan, organisasi, kegiatan kampus, layanan pendukung, dan berbagai pengumuman dalam satu halaman.
Bagi institusi, semua informasi tersebut mungkin dianggap penting. Namun, bagi mahasiswa, belum tentu semuanya dibutuhkan pada saat yang sama.
Ketika terlalu banyak informasi ditampilkan sekaligus, pengguna harus bekerja lebih keras untuk menemukan hal yang sedang mereka cari. Informasi penting, seperti jadwal kuliah hari ini atau tugas yang mendekati tenggat waktu, justru berisiko tenggelam di antara konten lainnya.
Dashboard akan terasa lebih membantu apabila informasi ditampilkan berdasarkan prioritas, misalnya:
- Jadwal kuliah hari ini
- Tugas yang segera berakhir
- Pengumuman terbaru
- Status administrasi yang membutuhkan tindakan
Informasi lainnya tetap dapat diakses melalui menu, tab, halaman lanjutan, atau tombol untuk melihat detail.
Dengan pendekatan ini, dashboard tidak hanya menjadi tempat untuk menampung informasi, tetapi benar-benar membantu pengguna memahami apa yang perlu mereka lakukan terlebih dahulu.
Menentukan Kapan Informasi Perlu Muncul
Sebagai desainer, kita sering merasa bahwa semua informasi penting harus terlihat sejak awal. Ada kekhawatiran bahwa pengguna tidak akan menemukannya jika informasi tersebut tidak langsung ditampilkan.
Namun, sesuatu yang penting bagi sistem belum tentu penting bagi pengguna pada saat itu.
Karena itu, tantangan dalam merancang antarmuka bukan hanya menentukan informasi apa yang perlu ditampilkan. Kita juga perlu memikirkan kapan, di mana, dan dalam konteks apa informasi tersebut sebaiknya muncul.
Sebagai contoh, pengguna tidak perlu melihat penjelasan lengkap tentang metode pembayaran sebelum memilih produk atau layanan. Pengaturan lanjutan juga tidak harus ditampilkan sebelum pengguna mengaktifkan fitur yang berkaitan.
Informasi akan terasa lebih berguna ketika hadir pada waktu yang tepat.
Ketika progressive disclosure diterapkan dengan baik, pengguna tidak akan merasa bahwa sistem membatasi mereka. Sebaliknya, mereka akan merasa bahwa sistem memahami apa yang sedang mereka lakukan dan memberikan informasi sesuai kebutuhan.
Apa yang Bisa Kita Terapkan?
- Tampilkan informasi berdasarkan prioritas.
Identifikasi tugas utama pengguna pada setiap halaman. Pastikan informasi dan tindakan yang mendukung tugas tersebut muncul terlebih dahulu. - Tempatkan fitur lanjutan di area yang mudah ditemukan.
Fitur kompleks tidak harus selalu terlihat, tetapi tetap perlu mudah diakses. Gunakan menu lanjutan, panel tambahan, tab, atau tombol seperti “Lihat lainnya” dan “Pengaturan lanjutan”. - Terapkan pengungkapan bertahap pada formulir.
Jangan langsung menampilkan seluruh pertanyaan. Tampilkan kolom lanjutan hanya ketika jawaban pengguna membuat kolom tersebut relevan. Sebagai contoh, kolom alamat perusahaan baru perlu muncul ketika pengguna memilih jenis akun bisnis. - Jangan memenuhi dashboard dengan semua informasi.
Dashboard sebaiknya membantu pengguna memahami kondisi terkini dan tindakan berikutnya, bukan menjadi salinan dari seluruh struktur menu yang tersedia. - Gunakan konteks untuk menentukan waktu kemunculan informasi.
Tampilkan bantuan, peringatan, rekomendasi, atau pengaturan ketika pengguna sedang melakukan aktivitas yang berkaitan. - Uji relevansi setiap informasi.
Tanyakan apakah pengguna benar-benar membutuhkan informasi tersebut pada tahap itu. Jika tidak, pertimbangkan untuk memindahkannya ke langkah berikutnya atau halaman detail.
Pada akhirnya, antarmuka yang baik bukanlah antarmuka yang menunjukkan seluruh kemampuan sebuah sistem.
Antarmuka yang baik membantu pengguna memahami apa yang perlu dilakukan saat ini, tanpa membebani mereka dengan informasi yang belum relevan.
Dengan menyajikan informasi secara bertahap, pengguna dapat bergerak dengan lebih percaya diri, memahami pilihan yang tersedia, dan menyelesaikan tugas tanpa merasa kewalahan.
Referensi
- Nielsen Norman Group. Progressive Disclosure: Definition and Examples
https://www.nngroup.com/articles/progressive-disclosure/ - Interaction Design Foundation. Progressive Disclosure
https://www.interaction-design.org/literature/topics/progressive-disclosure - Material Design
https://m3.material.io/