Pernahkah Anda membuka sebuah website atau aplikasi untuk melakukan sesuatu yang sederhana, tetapi malah berhenti karena bingung harus memilih menu yang mana?
Semakin lama melihat layar, semakin banyak tombol, banner, dan pilihan yang harus dipertimbangkan. Tugas yang seharusnya selesai dalam beberapa klik akhirnya terasa lebih rumit daripada yang dibayangkan.
Kondisi seperti ini cukup sering ditemukan pada produk digital yang terus berkembang. Setiap kali ada fitur baru, fitur tersebut dianggap penting dan perlu ditampilkan agar mudah ditemukan. Namun, ketika semua hal diberi perhatian yang sama, pengguna justru harus bekerja lebih keras untuk menentukan mana yang benar-benar mereka butuhkan.
Dalam UX, fenomena ini dapat dijelaskan melalui Hick’s Law. Prinsip yang diperkenalkan oleh psikolog William Edmund Hick dan Ray Hyman pada 1952 ini menjelaskan bahwa waktu yang dibutuhkan seseorang untuk mengambil keputusan akan bertambah seiring meningkatnya jumlah dan kompleksitas pilihan.
Sederhananya, semakin banyak pilihan yang harus dibandingkan, semakin lama pula pengguna menentukan tindakan berikutnya.
Namun, Hick’s Law bukan berarti kita harus memangkas semua pilihan hingga sebuah sistem kehilangan fungsinya. Tantangan bagi desainer adalah mengatur bagaimana pilihan tersebut ditampilkan agar lebih mudah dipahami.
Interaction Design Foundation menjelaskan bahwa desainer perlu membantu pengguna menemukan pilihan yang paling relevan pada saat dibutuhkan. Artinya, pilihan tetap dapat tersedia secara lengkap, tetapi tidak semuanya harus muncul secara bersamaan.
Bukan Hanya Jumlah, tetapi Juga Kompleksitas
Hal lain yang sering terlewat adalah tingkat kemiripan antar pilihan.
Lima pilihan dengan fungsi yang jelas dan berbeda biasanya lebih mudah dipahami dibandingkan lima pilihan yang tampak hampir sama. Ketika pengguna harus membaca setiap opsi dengan teliti hanya untuk mengetahui perbedaannya, proses pengambilan keputusan akan menjadi lebih lambat.
Bayangkan sebuah formulir dengan beberapa tombol yang menggunakan istilah seperti “Simpan”, “Simpan Perubahan”, “Simpan dan Lanjutkan”, serta “Simpan sebagai Draf”. Meskipun jumlah pilihannya tidak terlalu banyak, kemiripan di antara pilihan tersebut membuat pengguna perlu berhenti dan berpikir sebelum menekan tombol.
Karena itu, mengurangi beban pengguna tidak selalu berarti mengurangi jumlah menu. Terkadang, yang lebih penting adalah memperjelas perbedaan, fungsi, dan konsekuensi dari setiap pilihan.
Bagaimana Produk Digital Mengelola Banyak Pilihan?
Kita dapat melihat penerapan prinsip ini pada layanan seperti Spotify.
Spotify memiliki jutaan lagu dan podcast, tetapi aplikasi tersebut tidak menampilkan seluruh koleksinya dalam satu halaman. Konten disusun berdasarkan kebiasaan dan konteks pengguna melalui bagian seperti Recently Played, Made for You, dan Your Top Mixes.
Pengguna tetap memiliki akses ke katalog yang sangat luas. Namun, mereka tidak harus mempertimbangkan jutaan pilihan setiap kali membuka aplikasi. Spotify mempersempit pilihan awal dengan menampilkan konten yang kemungkinan paling relevan.
Pendekatan serupa juga digunakan oleh Netflix. Dengan ribuan film dan serial, Netflix tidak menyusun seluruh katalognya dalam satu daftar panjang. Konten dikelompokkan berdasarkan genre, riwayat tontonan, tren, serta rekomendasi personal.
Pilihan yang diberikan tetap banyak, tetapi disajikan dalam kelompok yang lebih mudah dipindai. Dengan begitu, pengguna dapat membuat keputusan secara bertahap tanpa merasa harus memahami seluruh katalog sekaligus.
Relevansinya untuk Platform Pendidikan
Prinsip yang sama juga penting untuk website institusi dan platform pendidikan.
Dashboard mahasiswa, misalnya, dapat berkembang menjadi pusat berbagai layanan. Di dalamnya terdapat jadwal kuliah, tugas, nilai, pembayaran, forum, kegiatan organisasi, administrasi akademik, hingga layanan pendukung lainnya.
Masalah muncul ketika semua menu ditampilkan dengan tingkat kepentingan yang sama. Pengguna harus mencari sendiri informasi yang paling relevan, meskipun kebutuhan mereka sebenarnya dapat diprediksi berdasarkan konteks.
Saat mendekati jadwal perkuliahan, mahasiswa mungkin lebih membutuhkan informasi kelas. Menjelang tenggat, tugas yang harus dikumpulkan seharusnya menjadi lebih menonjol. Setelah ujian, informasi mengenai nilai dapat memperoleh prioritas lebih tinggi.
Sistem tidak harus menghilangkan menu lainnya. Namun, sistem dapat membantu pengguna dengan menampilkan informasi yang paling dibutuhkan terlebih dahulu.
Desainer Tidak Harus Memberikan Semua Pilihan Sekaligus
Sebagai desainer, kita terkadang merasa bahwa setiap fitur layak mendapatkan perhatian yang sama. Apalagi jika setiap fitur memiliki pemilik, kebutuhan bisnis, atau kepentingan tersendiri.
Namun, pengguna tidak datang untuk mempelajari seluruh kemampuan sebuah sistem. Mereka datang dengan tujuan tertentu dan berharap dapat menyelesaikannya secepat mungkin.
Karena itu, tugas desainer bukan sekadar memastikan semua fitur terlihat. Tugas desainer adalah mengatur prioritas, mengurangi keputusan yang tidak perlu, dan membantu pengguna memahami langkah berikutnya.
Menyederhanakan pengalaman juga bukan berarti mengurangi kemampuan sistem. Sebuah produk dapat tetap memiliki banyak fitur, selama fitur tersebut disusun dalam hierarki yang jelas dan ditampilkan sesuai kebutuhan pengguna.
Pada akhirnya, kualitas sebuah produk digital tidak hanya ditentukan oleh banyaknya pilihan yang tersedia. Pengguna lebih mengingat seberapa mudah mereka memahami layar, mengambil keputusan, dan menyelesaikan tugas.
Memberikan banyak pilihan mungkin terlihat seperti memberi kebebasan. Namun, menyajikan pilihan yang tepat pada waktu yang tepat sering kali justru menghasilkan pengalaman yang lebih baik.
Apa yang Bisa Kita Terapkan?
- Prioritaskan tujuan utama pengguna.
Identifikasi tugas yang paling sering atau paling penting dilakukan, lalu tempatkan tugas tersebut pada area yang mudah ditemukan. - Kelompokkan pilihan yang berkaitan.
Gunakan kategori, tab, atau hierarki informasi agar pengguna tidak harus membandingkan terlalu banyak opsi dalam satu waktu. - Kurangi kompleksitas, bukan hanya jumlah pilihan.
Pastikan setiap opsi memiliki fungsi, label, dan konsekuensi yang jelas sehingga mudah dibedakan dari opsi lainnya. - Tampilkan pilihan berdasarkan konteks.
Tidak semua menu perlu ditampilkan secara bersamaan. Informasi dapat disesuaikan berdasarkan peran pengguna, tahapan proses, aktivitas terbaru, atau waktu tertentu. - Gunakan progressive disclosure.
Tampilkan informasi utama terlebih dahulu, kemudian hadirkan detail atau fungsi lanjutan ketika pengguna membutuhkannya. - Tentukan hierarki CTA yang jelas.
Hindari menampilkan terlalu banyak tombol utama dalam satu layar. Pilih satu tindakan utama dan jadikan tindakan lain sebagai pilihan sekunder. - Evaluasi struktur saat fitur bertambah.
Setiap penambahan fitur sebaiknya diikuti dengan evaluasi terhadap navigasi dan hierarki informasi. Jangan hanya menambahkan menu baru ke struktur lama.
Desain yang baik bukanlah desain yang menawarkan pilihan sebanyak mungkin. Desain yang baik membantu pengguna memahami apa yang perlu dilakukan dan mengambil keputusan dengan percaya diri.
Ketika pilihan disusun secara tepat, pengguna tidak merasa dibatasi. Mereka justru merasa bahwa sistem memahami apa yang sedang ingin mereka selesaikan.
Referensi
- Interaction Design Foundation. Hick’s Law
https://www.interaction-design.org/literature/topics/hick-s-law - Interaction Design Foundation. Hick’s Law: Making the Choice Easier for Users
https://www.interaction-design.org/literature/article/hick-s-law-making-the-choice-easier-for-users - The Decision Lab. Hick’s Law
https://thedecisionlab.com/reference-guide/design/hicks-law